Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch 37. Konflik Dengan Putra Mahkota


__ADS_3

"Mohon maaf tuan, tempat di lantai tiga telah di sewa oleh putra mahkota kerajaan Api."


Sontak saja wajah Wan Li memburuk, perasaannya mulai lain. Bayangan tentang masa lalunya kembali muncul di benaknya. Rasa lapar yang semula menghampirinya pun telah hilang di telan rasa benci dan dendam.


"Tuan, ada apa?" Tanya pemilik warung makan ketika melihat Wan Li yang mendadak diam. Walaupun samar, ia juga dapat merasakan nafsu membunuh merembet keluar dari tubuhnya.


"Eh, tidak tuan." Wan Li berusaha mengontrol emosinya.


"Baiklah, kami makan di sini saja."


"Mohon maafkan kami tuan, karena telah membuat kalian tak nyaman. Kalau tuan berkenan, tuan bisa menunggu sebentar, supaya kami bisa merapikan tempat ini terlebih dahulu."


"Baiklah." Mereka berdua pun keluar dari tempat tersebut, menunggu meja makan mereka selesai di rapikan.


"Eeh, apakah kau tahu? Dua Minggu lagi Turnamen Pemuda Berbakat akan digelar di Ibukota kerajaan Api."


"O Iyah, aku hampir melupakannya. Bagaimana tidak, turnamen ini di gelar setiap tiga tahun sekali. Aku jadi tak sabar untuk menyaksikannya."


"..."


Pembicaraan kedua orang itu nyatanya mampu menarik perhatian Chen Li. "Paman, maksud perkataan kedua orang itu apa Paman?"


"Entahlah Li'er, Aku juga tak mengetahui arah pembicaraan mereka."


"Jangan membohongiku paman, aku tau Paman pasti mengetahui sesuatu."


Butuh waktu bagi Chen Li untuk meyakinkan Pamannya. Sampai pada akhirnya Wan Li akhirnya menyerah.


"Li'er, Turnamen itu adalah Turnamen Pemuda Berbakat. Turnamen ini di gelar setiap tiga tahun sekali. Di mana turnamen ini bisa di ikuti oleh siapa saja, entah itu berasal dari sekte aliran putih, netral, hitam, maupun pendekar bebas."


Wan Li juga menjelaskan bahwa dulunya turnamen ini hanya bisa diikuti oleh aliran Putih dan Netral saja. Namun, semenjak Chen Huang di angkat sebagai Raja Kerajaan Api menggantikan ayahmu, Sekte aliran Hitam juga bisa berpartisipasi dalam turnamen ini. Dikarenakan, merekalah yang membantu Chen Huang menjadi Raja.


Suara seorang pelayan menghentikan perkataan Wan Li. Mereka berdua pun di bimbing menuju meja makan mereka.

__ADS_1


Nampak terjadi perubahan pada tempat itu. Keduanya di persilahkan duduk. Di atas meja juga telah di sediakan menu makanan yang ada di warung makan itu.


"Silahkan tuan memilih menu hidangan apa yang akan kalian santap."


Setelah selesai memilih, Pelayan tersebut meninggalkan mereka.


Chen Li meminta Wan Li untuk menjelaskan kembali lebih detail tentang Turnamen ini. Awalnya Wan Li menolak, karena di rasa tidak penting. Tapi karena melihat Chen Li yang terus-terusan membujuknya, akhirnya ia tak punya pilihan lain selain menjelaskannya.


Beberapa saat, empat orang pelayan menghampiri mereka dengan tangan masing-masing memegang piring berisi makanan.


"Selamat menikmati!" ucap salah seorang pelayan selepas meletakkan hidangan di atas meja. Lalu keempatnya berbalik dan meninggalkan mereka.


Mereka pun makan dengan lahapnya, namun kelahapan itu tak bisa di perpanjang ketika segerombolan orang menghampiri ke duanya.


"Pelayan, kenapa ada pengemis di sini?" sungut seorang pria berkumis dengan zirah yang ia kenakan serta pedang tertenteng di pinggangnya.


Wan Li menjadi tak nafsu makan ketika mendengar ucapan pria tersebut yang sangat ia kenali suaranya. 'Jendral Shen Lou,' batinnya.


