Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch 39. Pemuda Misterius


__ADS_3

Xiao Wang berniat keluar dari goa. Tapi sebelum itu ia tak tau bagaimana cara untuk membuka dinding di hadapannya, yang dahulu terbuka dengan sendirinya.


"Bo Ji, bagaimana cara membuka pintu dinding ini?"


"Kau hanya perlu meninjunya hingga hancur bocah. Untuk apa memilih yang susah kalau ada yang mudah."


"Benar juga. Kenapa tak terpikirkan olehku sebelumnya."


"Sebelum kau keluar, semua benda-benda berharga yang ada di tempat ini kau pindahkan pada cincin ruang yang ada di tanganmu."


"Baik."


Xiao Wang berjalan mendekati air panas. Lalu memasukkan semuanya tanpa ada yang tersisa. Selanjutnya ia berjalan menuju salah satu pilar yang terletak di bagian kanannya.


"Bo Ji, cahaya di atas batu ini apa?"


"Itu adalah cahaya keabadian. Aku mendapatkannya ketika berkunjung di klan cahaya."


"Mendapat atau mencuri?"


"Eeh, ke-keduanya," jawab Bo Ji kesal.


"Apakah Cahaya itu bisa padam?"


"Kau ini sangat dungu bocah. Aku kan sudah bilang kalau cahaya itu adalah cahaya keabadian. Jadi tak akan bisa padam, kecuali di sandingkan dengan kegelapan yang setingkat dengannya. Barulah cahaya itu akan padam.."


"..Sekarang masukkan Cahaya itu pada cincin ruang."


"Kalau batu ini?"


"Kau bisa memasukkannya sebagai persiapan nisan ketika kau mati nanti."


"Ai', kenapa bisa begitu Bo Ji?"


"Kenapa kau ini sangat tolol bocah.."


"..Berhenti bertanya. Segera masukkan semuanya ke dalam."


Xiao Wang pun memasukkan cahaya beserta batu pilar itu. Saat ia hendak memasukkan cahaya pada pilar ke tiga, mendadak ia menghentikan aksinya.


"Kenapa kau berhenti?"


Tak ada jawaban darinya. Xiao Wang memasukkan pilar di cincin ruangnya, setelahnya, ia tadahkan ke dua tangannya ke depan. Mendadak, cahaya itu bergerak ke arah tangannya.


"Apa yang akan kau lakukan bocah?"


"Kau akan tahu nanti."


Setelah cahaya itu sampai di tangannya, ia langsung menciptakan bola air yang mengurung cahaya itu, membuatnya seperti lampu lampion. Tak lupa pula ia menciptakan tongkat sebagai penyangga untuk memegang bola tersebut.


"Selesai. Bagaimana, baguskan."

__ADS_1


"Tak ada yang istimewa," ucapnya datar.


Xiao Wang tak menghiraukan ucapannya, ia lebih memilih berjalan ke arah dinding goa, berniat menghancurkannya.


"Sebentar bocah."


"Ada apa Bo Ji?"


"Jika kau keluar dengan kultivasi mu di tahapan itu, maka kau hanya akan mengundang perhatian banyak orang."


"Kau benar Bo Ji. Lantas, apa yang harus ku lakukan." Bo Ji kemudian mengajarinya tipuan penurun kultivasi.


Setelah penurunan kultivasi selesai ia kuasai, ia lantas menghancurkan dinding batu itu dengan kepalan tinjunya. Selanjutnya ia berjalan di kegelapan goa, dengan hanya mengandalkan penerang dari lampion cahaya keabadian.


Berjalan sampai di pertengahan goa, ia menemukan seorang pemuda yang berusia sekitar tujuh belas tahun sedang terbaring dengan luka di sekujur tubuhnya.


Segera ia menghampiri pemuda itu dan memeriksanya. "Bocah, kau harus berhati-hati dengan pemuda itu. Aku merasakan ada sesuatu yang salah dengan dia."


"Um."


Jari telunjuknya ia labuh kan di hadapan lubang hidung pemuda itu. Ia bisa merasakan deru nafasnya walaupun tak terlalu jelas.


Tak yakin dengan itu, ia lantas memeriksa denyut nadi dan jantungnya. Ia masih merasakan getaran walau sangat lemah.


Lantas ia mengalirkan energi Qi nya guna menyembuhkan Pemuda itu.


Beberapa saat, pernapasan pemuda itu telah normal kembali. Matanya perlahan membuka, "Aku, Aku ada di mana?" ucapnya ketika sepenuhnya sadar.


