
Xiao Wang memutuskan untuk kembali ke dunia nyata nanti. Ia berniat untuk berlatih di alam bawah sadarnya.
Setelah satu malam penuh berlatih di alam bawah sadarnya, ia pun akhirnya menerobos tahap Menengah tingkat 4.
Sementara tubuhnya di dunia nyata yang sedang terbaring tak sadarkan diri tiba-tiba saja mengeluarkan suara ledakan.
Xiao Meng dan Xiao Liu yang berjaga di samping tubuh Xiao Wang di buat terkejut oleh suara ledakan energi yang berasal dari tubuh Xiao Wang.
Segera mereka berdua menghampiri Xiao Wang. Dan betapa kagetnya mereka ketika melihat apa yang terjadi pada Xiao Wang.
"Tahap Menengah tingkat 4."
"Ayah, bagaimana ini bisa terjadi?"
"Entahlah, aku juga tak tau. Anak ini benar-benar ajaib."
"Mungkin ini ada hubungannya dengan kejadian-kejadian yang menimpa Xiao Wang baru-baru ini."
"Aku pikir juga begitu. Kita harus benar-benar merahasiakan hal ini. Aku takut, jika ada yang mengetahui tentang ini, bukan tak mungkin Wang'er akan menjadi incaran banyak orang yang haus akan kekuatan dan kekuasaan."
"Kau benar ayah."
Mereka terus bertukar pendapat. Tanpa mereka sadari, seseorang telah diam-diam mendengar pembicaraan mereka.
Hingga ketika langit kelam berganti menjadi biru muda, barulah mereka menghentikan pembicaraan mereka ketika melihat Xiao Wang tersadar.
"Wang'er, bagaimana perasaanmu?" Tanya Xiao Liu.
"Aku baik-baik saja kakek," lirih Xiao Wang.
"Syukurlah. Apakah kau masih mau melanjutkan pertandingan, sebentar?"
"Tentu saja ayah, aku sudah mempersiapkan ini sejak dulu, dan aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."
"Terserah kau saja. Tapi Wang'er jangan memaksakan diri, jika kau tak mampu maka tak usah melanjutkan pertandingan ini. Aku tak mau terjadi apa-apa kepadamu."
"Wang'er akan baik-baik saja ayah, kakek. Kalian tenang saja."
"Baiklah, sekarang bersiap-siaplah, sebentar lagi pertandingan akan di mulai."
"Baik ayah." Xiao Wang pun beranjak meninggalkan Xiao Meng dan Xiao Liu, hendak membersihkan diri. Setelah itu ia lantas ke dapur untuk mengisi energi.
__ADS_1
Setelahnya, bersama kakek, ayah dan ibunya, mereka sama-sama berjalan menuju aula pertandingan.
Nampak, di sana telah ramai dengan orang-orang yang berbondong-bondong untuk menyaksikan para peserta semi final bertanding.
Kali ini, nampak berbeda dari kemarin. Yang mana, bangku penonton, kemarin masih ada beberapa yang tak terisi, sekarang telah penuh dengan orang-orang yang ingin melihat para juara.
Di tempat tetua juga mengalami perubahan jumlah. Dimana Kemarin hanya ada lima belas tetua, sekarang bertambah lima orang, menjadi dua puluh tetua yang hadir. Termasuk tetua Cheng Yuan yang kemarin tak terlihat, sekarang telah nampak.
Beberapa saat, pertandingan pun resmi di mulai. Du Yan kembali ke arena, lalu ia berbicara lantang.
"Mohon perhatian semua!! Hari ini adalah hari yang kita tunggu-tunggu, dimana hari ini juga para peserta yang masuk final akan bertanding."
Kegaduhan terjadi di bangku penonton, mereka sudah tak sabar melihat siapa yang akan menjadi juara. Tak sedikit pula yang mewanti-wanti akan siapa pemenangnya.
"Para peserta silahkan memasuki arena!" Pinta Du Yan.
Kelima peserta semi final pun memasuki arena. Di sana ada Lu Wanqiang, Hai Yue, Xiao Wang, Yuan Fang, dan seorang pemuda yang berumur 9 tahun.
"Wah, junior Xiao, kau sudah mencapai tahap Menengah tingkat 4 rupanya. Kau benar-benar tak terduga."
"Terima kasih senior Yuan. Junior hanya beruntung."
Hai Yue yang mendengar ucapan Yuan Fang, sangat terkejut.