Ia dengan segera menunduk, tak ingin pria itu mengetahui identitasnya. Sedang Chen Li tampak tak mempedulikan ucapan pria itu. Ia tetap saja melanjutkan makannya, bahkan lebih lahap dari sebelumnya, itu karena ia tak pernah menyantap hidangan seenak itu. Semua hidangan yang ia makan sebelumnya tak pernah di beri rempah-rempah. Palingan hanya di bakar.


Jenderal Shen Lou menghampiri kedua orang itu, lalu menggebrak meja makan keduanya, membuat meja tersebut hancur. Salah satu paha ayam yang kebetulan melayang di udara langsung di tangkap oleh Chen Li.


"Uhh, untung saja." Ia pun kembali duduk. Sambil menikmati paha ayam itu.


"Berani kalian tak menganggapku?"


"Ada apa ini?" Seorang pemuda datang dengan pakaian yang sangat mewah.


Melihat pemuda itu, semuanya langsung berlutut kecuali Chen Li.


"Li'er, berlutut!" bisik Wan Li, namun tak di hiraukan oleh Chen Li, ia tetap saja melanjutkan aksi makanan paha ayamnya.


"Yaa, abis. Pelayan, apakah masih ada?" tanya Chen Li, namun tak ada jawaban.

__ADS_1


"Lihatlah, kasihan sekali bocah itu. Aku sudah bisa menebak bagaimana nasibnya ke depan."


"Iya, aku sangat yakin, ia tak akan selamat, setelah ini." Bisik-bisik orang ramai ketika melihat aksi yang di perlihatkan Chen Li barusan. Dan tentu saja, ucapan kecil mereka dapat di tangkap oleh pendengaran tajam Chen Li.


"Bocah Sialan, berani kau tak memberi hormat kepada Pangeran!" Jenderal Shen Lou segera bangkit dan menghunuskan pedangnya ke arah pemuda yang mengenakan tudung itu.


"Akan ku gantung kau!" lanjutnya.


"Ck, seorang Jenderal lemah yang rela berkhianat demi keselamatan dan kekuasaan sepertimu, berani menggantungku. Dalam mimpimu."


"Lancang! Akan ku cincang tubuhmu bocah. Lalu ku jadikan makanan anjing-anjingku." Ia langsung melesatkan tinjunya ke arah wajah Chen Li. Kecepatannya pun tak main-main, namun tinjunya hanya mengenai angin semata, karena bocah di hadapannya kini telah berada di belakangnya.


'Hmm, kau telah mencapai tahap Tinggi tingkat 5 rupanya,' batin Wan Li.


"Kemana kau bocah. Keluar!" tekan Jenderal Shen Lou.


"Paman, apa yang kau lakukan?" Ia langsung menoleh ke belakang, dan menemukan pemuda tersebut telah berada di sana.


Banyak tatapan pasang mata yang tak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Bagaimana tidak, seorang bocah dengan kultivasi di tahap Menengah tingkat 6 bisa menghilang dan muncul kembali di belakang seorang kultivator tahap Tinggi tingkat 5. Aneh tidak?


"Kau, berani mempermainkan aku dengan ilusi murah seperti itu. Ch tak akan mempan." Ia kembali melayangkan tinjunya ke arah Chen Li.


Segera Chen Li melompat mundur ke belakang, namun ia tak dapat mengontrol dirinya, membuatnya hampir terjatuh. Beruntung ada Wan Li di belakangnya dan langsung menahan tubuhnya.


"Terima kasih paman."


"Umm." Wan Li berdiri lalu melangkah ke arah Pangeran Chen Zihao, yang menatap angkuh dirinya.


Ia membungkuk sejenak. "Maafkan atas kelancangan keponakan hamba Pangeran."


"Ck, setelah apa yang ia lakukan barusan, kau masih mengharap diriku memaafkan kalian. Jangan Harap," ucapnya sinis, sambil tatapan matanya ia arahkan pada muka pria bertudung itu, berusaha melihat wajahnya.


Ia berpikir sesaat, sebelum akhirnya seringai sinis terkuak di bibir tipisnya.

__ADS_1


"Aku akan memaafkan kalian, dengan syarat, kalian harus mencium kakiku."


__ADS_2