
Xiao Wang menggunakan dua per tiga dari kecepatannya untuk mengimbangi Guiji.
Karena senja hendak berganti malam sepenuhnya. Mereka pun memutuskan untuk beristirahat sejenak. Dalam keremangan, Xiao Wang meninggalkan Guiji untuk mengumpulkan ranting-ranting kayu, guna sebagai bahan bakar untuk menghangatkan tubuh dari dinginnya terpaan angin malam.
Ia kembali ketika hari sudah gelap sepenuhnya. Nampaknya malam ini cuacanya agak suram. Tak ada tanda-tanda kemunculan sang Dewi malam beserta anak-anaknya.
Ia berjalan santai melewati batang demi batang pohon besar. Gelapnya malam tak menghambat penglihatannya yang tajam. Hingga ketika ia sampai di tempat ia meninggalkan Guiji, ia tak menemukan sosok pemuda itu.
Ia lantas meletakkan Ranting-ranting kayu ke tanah, setelahnya bergegas mencari Guiji. Tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan keberadaan pemuda itu, yang saat ini sedang berdiri membelakanginya di sebuah pohon besar dekat sungai.
Pemuda tersebut seperti sedang berbicara dengan seseorang, namun tak terlalu jelas di telinganya. Sebab, karena air sungai yang kala itu mengalir begitu derasnya, beserta angin yang bertiup agak kencang, membuat ia tak bisa membedakan antara suara kedua bahana itu, ataukah suara pemuda itu.
''Bocah, aku peringatkan sekali lagi untuk berhati-hati dengan pemuda itu!"
"Kau tenang saja Bo Ji, dia tak akan menyakitiku."
"Apakah kau tak melihat tindakan mencurigakan dari pemuda itu?"
"..Bocah kau ini terlalu polos atau apa sampai-sampai tak bisa membedakan antara kawan dan lawan."
Ucapan Bo Ji nyatanya tak dihiraukan olehnya. Ia lantas mendekati pemuda itu.
"Guiji, sedang apa kau di sini?" tanyanya.
"Eh, Xiao Wang." Pemuda itu tersentak kaget. Segera ia berbalik, dengan kedua tangan memperbaiki celananya.
"Rasa buang air kecil, tadi menghampiriku. Karena tak tahan, aku lantas berlari kemari untuk melepaskannya." Ujar Guiji.
"Ow, maafkan aku karena telah mengganggumu. Silahkan kau lanjutkan!"
"Tidak-tidak. Aku sudah selesai. Mari kita bersama ke sana!"
"Ayo!"
"Kau dengar sendiri kan Bo Ji, kalau tadi dia itu sedang buang air alias kencing."
"Bocah jangan tertipu dengan penampilannya! Bisa saja kan ia berpura-pura memperbaiki celananya ketika mengetahui keberadaan mu." Bo Ji nampak nya tak mau menyerah dengan pendiriannya.
"Terserah mu saja."
Selesai menyusun ranting-ranting kayu yang di kumpulkan Xiao Wang barusan, Guiji lalu menunjuk ranting kayu itu. Kobaran api kecil tercipta dari ujung jari telunjuknya. Api itu kemudian melesat kearah ranting-ranting kayu tersebut.
Wush!!
Ledakan kecil tercipta ketika api itu menghantam ranting kayu.
__ADS_1
Kelinci dan ayam hutan yang semula di dapatnya ketika sedang dalam perjalanan, segera ia bakar.
Setelah selesai menyantap kedua hewan itu, Xiao Wang lantas berucap. "Guiji, kau tidurlah terlebih dahulu. Aku yang akan berjaga pertama, tengah malam akan ku bangunkan kau untuk kita bergantian."
"Tidak Xiao Wang, aku pikir kau yang harusnya tidur terlebih dahulu. Setelah itu kita akan bergantian, kau yang berjaga dan aku yang tidur."
"Bocah jangan dengarkan dia. Aku merasakan sesuatu yang sangat berbahaya akan terjadi jika kau terlelap," tutur Bo Ji.
Kali ini Xiao Wang setuju dengan perkataan Bo Ji, karena instingnya yang tajam juga mengatakan demikian.
"Guiji, aku pikir kau tidurlah lebih dulu. Lagi pula aku tak merasa mengantuk sama sekali."
"Tapi Xiao.."
"Kau tenang saja, Guiji. Jika sudah waktunya, aku akan membangunkan mu."
Guiji ingin menyanggah, namun ia tak melakukannya dan memilih untuk menyerah.
