Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch 11. Malam Yang Kelam


__ADS_3

"Siapa di sana?" teriak Xiao Wang.


Xiao Yin yang mendengar Xiao Wang berteriak langsung merangkul lengan Xiao Wang dengan keras.


Di balik bayang-bayang pohon, muncul sekelompok orang berpakaian hitam beserta cadar yang menutupi wajah mereka.


Dengan pedang yang mengkilap di terpa cahaya sang rembulan, mereka mengelilingi Xiao Wang dan Xiao Yin.


Xiao Wang menghitung jumlah mereka ada sekitar tujuh orang.


"Siapa kalian?" tanya Xiao Wang dengan pedang yang di arahkan kepada salah seorang dari mereka yang paling dekat dengannya.


"Hahahaha. Xiao Wang, akhirnya aku memiliki kesempatan untuk melenyapkanmu."


Seseorang melangkah maju dari barisan belakang dan juga mengenakan cadar.


Nampak orang tersebut seperti seumuran dengan Xiao Wang atau terpaut beberapa tahun dengannya


Xiao Wang seperti mengenali suara itu. Namun ia tak begitu yakin dengan tebakannya terkait pemilik dari suara tersebut.


"Siapa kau?" Tanya Xiao Wang.


"Kau tak perlu tau siapa aku. Yang intinya hari ini adalah hari terakhir kau ada di dunia ini,'' ujar pria tersebut.


"Semuanya serang dia, ingat jangan sakiti gadis itu!" Perintah pemuda itu.


Enam di antara ketujuh orang itu melesat dengan cepat menyerang Xiao Wang.


Xiao Wang sendiri tak tinggal diam, ia lantas mendorong Xiao Yin ke samping lalu menyambut serangan mereka dengan beringas.


Setelah pertukaran beberapa serangan, ia mengetahui bahwa kultivasi mereka setidaknya berada dua tingkat di atasnya.


Seketika wajahnya langsung memburuk. Kalau seandainya satu orang saja, ia masih bisa mengimbangi mereka. Tapi ini enam orang sekaligus menyerangnya.


Xiao Wang menggunakan segenap kemampuannya untuk menahan setiap serangan yang menghunjamnya dari berbagai arah.


Salah satu dari mereka memisahkan diri, setelahnya bergerak ke arah Xiao Yin berniat menangkapnya.


Xiao Wang yang melihat orang itu mendekati Xiao Yin ingin sekali menghadangnya, namun ia di sibukkan oleh lima orang yang terus menerus menyerangnya tanpa henti.


"Yin'er, hati-hati!" teriak Xiao Wang.


Melihat salah seorang dari mereka bergerak mendekatinya, tubuh Xiao Yin langsung bergetar ketakutan.


Ia menghunus pedangnya dan mengarahkannya ke arah orang tersebut.


Orang itu nampak tidak mempedulikan ancaman dari pedang tersebut dan terus bergerak maju ke arahnya.

__ADS_1


Karena tak ada pilihan, akhirnya Xiao Yin maju dan menyerang orang itu.


Namun, karena perbedaan tingkat kultivasi yang terpaut jauh, ia tak dapat melukainya, bahkan menyentuhnya pun tak bisa.


Bahkan orang itu seakan-akan sedang bermain-main dengannya.


"Ayo lah adik kecil, keluarkan seluruh kemampuanmu, setidaknya buatlah pertunjukan yang menarik untukku," ejek orang itu.


Karena merasa bosan, akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri pertarungan ini.


Sebenarnya ini tidak layak di katakan sebagai pertarungan, lebih tepatnya permainan.


Orang tersebut menahan laju serangan pedang Xiao Yin dengan pedangnya pula.


Dengan tangan kananya, ia menampar pipi Xiao Yin dengan keras hingga membuat Xiao Yin terpental dengan keadaan tubuh yang berputar, sebelum akhirnya tubuhnya terbanting di tanah dengan keras.


Kebingungan nampak jelas terukir di wajah Xiao Yin yang merah. Sebelum akhirnya ia mengeluarkan jeritan memilukan setelah tersadar. Ia lantas mengusap kasar pipinya yang panas.


Xiao Yin merasakan sakit yang sangat-sangat luar biasa. baru kali ini ia merasakan rasa sakit di luar ekspektasinya.


Dadanya nampak tak merasakan ketenangan. Tubuhnya ia biarkan berguling-guling ke sana kemari bagaikan cacing kepanasan.


"JANGAN SAKITI YIN'ER!" Teriak marah Xiao Wang.


Namun tak di gubris oleh orang itu. Ia malah menangkap tubuh mungil Xiao Yin, dan mengikatnya.


Ia merasakan dadanya yang panas. Ingin rasanya ia menghajar orang yang menampar Xiao Yin. Namun dirinya di sibukkan oleh lima orang yang terus menerus menyerangnya dengan brutal. Membuatnya semakin tersulut emosinya.


