
Kota itu terlihat sangat besar dan indah dari kejauhan. Dengan tembok kokoh nan tinggi yang membentengi setiap sisi dan sudutnya. Di setiap sisinya terdapat masing-masing pintu gerbang, dengan penjaga yang berjaga di sana.
Dari jarak sekitar beribu-ribu meter jauhnya, nampak dua orang yang sedang berlari kencang ke arah kota itu.
"Paman, berapa hari lagi kita akan sampai ke sana?" tanya Chen Li kepada seorang pria yang berlari tepat di depannya
"Tidak lama Li'er. Paling lambat besok dan paling cepat malam ini kita akan sampai di kota Baiyun."
"Ow."
Lama mereka berlari tanpa istirahat, hingga matahari pun telah tenggelam di balik cakrawala.
"Li'er, sebaiknya kita berhenti dulu. Malam ini kita beristirahat terlebih dahulu. Besok kita akan memulai kembali perjalanan kita!"
Wan Li mengatakan itu bukan tanpa alasan. Meskipun stamina mereka masih dibilang cukup untuk kembali melanjutkan perjalanan, namun terhitung sudah tiga hari mereka berlari tanpa berhenti.
"Baiklah Paman."
Mereka berdua pun berpisah saat itu juga. Chen Li ke kanan sedang Wan Li berlari ke kiri.
Beberapa saat Chen Li kembali dengan membawa ranting-ranting kayu kering di tangannya.
Setelah mengumpulkannya menjadi satu, Chen Li menjentikkan jarinya, setelah itu percikan bunga api melesat ke arah gundukan kayu bakar itu.
Whushh!
Bunga api mendadak menjadi api yang menyebar sesaat ketika bersentuhan dengan salah satu ranting, sebelum akhirnya menyatu kembali, melahap ranting-ranting kayu itu.
Selesai membakar kayu-kayu itu, Wan Li juga nampak telah kembali dengan membawa dua ekor ayam hutan.
Wan Li duduk di hadapan Chen Li dengan api unggun yang memisahkan keduanya. Sambil membakar dua ekor ayam hutan itu, Wan Li juga menceritakan dongeng kepada Chen Li, dongeng dengan judul Reinkarnasi Dua Dewa.
Malam itu, mereka tidak tidur. Chen Li fokus menyimak apa yang dikisahkan oleh Wan Li padanya sambil menyantap ayam hutan yang kini tinggal paha kanannya. Sesekali ia juga akan berbicara atau bertanya ketika ada alur yang membuatnya penasaran.
Wan Li terus saja bercerita, hingga tanpa terasa waktu telah menunjukkan sepertiga malam. Ayam-ayam hutan pun tak berhenti berkokok kala itu.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan saat pagi-pagi buta, dan saat matahari tepat di atas kepala, keduanya pun sampai di Kota Baiyun.
__ADS_1
Nampak di pintu gerbang masuk kota, telah banyak orang yang mengantri hendak memasuki kota. Setelah beberapa saat menunggu, tibalah giliran mereka.
"Perlihatkan identitas kalian!" Salah satu prajurit yang berjaga di situ berkata, dengan nada angkuh dan terkesan merendahkan.
Mendengar intonasi prajurit itu, hati Chen Li menjadi agak panas dibuatnya.
"Apa maksud dari nada yang kau keluarkan tadi. Kau merendahkan kami karena pakaian kami yang jelek ini?" ucap Chen Li dengan nada tinggi.
"Bocah ******, dimana sopan santun mu. Ya! aku memang merendahkan kalian, lantas kau mau apa? Mau menghajarku, hah!"
Bukk!
Kepalan tangan mungil Chen Li berhasil mendarat tepat di hidung prajurit itu, membuatnya langsung mengeluarkan darah.
"Sialan kau Bocah, akan ku potong tangan lancang mu!" Prajurit itu memegang hidungnya yang tak henti-hentinya mengeluarkan darah segar.
"Apakah kau ini pikun pak tua. Kau kan yang memintanya barusan? Lantas, di mana letak kesalahanku?"
"Sialan!"
Belum sempat pedang prajurit itu mengenai Chen Li, mendadak pedang itu tertahan oleh pedang yang masih tersarung rapi.
