Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch 88. Awal Sebuah Kekacauan


__ADS_3

Pertarungan di atas arena nampak semakin seru seiring dengan berjalannya waktu.


Antara Xiao Wang melawan Chen Li, maupun Hei Fang melawan Gadis bergaun putih. Tak ada yang mau menyerah. Berat sebelah pun tak terlihat dari pertarungan tersebut. Dikarenakan Masing-masing dari mereka memiliki kultivasi yang setara. Dimana Xiao Wang dan Chen Li berada di kultivasi Tahapan Tinggi tingkat 2 sedang kedua gadis di arena seberang juga sama-sama di tahapan Bumi tingkat 1.


"Amukan Dewa Phoenix!"


"Pukulan Ombak!"


Xiao Wang beserta Chen Li sama-sama melepaskan jurus mereka.


Baamm!


Satu arena di buat tergetar karenanya. Meskipun begitu, tidak terjadi sesuatu pada keduanya, hanya terdorong mudur beberapa langkah akibat hempasan angin kencang yang tercipta dari ledakan dua tehnik tersebut.


Saat keduanya hendak melesat kembali melepas serangan ke arah lawan, tiba-tiba saja rombongan orang berpakaian besi dengan bersenjatakan lengkap muncul mengelilingi arena tempat Chen Li dan Xiao Wang melangsungkan pertarungan.


Sontak keduanya langsung menghentikan aksinya dan berbalik memasang kuda-kuda, berjaga-jaga jika saja prajurit itu menyerang mereka.


Kedua gadis yang bertarung di arena seberang, juga menghentikan aksi bertarungnya. Begitupun juga dengan para penonton yang menyaksikan itu. Mereka juga tersentak saat tiba-tiba saja prajurit yang mulai bermunculan dari berbagai pintu, dengan langkah yang menggetarkan aula.


Tanda tanya mulai menyeruak di benak semuanya yang hadir menyaksikan itu. Koar-koar pun tak bisa tak terjadi. Hingga dalam hitungan menit saja pasar malam mulai tercipta di bangku penonton setelah sebelumnya sunyi senyap bak murid yang mendengar ceramah guru galak.


Selang beberapa saat keributan di bangku penonton terjadi, kembali mereka di suguhkan dengan beberapa prajurit yang mulai bermunculan dari pintu utama sambil berbaris rapi, tampaknya mereka sedang menyambut seseorang.


Tak lama setelahnya, seorang pria dengan pakaian mewah serta mahkota di kepalanya terlihat berjalan dengan penuh wibawa.

__ADS_1


Beberapa prajurit berlari sembari membawa kursi mewah, lalu meletakkannya tepat di belakang pria tersebut yang tak lain adalah Raja Chen Huang.


Jenderal Lou Shen maju di atas arena tempat Xiao Wang dan Chen Li bertanding.


"Tangkap pemuda itu!" ucapnya memerintahkan prajurit untuk menangkap Chen Li.


Mendengar perintah darinya, segera prajurit yang berada di dekat arena berlari hendak menangkap Chen Li.


Belum sempat mereka menggapai Chen Li, mereka telah lebih dulu terlempar oleh energi berwarna merah.


"Akhh ... Akhh... Akhh..."


Suara teriakan memilukan terdengar dari prajurit-prajurit tersebut.


Nampaknya energi berwarna merah itu berasal dari pedang dengan aura merah yang kini telah menancap di panggung arena.


"Cih, Jendral Li, akhirnya kau muncul juga. Setelah kejadian malam itu, aku kira kau telah tewas. Ternyata kau masih hidup. Dan yang lebih mengejutkan, kau bahkan berani menampakkan batang hidung mu di hadapan kami semua .... Besar juga nyali mu!" Jenderal Shen Lou berkata dengan seringai sinis terpasang di bibirnya, namun tak di tanggapi oleh lawan bicaranya.


Menunggu beberapa saat, namun tak ada jawaban dari Wan Li, membuat Jenderal Shen Lou kesal.


"Cih, apakah kau sudah sangat hebat sekarang sampai kau berani mengacuhkan ku ... Semuanya, tangkap dia!"


Mendengar perintah dari jenderal Shen Lou, prajurit-prajurit mulai berlarian di atas arena, menyerbu Chen Li beserta Wan Li.


Sementara Kedua gadis yang sebelumnya juga menghentikan pertarungannya, segera melompat menghindar dari tempat itu. Xiao Wang sendiri ingin keluar dari arena menuju tempat dimana ayah beserta kakeknya duduk, namun tindakannya tersebut segera di tahan oleh Bo Ji.

__ADS_1


"Bocah, kau mau kemana? Jangan lari, bantu bocah itu melawan para sampah-sampah kerajaan ini!"


Xiao Wang tidak jadi melompat. "Ai' kenapa aku harus membantunya?"


"Tak ada waktu untuk menjelaskannya. Namun aku yakin semuanya akan kau ketahui saat ini juga ... Cepat bantu bocah itu!"


Tak ingin berdebat, Xiao Wang akhirnya memutuskan untuk membantu Chen Li menghadapi ratusan prajurit yang datang silih berganti menyerang mereka.


Sementara itu, Jenderal Shen Lou juga maju menyerang Wan Li, sedang Chen Li sendiri di sibukkan dengan prajurit-prajurit itu.


"Hmm, tak berguna!" Seorang pria berjubah bergumam pelan di bangku penonton.


Setelahnya suara Pluit yang begitu besar terdengar begitu keras memekik di telinga setiap mereka yang mendengarnya.


Waktu seolah berhenti. Tak ada yang bertindak sebelum peluit itu berhenti terdengar. Hingga dalam kurun waktu semenit, akhirnya Pluit itu tak terdengar lagi. Semuanya pun bernafas lega setelahnya.


"Siapa yang meniup pluit itu?"


"Ada yang tidak beres!"


Berbagai pertanyaan terdengar di mulut para penonton maupun para tetua sekte.


"Jangan-jangan!"


"SEMUANYA... ANGKAT SENJATA, PERTEMPURAN BESAR AKAN SEGERA TERJADI!!"

__ADS_1


Sebuah suara menggema di udara, memperingati setiap kepala yang ada di sana bahwa pertumpahan darah akan segera terbit.


Tepat setelah suara itu selesai terdengar, mereka yang mengenakan tudung maupun jubah, segera menghilang. Dalam sedetik, penonton-penonton yang memang bukan seorang kultivator maupun kultivator tahapan dasar terbaring satu persatu. Kepala-kepala mulai berjatuhan memisahkan diri dari badan. Darah memuncrat hingga menciptakan hujan darah.


__ADS_2