
"Aku akan memaafkan kalian, dengan syarat, kalian harus mencium kakiku."
"Puft, hahaha." Tawa Chen Li seketika meledak mendengar ucapannya barusan.
"Kau!" Muka Pangeran Chen Zihao memerah, entah itu karena malu, atau karena marah melihat Chen Li menertawainya.
Lantas pandangannya ia arahkan pada Jenderal Shen Lou. Seakan mengerti arti lirikan itu, Jenderal Shen Lou lantas menghampiri Chen Li.
"Kau mau mencari mati bocah!" Ancamnya, namun di tanggapi Chen Li dengan tawa yang semakin menjadi-jadi.
"Hahaha!" tawa Chen Li, sambil memegangi perutnya yang sakit.
"Paman, kau ini sangat lucu. Puft..hahaha!"
"Bocah, ada apa denganmu." Melihat Chen Li yang tak berhenti tertawa membuat jenderal Shen Lou agak takut. Takut bocah di hadapannya ini kesurupan hantu. Ia lantas melirik pria bertudung di belakang Chen Li. Namun tak ada respon darinya, membuat ia semakin kesal.
"Bocah, jika kau mau menakut-nakutiku dengan berpura-pura kesurupan. Kau salah besar, karena aku tak akan takut bocah."
Suara tawa Chen Li semakin membesar dan menggema di seluruh warung makan. Tak hanya itu, bahkan tempat makan itu bergetar seiring dengan tawa Chen Li yang meledak-ledak.
Jendral Shen Lou beserta orang-orang yang ada di sana seketika merinding mendengar tawa tersebut. Lantas mereka langsung menutup telinga dengan bantuan tangan.
Beberapa saat, tawa tersebut akhirnya reda. Bersamaan dengan itu, sosok Chen Li dan Wan Li tak terlihat lagi di sana. Dari kursi bekas tempat duduk Wan Li terdapat sebuah bungkusan berisi koin emas.
"Sial," umpat Jenderal Shen Lou.
"Jenderal, aku tak mau tahu. Kau harus cari tau tentang identitas mereka! Aku tak akan melupakan hari ini, Jendral. Pengemis itu sudah sangat melampaui batas."
"Baik yang mulia pangeran."
*
Dua bayangan nampak melesat menembus angin malam yang bertiup agak kencang malam itu. Sesaat, salah satu bayangan menghilang di telan sinar sang rembulan malam.
Sosok tersebut tiba-tiba berhenti, nampaklah wajahnya yang terpapar sinar rembulan. "Ch, kemana perginya anak itu. Menyusahkan!" Ia pun berbalik dan mencari orang yang di maksud.
Di sisi lain, Chen Li yang semula berlari bersama Wan Li mendadak memisahkan diri. Ia segera berbalik arah berlari dengan kecepatan tinggi, lalu berhenti tepat di depan seorang gadis cantik bergaun Hitam dengan garis-garis merah darah di bagian bahu dan pinggangnya.
__ADS_1
"Kenapa kau memperhatikanku?" tanya Chen Li pada gadis itu. Sesaat ia mengernyitkan alisnya ketika tak mampu mengukur kultivasi gadis tersebut. Tak hanya itu, gadis itu bahkan bisa mengawasinya walaupun ia berlari dengan kecepatan Bumi tingkat 4.
Senyum sinis terpampang di bibir merah gadis itu. "Siapa yang memperhatikanmu."
"Kau pikir aku tak tau bahwa kau tadi sedang mengawasi aku bersama pamanku."
"Kenapa kau begitu percaya diri dengan ucapan mu," ucap gadis tersebut sambil melibaskan rambutnya yang hanya sebahu.
"Ow, aku tau. Kau pasti tertarik padaku kan, sampai-sampai kau rela memperhatikanku dari kejauhan," goda Chen Li.
"Apa kau bilang. Jangan terlalu besar kepala nanti ku pecahkan kepalamu." Senyuman sinisnya menghilang berganti dengan wajah yang merah dengan mata melotot ke arahnya.
"Sudahlah, tak usah malu-malu. Satu dunia pun tahu bahwa aku ini tampan. Jika kau mau mengungkapkannya sekarang, mungkin aku masih bisa menerimamu." Kembali godaan maut di lancarkan oleh Chen Li untuk memancing gadis tersebut.
