
Setelah berhasil mengalahkan Manusia Iblis, Chen Li lantas bergegas menuju tempat di mana ia meninggalkan pamannya.
Sesampainya di sana, ia langsung di sambut dengan pemandangan yang tak mengenakan. Dimana, semua orang yang sebelumnya sempat kesurupan, kini telah sadar, namun yang menjadi masalahnya adalah, semuanya mengalami sakit di badan mereka.
Sesaat ia pun berpikir bahwa mereka ternyata akan merasakan efek dari pertarungan tadi saat mereka sadar.
"Lu! menurut mu, bagaimana cara menyembuhkan mereka?"
"Kau hanya perlu menggunakan air panas untuk menyembuhkan mereka Li!"
"Iya juga yah, kenapa tak terpikirkan olehku sebelumnya."
Chen Li kemudian mengeluarkan dua kendi dari dalam cincin ruangnya. Satu kendi ia berikan kepada Wan Li, sedang kendi satunya untuk dirinya. Kendi-kendi itu berisi air panas yang akan ia gunakan untuk menyembuhkan mereka.
Chen Li mulai mengucuri air panas satu persatu pada orang-orang yang sebelumnya kerasukan. Dikarenakan mereka hanya mengalami kelelahan, maka ia hanya meneteskan setitik air panas saja pada kening mereka.
Mereka yang telah mendapat tetesan air panas, segera bangun. Beberapa diantaranya melakukan gerakan peregangan sendi, sehingga tak jarang terdengar bunyian 'Krek pada tulang mereka.
Butuh waktu seharian untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Hingga ketika semuanya selesai, Wan Li beserta Chen Li duduk beristirahat di bawah pohon Rongshu.
Angin malam yang bertiup pelan teratur membuat Chen Li terbuai di buatnya. Rasa kantuk pun tak dapat ia tahan. Hingga pada akhirnya ia tertidur dalam pangkuan Wan Li.
Wan Li mengusap lembut rambut panjang pemuda itu. Ia sungguh menyayangkan nasib pemuda ini yang masih terbilang sangat kecil, tapi sudah melakukan hal-hal yang semestinya dilakukan oleh orang dewasa.
Beberapa saat ia mengusap rambut Chen Li, tiba-tiba ia di datangi oleh sekelompok warga yang tadi sempat di tolong nya.
Seorang Pria maju ke depan, lalu berucap. "Terima kasih sebelumnya karena tuan telah menyelamatkan kami dari Iblis itu." Badan pria itu membungkuk dan diikuti oleh orang-orang di belakangnya.
Dia juga memperkenalkan dirinya sebagai kepala desa di desa tersebut.
Wan Li menanggapinya dengan senyum tulus. Wajahnya yang masih terpalangi oleh tudung, membuat mereka tak dapat melihat wajah pria itu.
"Mohon maaf tuan, kalau boleh saya tahu, siapa nama tuan?" tanya kepala desa.
"Aku tak memiliki nama!" Jawabnya singkat. "Tapi kau bisa memanggil kami Pendekar Api Li," lanjutnya.
"Baiklah, Pendekar Api Li!"
Kepala desa kemudian mengajak keduanya untuk menginap di rumahnya malam ini. Awalnya Wan Li menolak, namun karena terus di desak oleh kepala desa beserta para warga yang ada di belakangnya, iapun tak ada pilihan lain selain menyetujuinya.
__ADS_1
Sementara itu, di waktu yang sama.
Di tempat lain, nampak Hei Fang yang masih bertarung melawan Adiknya, yang kala itu masih terpengaruh oleh iblis itu.
"Ai Ai, sadarlah!"
Beberapa kali ia menyadarkan Ai Fang, namun sang adik tak kunjung sadar juga.
Keduanya terus beradu pedang, pusaran angin hitam nan tajam juga tercipta dari gerakan keduanya. Hingga pada akhirnya keduanya mengambil jarak.
Ai Fang melakukan suatu gerakan, begitupun juga dengan Hei Fang. Gerakan keduanya nampak mirip. Tak hanya itu, bahkan energi angin hitam yang di timbulkan keduanya juga tampak sama. Yang membedakannya adalah, energi angin dari Hei Fang alami berasal dari dirinya, sedang energi angin milik Ai Fang berasal dari Iblis.
Beberapa saat, keduanya mengarahkan energi itu ke arah lawan.
Bamm!
Ledakan besar tercipta ketika kedua energi itu berbenturan, menimbulkan kepulan debu yang menyebar di berbagai arah.
Pandangan Hei Fang tak dapat menilik sekitar hanya kepulan debu yang dapat ia saksikan.
Beberapa saat, kepulan debu itu menghilang seiring dengan energi angin yang menyapu debu tersebut.
Instingnya yang tajam, mengatakan bahwa sesuatu yang berbahaya datang dari belakang.
Ia lantas melompat ke samping. Dan benar saja, Ai Fang telah berada di sana dengan pedang yang ia libaskan ke arahnya.