"Idih, belagak," cecar Hai Yue, namun tidak di tanggapi oleh Xiao Wang.
Setelah ke 5 peserta berada di tempat, Du Yan pun kembali berbicara.
"Selamat karena kalian telah resmi menjadi Murid utama. Walaupun kalian kalah nantinya, namun kalian akan tetap mendapat hadiah."
Tanpa di jelaskan oleh Du Yan pun mereka telah mengetahui hadiahnya. Di mana mereka akan di berikan tempat tinggal baru, juga sumberdaya lebih. Selain itu, mereka juga bisa memilih para tetua yang berada di tahap Bumi untuk di jadikan guru.
"Baik, Tanpa menunda-nunda waktu, langsung saja kita mulai acaranya. Tapi sebelum itu, berikan apresiasi yang meriah untuk para murid utama kita!"
Sontak saja kerecokan terjadi di bangku penonton disebabkan oleh para penonton yang memberikan aplaus kepada peserta semi final.
Setelah agak tenang, Du Yan kembali melanjutkan kalimatnya.
"Perlu diketahui oleh para peserta, bahwa pada hari ini terdapat tiga putaran yang harus di lewati peserta.
Pada putaran pertama, kita akan mencari peserta yang lolos 4 besar. Putaran ke dua untuk mencari peserta yang lolos babak final. Dan putaran terakhir adalah penentuan juara 1 juara 2 dan juara 3." Du Yan menjeda kalimatnya sebentar, lalu ia melanjutkan.
__ADS_1
"Pada putaran pertama, Aku akan melemparkan lima bola ini, dan kalian harus menangkap masing-masing satu bola.
Diantara kelima bola ini, salah satunya tidak memiliki nomor. Siapa yang mendapatkan bola itu, maka ia akan langsung dinyatakan gugur."
Mendengar itu, raut wajah kelimanya seketika memburuk. Perasaan mereka campur aduk, antara gugup, cemas dan ada sedikit tidak terima dengan itu.
Tanpa menunggu tanggapan ke kelimanya, Du Yan langsung berjalan menuju meja tempat bola-bola penentu nasib itu berada. Lalu dengan satu kali hentakan tangannya, bola-bola itu melayang tinggi.
Melihat itu, kelima peserta dengan segera melompat dan menangkap salah satu bola, dengan harapan tangkapan mereka membuahkan hasil seperti yang diharapkan.
Setelah itu, kelima peserta memeriksa bola yang mereka tangkap dengan harap-harap cemas.
"Yes.."
"Yes.."
Lu Wanqiang yang mendapatkan bola bernomor langsung memasang seringai mengejek ke arah Xiao Wang.
Xiao Wang sendiri menanggapi itu dengan memasang wajah datar.
"Yahh." Terdengar dengusan dari pemuda berumur 9 tahun tersebut.
Melihat semua peserta telah memeriksa bola-bola tersebut, Du Yan pun mengangkat bicara.
"Yang mendapat bola tak bernomor, silahkan keluar dari arena!"
"Hss." Iya nampak tak terima kalah begitu saja, tanpa bertarung. Iya ingin sekali protes, namun langsung menghentikan niatnya ketika melihat tatapan tajam Du Yan.
Dengan kesal, ia melangkah meninggalkan arena, menuju ke bangku para peserta..
"Baik, karena peserta tinggal empat orang, langsung saja kita mulai acaranya. Peraturannya masih tetap sama seperti kemarin."
"Peserta yang mendapat nomor urutan tampil pertama, silahkan bersiap di tengah arena. Sedangkan untuk peserta yang mendapat nomor tampil 2 silahkan menuju ke bangku peserta, menunggu giliran kedua."
Hai Yue dan Lu Wanqiang, berjalan menuju bangku peserta menyisahkan Xiao Wang dan Yuan Fang yang nampak telah siap bertarung.
Du Yan kembali menjelaskan peraturan, sebelum akhirnya mempersilahkan keduanya untuk memulai pertandingan.
Xiao Wang memberikan hormat kepada lawannya, begitupun juga dengan Yuan Fang.
"Mohon bimbingannya senior."
__ADS_1
Lalu keduanya melesat ke arah lawan masing-masing. Yuan Fang dengan langkah kilatnya, dalam sekejap telah berada di hadapan Xiao Wang dan langsung menebaskan pedangnya kearah Xiao Wang, namun dapat di tangkis olehnya.