Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch 35. insiden memalukan (revisi)


__ADS_3

"Sekte Pedang Naga!"


Sekte Pedang Naga adalah salah satu sekte besar aliran netral. Wan Li begitu terkejut ketika melihat Setelan yang di kenakan oleh ketujuh pemuda di hadapannya itu, yang menandakan mereka berasal dari sekte tersebut.


"Ow, baguslah kalau paman mengetahui identitas kami.."


"Iyalah, orang mana yang tak mengenali sekte hebat kita." Salah satu pemuda langsung memotong perkataan temannya, ia berkata sambil membusungkan dada dengan angkuhnya, membuat geli Chen Li.


"Untuk itu saya minta kepada paman supaya mengajari anak Paman ini tentang sopan santun," sambung pemuda tadi setelah sebelumnya perkataannya terpotong.


"Cih. Aku pikir siapa yang duluan mencari gara-gara denganku? Dasar tak tahu malu.."


"..Melihat sikap kalian yang tak tahu malu seperti itu, membuatku berasumsi bahwa orang tua kalian tak pernah mengajari kalian tentang sopan santun," ucap Chen Li sambil membuang muka.


"Apa kau bilang?" Salah seorang di antara mereka yang tampaknya lebih tua dari semuanya, naik pitam mendengar ucapan tersebut.


Dengan mata merah melotot dan muka merah, ia menunjuk Chen Li.


"Puft. Hahaha, lihatlah muka jelek mu itu, tak ada bedanya dengan seekor monyet. Hahaha," tawa Chen Li seketika pecah melihat wajah pemuda itu. Ia tak habis pikir, kenapa pemuda ini mudah sekali tersinggung.


"Kau berani mengataiku mirip seekor monyet," berang pemuda tadi dengan tangan yang memegang gagang pedang bersiap melepaskannya dari sarungnya.


"Kapan aku bilang kalau kau mirip monyet, kau sendiri yang mengatakannya barusan."


Mendengar itu, pemuda tersebut semakin marah. Ia lantas maju dan menyerang Chen Li.


Dengan pedang panjang yang berkilau di terpa cahaya mentari ia libaskan ke arah pemuda berpakaian lusuh itu. Pedangnya hampir saja mengenai Chen Li, namun benda kecil langsung menghantam jidatnya membuatnya terpental dua langkah ke belakang.


Pemuda tersebut menjerit sambil memegangi kepalanya yang mengeluarkan darah segar, akibat terkena batu kerikil yang di jentilkan Chen Li padanya.


Keenam orang di belakangnya begitu kaget melihat pemuda tersebut yang tiba-tiba saja terpental dengan kepala yang bocor. Pasalnya, mereka tak melihat pergerakan tangan dari pemuda berpakaian lusuh itu.


"Apa yang kalian lihat, cepat serang dia!"


Keenam pemuda itu tak berani menuruti perkataan pemuda di hadapan mereka, sebab ada orang tua di sisi Chen Li. Sebelumnya mereka tadi berpikir bahwa yang melesatkan batu tersebut adalah pria tua yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Kalian berani tak mematuhi perkataanku. Cepat, serang dia!" bentak pemuda tersebut.

__ADS_1


Keenam orang langsung melesat menghunuskan pedang dan menyerang Chen Li.


Pertarungan antar enam lawan satu terjadi begitu saja, keenam orang itu menyerang Chen Li dengan brutal, sedang yang satu orangnya tak menyerang dan hanya menepis dan menghindar.


Keenam orang bergantian menyerang Chen Li terus-menerus tanpa putus, tak membiarkan ia mengambil ruang untuk bernafas dan mengumpulkan tenaga. Melihat Chen Li yang tak menyerang balas membuat mereka merasa di atas angin.


"Ck, mana wajah sombong yang kau perlihatkan tadi, aku ingin melihatnya sekali lagi," salah satu pemuda berucap sambil melakukan tusukan pada perut lawan.


Chen Li tak menjawab, ia malah memilih menghindari serangan tersebut ke samping.


Pertarungan tersebut berlangsung beberapa saat, hingga keenam orang tersebut nampak telah kelelahan, sedang pemuda yang menjadi lawan mereka tak terlihat tanda-tanda kelelahan sama sekali.