Hei Fang Mengaliri kakinya dengan energi Qi, lalu ia arahkan kakinya ke depan berniat menendang Ai Fang.
Namun gadis di hadapannya ini tak berniat menghindar, ia hanya mematung di tempat.
Hei Fang ingin membatalkan serangannya, namun ia tak bisa mengontrol diri.
Belum sempat tendangan itu mengenai Ai Fang, kakinya telah di tahan oleh sesuatu. Matanya yang semula tertutup, segera ia buka dan menemukan seorang pria tua yang menahan laju kakinya dengan sebelah tangan.
"Kakek!"
*
Seorang pemuda saat ini sedang berjuang mati-matian melawan ribuan siluman bermata merah menyala.
__ADS_1
Dirinya pun telah di penuhi oleh darah di sekujur tubuhnya. Entah itu darahnya, atau darah siluman-siluman itu.
"Sial, kenapa mereka tak kunjung habis juga," gumamnya kesal.
Entah, sudah berapa nyawa yang telah melayang di tangannya. Namun, siluman-siluman itu seperti tak ada habis-habisnya.
Dari sekian banyaknya siluman, yang paling kuat diantara mereka berusia sekitar 1.000 tahun. sedang yang lemah berusia 50 tahun.
Namun, mereka yang berusia 1.000 tahun hanya berjumlah sekitar tiga buah saja, dan anehnya mereka tak kunjung menyerang dirinya. Palingan yang datang bertandang hanyalah sekumpulan siluman yang berusia 500 ke bawah, sedang 501 ke atas menonton mereka dari kejauhan, menunggu gelombang kedua.
Membutuhkan sekitar 10 jam bagi Xiao Wang untuk membereskan semua siluman-siluman itu. Meskipun begitu, dirinya tak bisa di katakan baik. Nampak di beberapa bagian tubuhnya terdapat bekas cakaran dan gigitan siluman.
Ia menatap siluman yang masih mematung seperti sedang menunggu perintah dari seseorang sebelum mereka menyerangnya. Nafasnya pun turun naik-turun tak beraturan.
Beberapa saat, nampaklah olehnya pergerakan siluman-siluman itu, yang kini telah bergerak ke arahnya. Guncangan tanah terjadi saat itu juga kala Siluman-siluman yang berbadan besar menapakkan kakinya.
Ia pun segera mengeluarkan Teknik Gelombang Pencakar Langit tahap pertama, Sapuan Gelombang, ke arah Siluman-siluman itu.
Dengan pedang yang di aliri energi berwarna biru muda, ia memutar tubuhnya. Bersamaan dengan itu, Pedangnya ia libaskan searah dengan gerakan tubuhnya. Sebuah energi berwarna biru muda melesat ke arah Siluman-siluman itu. Sesaat, energi itu berubah menjadi gelombang air yang sangat besar.
Ombak itu bergerak dengan kecepatan tinggi menyapu siluman-siluman tersebut. Hingga ketika gelombang tersebut melewati mereka, nampak sebagian telah hanyut terbawa arus air yang kala itu mengalir dengan sangat deras. Sedang sebagian lagi masih bisa bertahan.
Mereka yang terbawa ombak akan langsung menghilang entah kemana seiring dengan menghilangnya gelombang itu.
Mereka yang masih bertahan terdiam sejenak melihat rekan-rekan mereka yang hilang entah kemana. Namun itu tak berlangsung lama, mereka kembali melanjutkan larinya ke arah Xiao Wang.
"Sial." Kembali ia mengumpat.
Terpaksa ia harus bertarung kembali melawan siluman yang kini dua kali lipat kekuatannya dari lawan sebelumnya.
Pertarungan pun kembali terjadi.
Xiao Wang mengeluarkan seluruh kemampuannya. Ia menebas salah satu siluman harimau dan langsung membuatnya terbelah dua.
Tak lupa pula ratusan panah air ia cipta di sekelilingnya lalu ia lesatkan ke arah siluman yang berada di dekatnya. Beberapa siluman langsung tumbang saat di hantam beberapa anak panah air.
Namun dari seratus lima puluh anak panah yang ia lancarkan, hanya sekitar lima puluh siluman saja yang melayang nyawanya. Sedang yang lain hanya mengalami luka bakar akibat ledakan dari anak panah air.
Sejam berlalu, kini Xiao Wang nampak kelelahan meladeni siluman-siluman yang tak ada habis-habisnya. Dari sekian banyaknya siluman, yang paling ia khawatirkan adalah tiga sosok siluman yang saat ini sedang menatapnya tak jauh dari tempat di mana ia berpijak saat ini.
__ADS_1
Ia tidak khawatir jika saja dirinya berada dalam kondisi prima ketika melawan ketiga siluman berusia 1000 tahun itu. Namun saat ini, tenaganya telah banyak terkuras ketika beberapa jam melawan siluman-siluman sebelumnya.