Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch 45. Takdir


__ADS_3

Xiao Wang merasa semakin kewalahan di buatnya. Meskipun ia telah membunuh banyak siluman, namun besaran tersebut nyatanya masih belum menjumpai setengahnya.


Ia merasa sangat kelelahan dengan itu, belum lagi ketiga Siluman 1000 tahun yang saat ini masih tampak setia menunggunya. Ia sempat gentar ketika membayangkan jika saja ketiga siluman itu tiba-tiba saja menyerang nya.


Kembali lagi, kalau ia dalam kondisi prima, mungkin ia masih mampu mengimbangi ketiganya. Namun saat ini ia sangat kelelahan setelah berjam-jam tanpa henti meladeni para siluman yang tak ada habis-habisnya.


Hingga satu Sambaran cakar mengkilap dari seekor burung Rajawali membuatnya terjungkal di tanah. Tak berhenti sampai disitu, siluman lain datang mengerubukinya. Sesaat, tubuhnya tak terlihat lagi, tertutupi oleh banyaknya siluman yang seperti tak ingin ketinggalan kebagian mangsa.


"Apakah ini akhir dari hidup ku?" batinnya.


Perlahan kesadarannya mulai hilang. Tubuhnya pun kini telah terkoyak oleh cakaran dan gigitan dari siluman yang nampak buasnya menggerogoti dirinya.


"Bocah, Jangan pingsan dulu!" ucap Bo Ji dalam pikirannya, namun tak ada tanggapan dari Xiao Wang. Beberapa kali hantu tua itu berusaha memanggil namanya, namun orang yang di panggil tak kunjung membalas.


"Bocah, aku tak menyuruhmu pingsan. Cepat bangun!" kembali tak ada jawaban dari pemuda itu.


Berbagai macam cara telah ia kerahkan untuk membangunkan Xiao Wang. Namun apa yang ia lakukan semuanya hanya sia-sia.


Sekilas tubuhnya bergetar, kala ia membayangkan sesuatu. "Tidak! Tidak mungkin!"


"Aaaaarghh!" Teriakannya menggema di seluruh alam bawah sadar Xiao Wang.


"Kenapa kau ini sangat bodoh bocah. Kalau saja kau tadi mendengarkan aku, mungkin kau tak akan seperti ini!" Tanpa sadar dirinya telah menangis dikarenakan bocah itu. Walaupun tangisannya, tanpa air mata.


Memang pemuda itu sangat bodoh dan menyebalkan baginya, namun beberapa saat bersamanya membuat ia merasa nyaman dan tak mau kehilangan pemuda itu. Dalam kata lain, ia telah menganggap Xiao Wang ini sebagai cucunya.


Sementara itu di tempat lain. Lebih tepatnya tempat dimana Chen Li saat ini berada.


Ia bersama pamannya yang telah meninggalkan desa, hendak menuju Ibukota untuk mengikuti turnamen Pemuda Berbakat setelah sebelumnya Wan Li tak menyetujuinya mengikuti turnamen itu. Namun karena Chen Li yang tak henti-hentinya mendesak dan membujuknya, akhirnya ia tak memiliki pilihan lain selain menyetujuinya.


Saat dalam perjalanan, tiba-tiba saja Chen Li merasa kelelahan hingga ia meminta kepada Wan Li untuk beristirahat sejenak demi melepas penat.

__ADS_1


Wan Li merasa heran dengan itu. Sebab tak biasanya Chen Li merasa kelelahan seperti saat ini. Apalagi mereka baru saja berlari beberapa ratus meter.


Memilih untuk tak memusingkannya, Wan Li menuruti hajat Chen Li. Mereka beristirahat pada sebuah pohon besar. Chen Li melompat di atas pohon, lalu ia berbaring pada salah satu cabang besar.


Pikirannya melayang tanpa kehendaknya. Perasaannya pun tak karuan. Entah mengapa ia merasakan dadanya yang sesak. Sedih! begitulah yang ia rasakan saat ini.


Terpaan angin siang ia rasakan membelai lembut rambutnya, membuatnya terlelap dalam mimpi yang tak dapat ia pahami.


Dalam dunia mimpinya, ia bertemu dengan seorang Pemuda tampan berambut biru, dengan pupil mata biru pula.


Pemuda itu tanpa ragu menarik tangannya, membawanya ke suatu tempat. Pikirannya dipenuhi teka teki ketika pemuda itu membawanya pada suatu tempat yang penuh dengan kehampaan.


