Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch 69. Turnamen Pemuda Berbakat


__ADS_3

Kelima orang yang mendengar cerita tetua Cheng Yuan, merasakan darahnya mendidih. Nafsu membunuh pun tak bisa mereka tahan hingga merembes memenuhi udara di ruangan itu. Karena nafsu membunuh yang saling berbentrokan, satu rumah pun jadi terguncang dibuatnya.


Merasakan guncangan yang semakin hebat, kelima orang itu lantas menarik kembali aura yang barusan mereka keluarkan sebelum rumah itu porak-poranda dibuatnya.


Yang paling merasa panas adalah Xiao Liu dan Lu Wanqiang. Sementara yang lain tak terima. Ingin rasanya mereka segera kembali ke sekte dan membebaskan mereka yang di tawan sekaligus membalas dendam. Namun tetua Cheng Yuan lebih dulu menenangkan mereka.


"Percuma kalian ke sana. Kalian hanya akan menambah korban tawanan!"


"Apakah tetua meragukan kekuatan Ketua Xiao?" Lu Wanqiang tak terima kakeknya kehilangan sebelah tangan, lantas berucap tanpa berpikir terlebih dahulu.


"Nak Lu, ini bukan masalah kekuatan, namun keselamatan. Jika kita ke sana tanpa rencana terlebih dahulu, meskipun kekuatan yang kita punya kuat, namun hasilnya akan sama saja."


"... Dan juga, kalau mengenai kekuatan, di sana bahkan ada yang lebih kuat dari ketua Xiao."


Memang benar apa yang di ucapkan tetua Cheng Yuan. Jika datang ke sana tanpa persiapan yang matang, maka mereka tidak ada bedanya dengan menyerahkan diri.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?"


"Untuk sekarang, kita fokus pada turnamen dulu. Kita akan memikirkan rencana balas dendam dan penyelamatan nanti setelah turnamen ini selesai di gelar."


Xiao Liu mengangguk tanda setuju dengan rencana tetua Cheng Yuan. "Kau benar. Jika acara ini selesai digelar baru kita memulai balas dendam kita."


Semuanya mengangguk dan sepakat untuk merencanakan balas dendam setelah turnamen Pemuda Berbakat selesai di adakan.


Seminggu kemudian....


Chen Li saat ini sedang duduk menyaksikan dua orang Pemuda-pemudi yang beradu kekuatan di atas arena. Namun karena menurutnya pertarungan itu sangatlah membosankan, maka ia mengalihkan pandangannya ke arena lain.


Memang di hadapannya ini terdapat 6 arena yang masing-masing arena diisi oleh dua orang peserta turnamen Pemuda Berbakat. Selain itu terdapat juga seorang kultivator tahapan Bumi tingkat 3 yang memang di sewa oleh kerajaan Api untuk mengawasi jalannya pertarungan kedua peserta.


Meskipun pandangannya telah ia arahkan di arena lain, namun tetap saja tak ada yang menarik perhatian Chen Li. Menurutnya, pertarungan mereka tak lain hanyalah pertarungan seorang kultivator yang baru saja belajar ilmu beladiri.

__ADS_1


"Hais, membosankan."


Menunggu kapan gilirannya, sekaligus menyaksikan pertarungan yang tak menarik membuatnya merasa mengantuk.


"Hoaam!" Chen Li menguap.


Peserta lain yang kebetulan menyaksikan dirinya yang menguap tak bisa menahan diri untuk mencibir Chen Li.


"Lihatlah bocah ini. Bisa-bisanya ia mengantuk saat menunggu gilirannya. Benar-benar sombong!"


"Aku tak sabar untuk mencincang tubuh lembeknya! Berdoa saja bocah, mudah-mudahan kau tak bertemu denganku nanti. Jika saja aku bertemu denganmu di arena, maka siap-siap saja pulang dengan keadaan cacat!"


Kedua pria itu berani mengatakan demikian karena merasa yakin dengan kemampuan mereka yang berada di tahapan tinggi tingkat 2, sedang bocah itu berada di tahapan Menengah tingkat 6.


Sementara Chen Li yang mendengar bisikan keduanya tak mempedulikannya. Namun dalam hatinya ia berucap.


"Cih, kita lihat saja siapa yang akan mendapatkan cincangan."