Dengan emosi yang tak terkendali, ia menekukkan kakinya, badannya agak membungkuk lalu memainkan pedangnya dengan ganas, menyerang di bagian bawah mereka.


Mereka berlima yang menyerang Xiao Wang hampir kewalahan karena tubuhnya yang kecil dan lincah.


Namun karena perbedaan jumlah dan tingkat kultivasi, Xiao Wang masih tetap tidak di untungkan.


Beberapa saat, Xiao Wang merasa kelelahan dan hendak mengambil jarak untuk mengambil nafas.


Akan tetapi seakan tau apa yang di pikirkan Xiao Wang. Mereka berlima tidak memberinya ruang untuk bernafas, dan malah menambah dan mempercepat pola serangan mereka.


Xiao Wang nampak telah mencapai batasannya. Namun karena emosi yang meluap-luap, ia tidak mempedulikan itu dan masih tetap melanjutkan pertarungan.


Walaupun sayatan-sayatan pedang dengan darah yang terus mengalir di sekujur tubuhnya, namun itu tak menjadi hambatan dan terus menyerang mereka.


Sebuah tendangan telak mendarat di pipinya dengan keras hingga menerbangkannya dan menghantam batu besar.


Batu besar yang di hantam Xiao Wang langsung retak. Xiao Wang sendiri merasakan pusing di kepalanya di tambah badannya yang terasa sangat sakit akibat menabrak batu besar.


Xiao Yin yang merasa agak tenang kembali membludak ketika melihat Xiao Wang menghantam batu besar.

__ADS_1


"Kakak Wang..." Teriak histeris Xiao Yin.


Xiao Wang bangkit kembali dan berjalan pelan.


"Kalian semua. Aku tau kalian berasal dari sekte Elang Emas. Tapi kenapa kalian menyerangku? Apa salahku hingga kalian berbuat seperti ini?" Lirih Xiao Wang.


"Salahmu karena kau lebih maju di banding aku. Kau selalu di puji oleh tetua dan orang-orang di sekte. Tidak hanya itu, bahkan kakekku sendiri tega menghinaku dan membandingkan aku dengan dirimu. Ini semua salahmu!" Teriak pemuda yang memerintah mereka barusan.


Xiao Wang tak habis pikir dengan jalan pikir orang ini. Bukannya berusaha keras malah melakukan hal seperti ini.


"Kalau kau mau maju, kau hanya perlu bekerja lebih keras lagi. Bukan seperti ini caranya. Kalau pemikiranmu masih seperti ini, sampai kapanpun kau tak akan pernah maju." Xiao Wang menasihati orang tersebut.


"Diam kau..! Kau tau, selama ini aku terus bekerja kerja keras. Dari pagi, sampai malam aku habiskan untuk berlatih. Tapi apa tanggapan kakekku. Dia hanya bilang, 'kau masih kalah jauh dengan Xiao Wang'."


"Jika saja kau tak ada di dunia ini. Kakek pasti masih bisa memujiku dan tidak membandingkan aku dengan dirimu."


Xiao Wang yang mendengar penuturan pria itu merasa iba. Karena dirinya bahkan seorang kakek tega menghina cucunya sendiri.


Karena dirinya, bahkan seorang anak harus dibanding-bandingkan dengan orang lain. Anak mana yang tak sakit hati ketika orang tuanya membandingkan dirinya dengan anak lain.


Padahal mereka mungkin memiliki suatu kelebihan yang bahkan tidak dimiliki oleh anak lain.


Pemuda tersebut memerintahkan orang-orang di belakangnya untuk memegang kedua tangan Xiao Wang.


Lalu ia berjalan maju dan menampar Xiao Wang.


"Ini untuk penghinaan kakekku kepadaku."


Anak itu memukul perut Xiao Wang dengan sangat keras.


"Ini, karena kau lebih maju dari ku."


Xiao Wang merasakan perutnya yang sangat sakit. Tapi ia memilih menerima pukulan dari anak itu karena ia tau keseharian anak itu pasti di lalui dengan penderitaan dan kesedihan.


"Ini, karena kau, kakekku rela membandingkan aku dengan dirimu." Anak itu memukul perut Xiao Wang lagi.


Xiao Wang merasakan sakit pada perutnya bertambah.


Padahal ia bisa mengaliri tubuhnya dengan energi Qi tersisa untuk mengurangi rasa sakit yang ia terima. Tapi ia memilih tidak melakukannya.


Xiao Yin yang melihat Xiao Wang di siksa tak kuasa menahan air matanya. Ia terus-terusan menangis melihat kondisi Xiao Wang yang babak belur dan penuh dengan darah di sekujur tubuhnya.


"Tidaak. Jangan sakiti kakak Wang." Xiao Yin berteriak.


Namun tidak di gubris oleh anak itu dia bahkan meninju wajah Xiao Wang dengan sangat keras.


Dia terus memukul Xiao Wang hingga membuat Xiao Wang hampir tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2