
Chen Lu menceritakan pada Chen Li alasan selama ini dirinya menghilang. Ia menceritakan bahwa dirinya merasakan keberadaan seseorang yang begitu tidak asing berada di tidak jauh darinya.
Karena penasaran, ia pun keluar dari tubuh Chen Li. Tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan keberadaan sosok itu yang ternyata adalah teman lamanya yang oleh Xiao Wang memanggilnya dengan sebutan Bo Ji. Itulah sebabnya ia tak pernah kembali ke alam bawah sadar Chen Li saking keasikan berbincang-bincang dengan kawan lama sampai lupa waktu.
Chen Li mengangguk.
"Apakah pemuda itu yang kau maksud?" tanyanya sambil menoleh ke arah Xiao Wang yang kebetulan juga menoleh ke arahnya.
Segera Chen Li menarik kembali pandangannya.
Chen Lu yang melihat sikap Chen Li tertawa kecil Setelahnya ia berucap, "Ya, pemuda itu yang ku maksud tadi. Kenapa kau bisa mengetahuinya?" tanya Chen Li penuh selidik.
"Karena aku sudah bertemu dengan dia sebelumya!" Chen Li berucap dengan santainya.
Sementara Chen Lu terperanjat kaget mendengar jawaban singkat pemuda itu.
"Dimana kau bertemu dengannya?"
"Dalam mimpi!" Chen Li kembali berucap dengan santai.
"Aku serius bocah. Jangan bercanda!"
__ADS_1
"Aku juga serius ... Ia mendatangiku waktu itu, dan menunjukkan kepadaku beberapa gambaran yang bahkan sangat sulit untuk ku pahami!"
Chen Lu berpikir sejenak.
"Hmm, apa maksud semua itu?"
"Entahlah!"
"... Sudahlah, aku mau menonton pertandingan dulu. Jika aku terus-terusan meladeni mu berbicara, bisa-bisa aku tak dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan dari lawanku nantinya," Chen Li merajuk.
Chen Lu tak membantah, memang benar apa yang di katakan Chen Li. Karena meskipun kultivasi lawan rendah, namun meremehkan lawan bukanlah hal yang benar.
Pertandingan antar Ai Fang dan Pemuda tersebut nampak telah berada pada puncak kemenangan oleh pemuda itu, yang ternyata adalah nomor satu di sekte Kalajengking Merah. Dia adalah Xing Liao. Sekte Kalajengking Merah sendiri merupakan sekte besar dari aliran Hitam.
Ia lalu duduk berlutut, tangan kanannya mengelus lembut pipi Ai Fang yang kini telah terdapat segaris goresan panjang yang mengeluarkan darah segar.
"Sayang sekali nona cantik, kau harus bertemu denganku di babak ini. Jika saja kau mau mendengar ku tadi, mungkin saja kau tak akan bernasib seperti ini."
Ai Fang tak menanggapi ucapannya dan malah memalingkan muka.
"Beraninya kau tak mengacuhkan ku gadis cantik!" Xing Liao yang tersinggung, tanpa belas kasih langsung menampar keras pipi gadis itu.
__ADS_1
Takk!
Suara tamparan itu terdengar begitu keras yang menandakan Xing Liao tak tanggung-tanggung dalam melayangkan tangannya.
Sang kakak yang melihat adiknya di tampar di depan mata merasa tak terima. Hampir saja ia melompat ke arena dan menghajar pemuda itu habis-habisan, kalau saja tidak ada Chen Li yang mencegahnya.
"Lepaskan!"
"Apakah kau gila ... Kalau aku melepaskan mu yang ada kau akan melompat di arena. Lalu membuat kekacauan di sana!"
"Aku tak peduli... Lepaskan!" Hei Fang tetap merengek ingin melepaskan diri dari genggaman tangan Chen Li.
"Tidak mau!"
"Lepas!"
"Tidak!"
"Hump!"
Hei Fang kesal dengan Chen Li. Ia lantas membanting tangan Pemuda itu, namun tetap saja genggaman tangan masih mencengkeram keras pergelangan tangannya.
__ADS_1
Tak ada jalan lain, ia akhirnya menuruti pemuda itu dan duduk manis sambil menyaksikan adiknya di hajar habis-habisan.