
Hai Yue mengibaskan kipasnya, seketika muncul pisau-pisau tajam pada kerangka kipas tersebut.
Ia lalu maju dan menyerang Li Shan dengan beringas. Setiap gerakannya sangat mematikan.
Li Shan berupaya sekeras mungkin untuk bertahan, dan menangkis semua serangan mematikan dari Hai Yue. Namun, sekeras apapun ia berusaha, ia tetap saja menerima sayatan-sayatan energi angin yang tercipta dari kipas Hai Yue, yang bagaikan pisau kecil.
Beberapa saat, mereka mengambil jarak. Bisa di lihat, Hai Yue hanya mendapatkan sedikit sayatan pada lengannya. Berbanding terbalik dengan kondisi Li Shan, seluruh tubuhnya di penuhi dengan sayatan-sayatan dan noda darah.
Seakan tak memikirkan kondisi tubuhnya, ia mengalirkan Qi pada tombaknya dan melakukan perubahan energi api lalu melesat dan menebas Hai Yue.
Namun, ibarat angin yang berada di mana saja. Hai Yue tiba-tiba saja menghilang dan muncul kembali tepat di belakang Li Shan.
Ia lantas melancarkan rentetan tendangan ke bagian belakang Li Shan. Dengan satu tendangan keras, membuat Li Shan terpental menabrak tanah dengan keras.
Li Shan bangkit kembali dengan keadaan linglung. Tampaknya ia masih tak mau menyerah.
Dengan keadaan lunglai ia berusaha meraih kembali tombaknya, dan hendak menyerang Hai Yue kembali. Namun sayang, belum sempat ia bergerak maju, Hai Yue telah lebih dulu meletakkan kipasnya pada leher Li Shan, dan tinggal beberapa inci sebelum mengenai kulitnya.
Dengan hati berat, ia terpaksa mengatakan kata menyerah.
Riuh rendah penonton menyebar ketika Du Yan menyatakan pemenangnya. Dari sekian banyaknya penonton, yang paling menonjol adalah kaum pria. Mereka tampak sangat bersemangat ketika idola mereka menang. Tak sedikit juga yang meneriaki nama Hai Yue.
Hai Yue hanya menanggapi teriakan tersebut dengan tersenyum sinis. Lalu ia melangkah meninggalkan arena.
Setelah pertandingan antara Hai Yue dan Li Shan berakhir, satu per satu pemuda-pemudi memasuki arena dan mulai beradu ilmu.
Beberapa pertandingan pun berlalu, Ada pertandingan yang membosankan, dan ada pula yang cukup menarik untuk di saksikan.
Seorang pemuda tampan yang berumur sekitar 10 tahunan dengan pedang panjang di tangannya, ia berjalan santai memasuki arena. Sesampainya ia di sana, ia mengedarkan pandangannya kearah bangku peserta, tatapan matanya yang tajam bertemu dengan Xiao Wang.
Xiao Wang sendiri merasa tidak enak ketika di tatap seperti itu, ia lantas memalingkan muka.
"Bocah, pemuda yang menatapmu itu adalah orang yang sama dengan yang mencelakai mu waktu itu."
Bo Ji kembali berbicara dalam pikirannya, setelah sekian lama ia tak berkomunikasi dengannya.
Mata Xiao Wang terbelalak mendengar itu. Pasalnya pemuda itu adalah Lu Wanqiang, ia adalah cucu dari Lu Duanyan. Yang mana Lu Duanyan sendiri merupakan salah satu tetua yang paling dekat dengan keluarga Xiao Wang. Terutama kakeknya, Xiao Liu.
Xiao Wang tak pernah berpikir bahwa orang yang berniat membunuhnya adalah Lu Wanqiang.
__ADS_1
Ia mengingat kembali perkataan Lu Wanqiang waktu itu. Setelah beberapa saat, ia pun mengerti.
Dikarenakan Lu Duanyan yang sering berkunjung ke kediamannya, otomatis ia pasti juga sering melihat Xiao Wang berlatih. Mungkin karena kagum melihat kejeniusan Xiao Wang sehingga membuat ia sentimen terhadapnya. Kurang lebih begitulah yang dipikirkan oleh Xiao Wang saat ini.
*
Kembali ke arena, Du Yan menjelaskan kembali peraturan pertandingan kepada Lu Wanqiang dan lawannya yang sudah berdiri tepat berhadapan dengan Lu Wanqiang, sebelum ia membiarkan keduanya bertarung.
Lawannya sendiri berusia 9 tahun, kultivasinya pun telah mencapai tahap Menengah tingkat 2.
Kedua peserta memberikan hormat kepada lawan. Setelahnya, Lu Wanqiang langsung menyerang pemuda yang menjadi lawannya tersebut dengan beringas.