Ya, orang yang menahan serangan prajurit itu adalah Wan Li. Seketika kejadian yang lalu ketika di kota kecil kembali terulang lagi di sini.
"Li'er, jangan membuat masalah terlalu jauh!" tegur Wan Li.
"... Eh, mohon maaf atas kelancangan keponakanku tuan!" lanjutnya dengan nada sopan. Kali ini ia tujukan untuk prajurit itu yang kini sempat mematung sesaat melihat dirinya yang seperti tidak menggunakan Qi sedikitpun menahan laju pedangnya.
Padahal, karena emosinya yang memuncak tadi, prajurit itu menggunakan segenap kemampuannya ketika melayangkan pedangnya barusan. Namun ia tak menyangka pria yang dikira pemulung itu mempunyai kekuatan besar yang tersimpan dari dalam dirinya. Dan tentu saja mencari masalah dengan mereka sama saja dengan mencari kematiannya.
Akan tetapi, ia tetap menunjukkan wajah angkuhnya di depan kedua orang itu, karena berpikir mereka tidak akan melakukan hal yang lebih jauh. Mengingat dirinya yang merupakan bagian dari pasukan kerajaan Api.
"Kau...."
Belum sempat prajurit itu menyelesaikan kalimatnya, Sebuah suara yang datang dari belakang kedua pria itu memotong kalimatnya.
"Ada apa ini?"
__ADS_1
Seorang pria yang mengendarai kuda dengan beberapa prajurit di belakangnya yang juga mengendarai kuda menghampiri mereka.
Sontak, semuanya langsung berlutut, tak terkecuali Wan Li. Chen Li yang awalnya tak ingin berlutut segera menekukkan kakinya ketika Wan Li menarik tangannya.
"A-ampun yang mulia. Kami tadi hanya melakukan tugas kami, namun kedua orang ini datang dan mencari keributan di sini," jelas Pria tadi sambil tangannya kembali memegangi hidungnya yang keluar darah.
"Benar Yang Mulia. Bahkan anak kecil itu berani memukuli dia, Yang Mulia." Prajurit lain membenarkan perkataanya sambil menunjuk dirinya yang menjadi korban tonjokan Chen Li.
Pria yang di anggap Yang Mulia oleh prajurit tadi menoleh Prajurit yang ditunjuk yang kini tengah memegangi hidungnya. Memang benar apa yang di katakan prajurit itu bahwa salah satu rekannya saat ini sedang memegangi hidungnya yang mimisan.
Pandangannya pun ia arahkan pada kedua pria berpakaian lusuh dan bertudung itu. Ia merasakan sesuatu yang familiar terhadap kedua orang ini.
"Apakah benar yang di katakan prajurit itu?" tanyanya kepada kedua pria bertudung.
"Tidak..." Chen Li ingin membela namun segera di hentikan oleh Wan Li.
"Li'er, berhenti berucap?" bentak pelan Wan Li.
"Baik paman!" Chen Li nampak tidak ikhlas saat ucapannya kali ini di potong oleh Wan Li. Terbukti dari nada yang dikeluarkan saja sudah menunjukan ia sangat kesal.
"Yang Mulia, mohon kiranya yang mulia mau memaafkan kelakuan keponakanku ini," Wan Li menundukkan kepalanya.
Pria itu mulai tertarik dengan dua orang yang berlutut di hadapannya ini, apalagi pada anak itu. Ia tak menyangka tangan mungil anak itu bisa membuat seorang kultivator tahap Menengah tingkat 2 terluka cukup serius.
"Iya, tidak apa-apa tuan! Mari kita masuk ke dalam!"
Perkataan Orang yang di panggil tuan muda itu seketika mengejutkan semuanya.
"Ta-tapi Yang...."
"Diam!"
Prajurit itu seketika terdiam saat itu juga.
"Berani kau berkata, akan ku potong lidahmu!"
Wan Li beserta Chen Li pun memasuki kota bersama-sama orang itu. Saat melewati prajurit tadi, Chen Li bisa merasakan nafsu membunuh dari prajurit itu yang diarahkan padanya. Namun tanggapan yang diberikan Chen Li justru membuat mental pria itu nyusut, anak itu tak terpengaruh sedikitpun.
__ADS_1