Salah satu dari mereka menyadari ada yang tidak beres, Ia pun mengerutkan keningnya. "Ada yang salah," gumamannya.


Chen Li tersenyum sinis saat pemuda tersebut mengetahui posisinya. "Ch, akhirnya kau menyadarinya juga," ujarnya.


"Dia hanya menguras tenaga kita," decak salah seorang dari mereka.


"Meskipun begitu, situasi kita harusnya lebih di untungkan karena kita berjumlah enam orang, sedang dia hanya sendirian."


"Selama ia tak melakukan pergerakkan, maka tidak akan terjadi sesuatu."


"Gunakan seluruh kemapuan kalian! Kita hanya perlu menyerang dia terus menerus sampai dia kalah."


Tempo serangan mereka semakin di percepat, akan tetapi Chen Li masih mampu menghindarinya tanpa ada halangan yang berarti.


"Sudah menyerah? Sekarang giliran aku!" ujar Chen Li saat melihat mereka yang mulai kelelahan.


Ia mempercepat gerakannya. Seketika ia menghilang dari sana.


"Dimana pemulung itu?"


"Entahlah, perasaan tadi ia masih di depan kita."


"Akh!" Salah satu dari mereka mendapat tinju telak di bagian perutnya hingga membuatnya terpental dan mendarat tepat di atas pohon.


"Apa yang terjadi." Mereka melihat rekan mereka terpental namun tak melihat pergerakan pemuda tersebut di sana.

__ADS_1


"Semuanya waspada!"


Satu persatu dari mereka mendapat tinju hingga membuat mereka terbang ke atas pohon, tulang-tulang mereka yang terkena tonjokan pun retak di buatnya. Kini tinggal seorang pemuda yang semula mendapat tanda di jidatnya.


Chen Li muncul kembali tepat di hadapan pemuda tersebut yang kini nampak tak percaya melihat rekan-rekannya terbang di barengi dengan teriakan memilukan serta suara retakan pada tulang mereka.


Tatapan matanya memandangi muka pemuda tersebut walaupun ia tak dapat melihat wajahnya karena tertutupi oleh tudung. Hanya bibir merah dengan seringai sinis sekaligus menakutkan yang dapat ia saksikan.


Tanpa sadar dirinya termundur dengan sendirinya ketika pemuda tersebut perlahan tapi pasti mendekatinya. Seringai pemuda tersebut semakin melebar sekaligus menyeramkan di matanya.


Ia terus bergerak mundur hingga kakinya kesandung membuatnya terduduk di atas tanah. Chen Li mendekati pemuda itu, dari tangannya muncul bola api lalu ia memainkan bola api tersebut, seolah-olah sedang memamerkannya kepada pemuda di hadapannya.


Sesaat ia menghentikan tindakannya ketika mencium bau aneh.


"Aroma apa ini?" ia melirik pemuda di depannya. Tubuh pemuda tersebut tak berhenti bergetar. pandangannya ia arahkan ke bagian kakinya, nampaklah olehnya tanah beserta celana pemuda itu yang basah.


"Puft, hahaha!" Sontak saja tawanya meledak ketika menemukan aroma tersebut ternyata berasal dari pemuda di hadapannya ini.


Melihat Chen Li yang tertawa terbahak-bahak membuat pemuda tersebut malu, mukanya pun nampak merah padam.


Di bawah pohon, seorang pria tua nampak tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Li'er, sudah cukup." Pria tersebut memegang pundak Chen Li.


"Baik Paman."


Keduanya pun meninggalkan pemuda di hadapannya beserta kawan-kawannya yang masih di atas pohon.


"Li'er, kau harus lebih berhati-hati mulai sekarang. Mereka pasti akan mencari mu, dan membalas perbuatannya barusan."


"Aku tau Paman, kau tenang saja."


Sementara pemuda tadi merasa geram dan malu atas kejadian yang menimpanya tadi.


"Sial, Aku tak akan melepasmu. Lihat saja, aku akan memberi perhitungan kepada kau suatu saat nanti."


Ia pun berjalan pulang, menghiraukan teman-temannya yang meminta tolong di atas pohon.

__ADS_1


__ADS_2