Setiap serangannya ia lancarkan, penuh perhitungan. Sampai-sampai membuat lawannya kesusahan menahan serangan tersebut.
Sayatan demi sayatan ia buat pada tubuh lawannya. Hingga kurang dari 5 menit pemuda tersebut telah tumbang.
Lu Wanqiang pun dinyatakan sebagai pemenangnya. Penonton yang melihat aksi Lu Wanqiang sangat antusias. Kericuhan pun kembali terjadi di bangku penonton.
Setelah Lu Wanqiang, kini giliran Xiao Wang yang akan bertanding. Ia pun melangkah menuju arena pertandingan.
"Ohh lihat, kekasihku yang tampan akan bertanding."
"Huuh, dalam mimpimu."
"XIAO WANG. AY LAV YU!"
"XIAO WANG AY MISS YU"
Seketika terjadi kegaduhan di bangku para penonton di sebabkan oleh para wanita, baik yang sudah tua maupun yang masih gadis meneriaki nama Xiao Wang.
Xiao Wang berjalan ke arena dengan senyum kikuk tersungging di bibir manisnya.
"KAKAK XIAO!!"
Sebuah suara yang sangat keras berteriak memanggil nama Xiao Wang. Saking kerasnya suara itu, sampai-sampai membuat kegaduhan yang di sebabkan oleh para wanita langsung berhenti.
Semua perhatian tertuju pada pemilik suara tersebut. Begitupun dengan Xiao Wang, ia lantas menoleh ke arah sumber suara dan menemukan Xiao Yin.
Xiao Yin tidak menyangka suaranya akan se keras itu. Ia awalnya juga meneriaki nama Xiao Wang, namun suaranya di telan oleh hiruk-pikuk para penonton.
__ADS_1
Karena kesal, ia lantas menggunakan energi Qi nya sebanyak-banyaknya guna memperbesar suaranya. Namun, ia tak menyangka suara yang di keluarkan akan sebesar itu, hingga membuat semua perhatian tertuju padanya.
Dengan muka merah, ia bersembunyi di balik baju ibunya. Xiao Wang yang melihat itu tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya.
Sementara itu di arena, lawan Xiao Wang juga telah berada di hadapan Xiao Wang. Ia menebak bahwa kultivasi pemuda yang menjadi lawannya ini setidaknya berada di tahap Menengah tingkat 4.
Setelah di persilahkan oleh Du Yan. Xiao Wang beserta lawannya memberikan hormat.
"Mohon bimbingannya senior!"
Setelah itu mereka berdua melesat dan memulai pertarungan.
Xiao Wang menangkis tebasan pedang lawannya yang di arahkan padanya secara vertikal dengan santai.
Lalu ia melepaskan serangan menusuk secara bertubi-tubi. Namun dapat di tangkis oleh lawannya dengan mudah menggunakan pedang. Sehingga rentetan tusukan pedang Xiao Wang hanya mengenai pedang lawannya.
Sesaat, Xiao Wang tersenyum kecil, semuanya berjalan sesuai dengan apa yang ia rencanakan. Merasa sudah waktunya, Ia merubah pola serangannya dengan menungging cepat pedangnya lalu menghempaskan pedang lawan.
Tangan kiri Xiao Wang yang sedari tadi ia kepal, terbuka serta memunculkan bola air kecil. Tanpa pikir panjang, ia langsung melemparkan bola air tersebut ke arah lawan.
BAAMM!!
Bola air itu meledak ketika menghantam perut lawannya. Membuatnya terpental beberapa meter dan jatuh berlutut. Dari sudut bibirnya mengalir darah segar.
Pemuda yang menjadi lawan Xiao Wang awalnya merasa di atas angin karena semua serangan Xiao Wang dapat ia tangkis dengan mudah. Namun ia tak menyangka ternyata serangan mudah itu hanyalah tipu daya Xiao Wang saja.
Hingga membuatnya lalai dan terkena ledakkan bola air dari Xiao Wang.
"Hmm, ternyata benar yang dikatakan orang-orang kalau kau benar-benar jenius."
Xiao Wang menanggapi ucapan pemuda tersebut dengan tersenyum kecut.
"Aku hanya beruntung senior," ucap Xiao Wang merendah.
"Seperti biasa, junior Xiao akan merendah ketika di puji."
Memang sementara tadi tangan kanannya bergerak melakukan gerakan menusuk, ia diam-diam mengumpulkan energi Qi pada tangan kirinya untuk melakukan serangan dadakan.
Hingga ketika ia menemukan momentum yang pas, ia langsung melemparkan bola air ke arah lawannya.
__ADS_1