"Kau! kau siapa?" ucapnya lagi sambil menggeser tubuhnya ke belakang, ketika melihat orang yang tak di kenalnya berada di hadapannya.


"Kau tenang saja, aku tak akan menyakitimu."


"Bohong. Kau berbohong! kau pasti bagian dari orang-orang itu kan?"


"..Jangan mendekat!"


Pria itu menciptakan bola api dari tangannya lalu melemparkannya ke arah Xiao Wang.


Sontak saja Xiao Wang langsung menciptakan perisai air.


"Kau tenanglah aku tak akan melukaimu."


Butuh waktu bagi Xiao Wang untuk menenangkan pemuda itu.


Setelah agak tenang, ia lantas menanyakan perihal yang di alami pemuda itu sebelumnya.


Keraguan nampak di wajah pemuda tersebut. Namun ketika melihat tatapan lembut dari Xiao Wang, ia akhirnya berkenaan untuk menceritakannya.


Ia mengisahkan bahwa desanya di serang oleh sekelompok orang berpakaian hitam. Tak ada yang selamat dari penyerangan itu. Bahkan rumah penduduk pun di bakar habis oleh mereka. Ia yang menguasai sedikit ilmu beladiri, berhasil melarikan diri.


Meskipun begitu, perjalanannya nyatanya tak berjalan sesuai harapan. Ia masih di kejar oleh orang-orang itu. Hingga pertarungan pun tak bisa terhindarkan.

__ADS_1


Dirinya yang minim pengetahuan tentang ilmu beladiri berhasil di keroyok oleh mereka. Namun karena keberuntungannya yang tinggi, ia akhirnya berhasil meloloskan diri, dan berakhir pingsan di dalam goa ini.


Mendengar cerita itu, Xiao Wang menjadi iba, Namu tidak dengan Bo Ji. Ia merasa ada yang ganjal dari cerita tersebut.


Xiao Wang mengajak pemuda itu untuk ikut dengannya. Xiao Wang juga mengetahui namanya adalah Guiji setelah beberapa saat bercerita dengannya.


Keduanya pun keluar dari goa itu, tak lupa Xiao Wang menyimpan cahaya keabadian di dalam cincin ruangnya.


Suasana hening, tak ada yang mau bicara sepanjang jalan. Xiao Wang sesekali akan menengok pemuda di hadapannya ini yang berjalan dengan kepala menunduk.


"Guiji, hendak kemana kau setelah ini?" Tanyanya memecah suasana.


"Entahlah. Aku tak memiliki tujuan.."


"..Apakah aku boleh ikut denganmu?"


"Jangan bocah!."


Xiao Wang tampak berpikir sesaat, sebelum akhirnya menyetujuinya.


"Bocah, kenapa kau ini sangat keras kepala."


"Biarkan saja dia mengikuti kita. Aku juga tak melihat sesuatu yang mencurigakan darinya."


"Terserah kau saja. Tapi ingat, jangan salahkan aku jika saja terjadi sesuatu padamu, disebabkan oleh anak ini."


"Kau tenang saja. Aku bisa menjamin tak akan terjadi sesuatu padaku."


Xiao Wang menoleh ke arah Guiji yang dari tadi memperhatikannya dengan tatapan bingung. Xiao Wang tersenyum tipis ke arahnya.


"Xiao Wang, kau mau kemana?"


"Oh iya!" Xiao Wang memukul jidatnya. "Aku sampai melupakannya."


"Maksudmu?"


Xiao Wang kemudian menceritakan padanya bahwa ia hendak ke ibukota untuk mengikuti turnamen Pemuda Berbakat. Jadi ia harus buru-buru.


Mereka pun memutuskan untuk berlari.


Karena terlalu antusias, Xiao Wang berlari dengan kecepatan tahap langit tingkat 2, melupakan Guiji yang tak dapat mengimbanginya.


Sedetik kemudian, ia menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang. Sorotan mata yang tajam, mampu menembus pohon-pohon besar yang menghalangi pandangannya.


Sampai pada akhirnya ia menemukan Guiji yang berjarak sekitar 50 meter darinya.


Suatu hal yang janggal terjadi saat itu juga. Namun karena kepolosan Xiao Wang, sehingga ia tak dapat menyadarinya.


"Bocah, apakah kau tak merasakan adanya keanehan pada anak itu?"


"Tidak!"

__ADS_1


__ADS_2