"E-eh Lihatlah, itu Mu Liliang bukan? Seorang pemuda tampan sekaligus jenius kedua di sekte Pedang Naga." Seorang wanita berbisik dengan intonasi semangat kepada teman wanita di sampingnya, sembari tangannya menunjuk pemuda yang di maksud.


"Ya, kau benar! Tak hanya itu, ia bahkan salah seorang dari putra seorang kepala keluarga Mu."


"Waah, aku jadi semakin mengidolakannya!"


Melebar mata Xiao Wang ketika mendengar pembicaraan kedua gadis itu setelah sebelumnya matanya tutup-buka tutup-buka tanda ia sedang menahan kantuk.


Ia yang penasaran segera menoleh ke arena mencari pemuda yang bernama Mu Liliang. Kalau tebakannya tak meleset, Mu Liliang ini adalah kakak dari Mu Song, pemuda yang sebelumnya pernah bermasalah dengannya.


Lama ia menganalisa setiap peserta yang bertarung di arena, ia hampir tak menemukan seorang pria yang kedua gadis itu maksud.


Ia pun mempertajam penglihatannya. Nampaklah olehnya seorang pemuda yang paling menonjol di antara peserta lainnya. Dengan Hanfu berwarna putih yang ia kenakan, Rambutnya yang panjang diikat dengan menggunakan kain berwarna putih pula.

__ADS_1


Di genggaman tangan kanannya, sebuah pedang panjang berwarna perak dengan corak naga menghiasi sarungnya.


Pria itu memasang wajah sedikit angkuh.


Bisa dirasakannya kultivasi pemuda itu setidaknya berada di tahapan Tinggi tingkat 5.


Tak bisa di pungkiri bahwa seorang pemuda dengan usia 12 tahunan telah mencapai tahapan tersebut. Sangat luar biasa bukan.


Jika saja tak dimasukan Xiao Wang dan Chen Li dalam daftar jenius muda Kekaisaran Han, mungkin saja Mu Liliang ini termasuk dalam jejeran pemuda paling jenius.


Hal ini di dukung dengan sumberdaya yang di peroleh oleh murid-murid di sekte besar sangat berbeda jauh dengan sekte menengah apalagi sekte kecil.


Selain itu, mereka di ajari oleh seorang kultivator di tahapan Langit tingkat 2 keatas. Bagaimana mereka tidak jenius?


Chen Li memperhatikan Pemuda itu. Agak aneh baginya ketika melihat banyak tatapan kagum dari setiap orang yang melihatnya. Menurutnya, pemuda itu tidak lain hanya seekor tikus baginya.


"Jangan terlalu sombong Li. Sesungguhnya kesombongan seseorang bisa membawa kehancuran baginya."


Tiba-tiba Chen Lu bersuara dalam pikirannya, dan tentu saja Chen Li di buat kaget dengan itu.


"Ia Lu, maafkan aku!"


Tanpa sadar Chen Li telah berbicara melalui mulutnya dan bukan hatinya, membuat tatapan heran sekaligus aneh yang tertuju padanya dapat ia rasakan di sekitarnya.


Chen Li menjadi agak sedikit malu ketika mendapat tatapan itu. Meskipun begitu, ia tetap memasang wajah bodoh amat-nya.


Sementara di atas arena, lawan Mu Liliang yang berada di tahapan tinggi tingkat 2 tak berani melanjutkan pertarungan. Di takutnya, pemuda di hadapannya ini akan menghajarnya habis-habisan.


Ia tahu betul sifat pemuda di hadapannya ini. Jika adiknya suka sekali mencari masalah, maka kakaknya ini suka sekali menyiksa lawannya.


Jadi langkah terbaik yang dapat ia ambil adalah dengan mengucapkan kata menyerah sebelum pertarungan antara keduanya pecah.

__ADS_1


"Cih, dasar lemah. Memang sekte menengah tidak ada bedanya dengan sekte kecil. Sama-sama lemah!" ucap Mu Liliang lantang, setelahnya ia berlalu begitu saja meninggalkan pemuda itu yang menatapnya dengan tatapan penuh membunuh. Namun dirinya tak bisa berbuat apa-apa selain menahan semuanya dalam hati.


__ADS_2