"Kau!" Gadis itu menunjuk Chen Li dengan jari telunjuknya. Namun tanggapan yang di tunjukan pemuda itu sungguh sangat berbeda dengan yang ia harapkan. Justru pemuda itu memasang senyum lebar membuatnya bertambah manis.
Ya, Pemuda tampan berusia delapan tahun saat ini sedang menggoda gadis cantik yang kira-kira juga seumuran dengannya.
Melihat senyuman itu membuat gadis tersebut merasa jijik. Karena kesal, ia lantas memasang ancang-ancang bersiap menyerang Chen Li.
Seorang gadis cantik dengan Rambut yang hanya sebagian diikat sedang sebagian lagi di biarkan tergerai, beserta poni panjang yang melebihi dagu, mengenakan gaun yang berwarna putih dan garis-garis biru muda di bagian pinggang dan kedua bahunya. Gadis itu berjalan ke arah mereka berdua.
Ekspresi khawatir terpampang jelas di wajah gadis yang di panggil Hei itu, ketika melihat gadis bergaun putih datang menghampirinya.
"Ai Fang, aku bisa menjelaskan."
Memang sebelumnya, Hei Fang dan Ai Fang sedang di goda oleh sekelompok pria.
Ketika pertarungan pecah antara sekelompok pria dan kedua gadis itu, tiba-tiba saja Hei Fang meninggalkan Ai Fang sendirian.
"Kau mau menjelaskan apa, semuanya sudah jelas, bahwa kau tadi tega meninggalkan ku sendirian. Apakah kau mau adikmu yang cantik jelita ini ternodai oleh pria-pria sialan itu," ucapnya marah.
"Bu-bukan begitu maksudku Ai Fang. Ta-tapi.."
"Alah, tak usah kau mengarang cerita. Aku sudah tau maksud mu. Kau.." Berbagai kata-kata omelan keluar dari mulut gadis itu.
Hei Fang sendiri hanya mendengarkan tanpa membalas Omelan adiknya. Sebenarnya bukan maksudnya untuk meninggalkan Ai Fang sendirian, tapi saat itu ia merasakan adanya sesuatu dengan kecepatan tinggi yang melintasi mereka dari atas.
__ADS_1
Rasa penasaran, muncul di benaknya terkait sosok itu. ia pun mengikuti sosok itu yang ternyata adalah seorang pria paruh baya beserta seorang pemuda, yang melesat cepat.
Sementara Chen Li yang tak mengerti dengan semua itu, memilih hanya menyimak apa yang di perbincangkan oleh kedua saudari itu.
Saat sedang memperhatikan kedua gadis tersebut, tiba-tiba saja seseorang memegangi pundaknya. Karena terkejut, ia lantas memegang tangan tersebut lalu memutarnya dan mengunci pergerakan pemiliknya.
"Adede-de. Li'er apa yang kau lakukan?"
"Ehh, Paman Li. ma-maafkan aku!" sontak Chen Li langsung melepaskan kunciannya.
"Li'er, kau dari mana. Aku telah lama mencari mu."
"Maafkan Aku Paman. aku tak akan mengulanginya lagi."
"Baiklah, mari kita cari penginapan terlebih dahulu, takut keburu larut."
"Umm." Dalam sedetik, keduanya telah menghilang dari sana.
Sementara kedua gadis itu juga pergi dari sana, mencari penginapan. Karena terlalu fokus pada saudarinya, Hei Fang sampai lupa pada sosok pemuda tadi.
*
BAM!!
Suara ledakan terdengar dari dalam tubuh pemuda itu. Ia lantas membuka matanya beberapa saat.
"Akhirnya Aku berhasil menerobos tahap Langit tingkat 2." Senyum simpul terpajang jelas di bibirnya.
ia lantas berenang keluar dari air yang memancarkan uap. Lalu mengenakan pakaiannya, setelah sebelumnya tak ada seutas benang pun yang di kenakannya.
"Bo Ji, sudah berapa lama aku di sini?"
"Kalau aku tak salah hitung, mungkin sudah setahun kau berada di sini."
"APA?"
"Benar BOCAH!"
__ADS_1