"Apa maksudmu, kenapa kau membawaku kemari?" tanyanya.


Pemuda itu tak menjawab, ia malah memperlihatkan senyuman yang membuatnya bertambah tak mengerti.


Pemuda itu mengangkat tangan kanannya ke depan. Keempat jarinya terkepal menyisakan jari telunjuk yang tiba-tiba saja memancarkan secercah binaran yang kemudian melesat lurus memecah hampa nya tempat itu.


Cahaya itu seketika menyebar dan membentuk suatu rekaman tentang kejadian dimana dua orang pria gagah perkasa sekaligus tampan, dengan hanfu berwarna putih campur biru dan merah yang di kenakan keduanya, beserta rambut yang berwarna biru dan merah pula sedang berlutut di depan cahaya.


Seberkas cahaya berwarna kuning kembali tercipta dari rekaman itu, setelahnya menyebar membentuk lingkaran dan kembali memunculkan sebuah rekaman pula. Kejadian itu terus berlanjut hingga lima kali.


Di hadapannya, terdapat lima rekaman di mana rekaman pertama memperlihatkan sosok dua orang pria berwibawa yang sedang berlutut.


Rekaman kedua memperlihatkan sebelas orang pria termasuk dua pria tadi dengan armor yang mereka kenakan seperti hendak berperang.


Rekaman ketiga memperlihatkan suasana perang, dimana kesebelas orang tadi yang memimpin jalannya perang tersebut.


Rekaman keempat memperlihatkan kehancuran alam semesta, serta salah seorang pria yang meledakan tubuhnya hingga memunculkan kristal warna-warni dari ledakan tersebut, lalu kemudian menyebar ke berbagai penjuru.


Sedang yang terakhir, memperlihatkan dua orang pemuda, salah satunya adalah dirinya, sedang yang satunya lagi adalah pemuda di hadapannya.

__ADS_1


"Apa maksud semua ini? kenapa kau memperlihatkan gambaran itu padaku? Kenapa di sana ada aku? Apa hubungannya semua ini denganku?" berbagai pertanyaan Chen Li langsung lancarkan pada pemuda di hadapannya kala itu.


Pemuda itu nampak diam membisu.


Beberapa saat, ia pun berucap. "Apakah kau akan mampu mengalahkan Raja dan Ratu Iblis tanpaku?" tanyanya, membuat Chen Li bertambah bingung.


"Maksudmu?"


"Apakah kau mampu mencari 12 kristal yang tersebar itu tanpaku?" tanyanya lagi, dan sekali lagi membuat Chen Li bertambah bingung.


Pandangannya lalu ia arahkan pada rekaman keempat di mana sosok pria yang tiba-tiba saja bercahaya tubuhnya, sebelum akhirnya meledak dan memunculkan kristal yang memancarkan sinar berwarna warni. Setelahnya kristal itu terpecah lalu menyebar ke berbagai arah.


"Maksudmu Kristal itu?" Chen Li menunjuk kristal itu.


Pemuda itu tak menjawab, dan malah menatap dalam Chen Li.


Ia yang ditatap seperti itu merasa tak enak. Lantas dengan cepat mukanya ia palingkan.


"Apakah kau sanggup menangkap para Raja dan Ratu Iblis dan menyelamatkan alam semesta tanpaku?" Kembali pemuda itu berucap, dan sekali lagi membuat Chen Li bertambah bingung.


"Apa yang kau bicarakan, aku tak dapat mengerti arah pembicaraanmu."


Sesaat terlintas di benaknya tentang perkataan Chen Lu tempo lalu. Pandangannya pun kembali ia arahkan pada rekaman demi rekaman yang ada di hadapannya.


"Apa semua ini ada kaitannya dengan masa depan dan masa laluku?" batinnya.


Semakin ia memikirkannya, semakin sakit pula kepalanya. Ia tak bisa mencerna semuanya. Biar bagaimanapun dirinya masih kecil, sehingga Ia tak akan mungkin mengerti dengan hal-hal beginian.


"Kau hanya perlu mengatakan Ya atau Tidak!" ujar Pemuda itu memecah lamunan Chen Li.


Keningnya berkerut saat itu juga mendengar kalimat pemuda itu barusan.

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Ya atau Tidak!"


__ADS_2