Melihat Guiji yang telah terlelap Xiao Wang mulai menengadahkan pandangan di sekitarnya.
"Bocah, aku merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh pemuda itu."
"Mungkin itu cuma perasaanmu saja. Lagi pula aku sama sekali tak merasakan apa-apa."
"Itu karena kau tolol." Entah sudah berapa kali kalimat itu Bo Ji lontarkan terhadapnya.
Xiao Wang hanya terdiam mencoba memahami perkataan Bo Ji barusan.
"Apakah kau ingat kisah yang di ceritakan nya tadi?"
"Ya, aku mengingatnya. Ada apa?"
Bo Ji kemudian menjelaskan beberapa keanehan dari awal mereka bertemu sampai sekarang. Dimulai ketika bertemu dengannya, lalu mendengar kisahnya. Pemuda itu menceritakan bahwa dirinya tak terlalu pandai dalam ilmu beladiri, tapi nyatanya kecepatan pemuda itu bahkan hampir menyamai Xiao Wang.
Selain itu, ia bahkan mampu melepaskan api di jari telunjuknya dengan sangat mudah.
Malam semakin larut, mereka akhirnya berhenti bertukar pendapat. Dari pertukaran pendapat tersebut juga lah Xiao Wang mulai mencurigai Guiji.
"Bocah, kau bersiaplah. Aku yakin, malam ini akan ada penyerangan yang telah di rencanakan oleh pemuda itu."
"Ya, aku tau."
Ia lantas mengeluarkan pedang berwarna perak, dengan corak biru yang menghiasinya. Terdapat juga tulisan kuno, membuat pedang itu nampak semakin manarik.
Setelah menunggu beberapa saat, tak ada tanda-tanda terjadinya sesuatu yang berbahaya. Palingan ia akan bereaksi ketika seekor monyet yang tiba-tiba saja terjatuh dari pohon dan tepat mengenai kepalanya.
__ADS_1
"Bo Ji, sudah lama kita menunggu, namun tak ada suatu tanda-tanda apapun," keluh Xiao Wang.
"Bersabarlah bocah, jangan lengah."
Saat itu telah sepertiga malam, sudah melewati saat yang di janjikan, namun tetap tak terjadi sesuatu. Xiao Wang pun mulai merasa bosan.
"Aku menunggu sudah sangat lama, namun apa yang aku dapat? Hanya sebuah kebosanan."
"Bersabarlah bocah, tunggu sebentar lagi!"
Xiao Wang menuruti perkataan Bo Ji.
Menunggu beberapa saat, namun masih tak terjadi sesuatu, membuatnya meragukan kembali keyakinannya tadi.
Ia pun berinisiatif untuk membangunkan Guiji.
"Bocah, apa yang kau lakukan?"
Tak ada tanggapan darinya. "Guiji.. Guiji! Bangun, sekarang giliran kau yang menjaga!"
"Eh, Xiao Wang." Guiji terbangun. Ia mengusap-usap matanya sesaat, sebelum akhirnya dapat melihat Xiao Wang dengan jelas.
Mereka bertukar tempat, setelah sebelumnya Xiao Wang yang berjaga, kini giliran ia yang beristirahat.
Xiao Wang memilih menghabiskan waktunya di alam bawah sadarnya.
Satu hari ia di sana, tak terjadi sesuatu di dunia nyata. Dua hari masih tetap sama, sampai pada hari ketiga Bo Ji tiba-tiba menghampirinya dengan raut wajah risau.
"Bocah, sekarang juga kau kembali ke dunia nyata! Aku bisa merasakannya bocah," ucapnya setengah berteriak.
"Maksudmu?"
"Bahaya. Tak ada waktu untuk menjelaskannya. Cepat kembali!"
Meskipun heran, ia tetap menuruti perkataan Bo Ji.
Betapa kagetnya ketika kembali dan menemukan seekor iguana ekor berduri, sedang menggigit-gigit bajunya.
Sontak saja ia langsung menghempaskan hewan tersebut menggunakan tangannya.
Setelahnya ia langsung bangun. Pandangannya menilik sekitar yang saat itu dirinya dikeliling oleh sekumpulan siluman dari berbagai macam usia.
Siluman-siluman itu nampak aneh, dimana semuanya memiliki sorot mata merah menyala. Tak hanya itu, bahkan tubuh mereka berwarna hitam sepenuhnya.
Jumlah mereka pun tak main-main, mengelilingi dirinya.
__ADS_1
"Celaka!"