Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch 28. Tragedi Lu Wanqiang II


__ADS_3

Lu Wanqiang melesat cepat ke arah Xiao Wang. Tubuhnya memancarkan aura hitam pekat, dengan pedang di tangannya ia Lesatkan kearah kepala Xiao Wang.


Banyak yang heran melihat perubahan yang terjadi pada Lu Wanqiang. Begitupun juga dengan para tetua, semua pandangan tetua tertuju pada salah satu tetua yang duduk di pojok.


"Kenapa kalian menatapku. Aku tak tahu apa-apa," ujar tetua tersebut, yang tak lain adalah tetua ketiga, Lu Duanyan.


Ia juga nampak heran dengan perubahan yang terjadi pada cucunya, yang tiba-tiba saja memancarkan aura hitam pekat. Tak hanya itu, ia bahkan tak dapat mengukur kekuatan dari Lu Wanqiang saat ini berada di tahapan apa.


Xiao Liu beranjak dari tempat duduknya menuju tempat Lu Duanyan.


"Apa yang terjadi pada cucumu Tetua Lu?"


"Entahlah ketua, aku juga tak tahu menahu soal itu."


"Tetua Lu, jika saja sesuatu terjadi pada cucuku disebabkan perubahan pada cucumu, aku tak akan melepaskan mu," tekan Xiao Liu lalu berjalan kembali ke tempatnya.


"Ck-ck-ck. Tetua Lu, aku sangat kasihan padamu. Karena cucumu, ketua bahkan sampai hati menekan mu," gumam Pendekar Tubuh Angin memprovokasi tetua Lu Duanyan.


"Kau jangan memanas-manasi aku Bao tua."


"Aku tidak memanas-manasi mu tetua Lu yang terhormat. Tapi itulah kenyataanya, aku yakin jika cucumu kehilangan kendali atas dirinya yang di sebabkan oleh sesuatu itu, maka siap-siap saja untuk menerima kemurkaan ketua Xiao. To, bukan tak mungkin kan cucumu melukai cucu ketua."


"Diam! Aku tak mau lagi mendengar ocehan mu Bao tua. Berani kau berkata, maka akan ku pastikan lidahmu terpisah dari mulutmu."


Mendengar itu, tetua Hai Yue langsung terdiam, tak berani berkata-kata. Karena ia tahu, bagaimana sifat orang di sebelahnya ini. Ancamannya bukan sembarang ancam-ancam seperti kebanyakan orang. Tapi, setiap gertakan yang keluar dari mulutnya, pasti akan ia tepati.


Kembali ke arena, Du Yan yang melihat keanehan terjadi pada Lu Wanqiang langsung melirik Xiao Liu, meminta pendapat darinya.


Namun Xiao Liu nampak tak memperhatikan dirinya, perhatiannya terpusat pada arena, di mana cucunya sedang bertarung melawan Lu Wanqiang di sana.


Nampak Xiao Wang yang terus-terusan di desak oleh Lu Wanqiang. Serangan yang di sodorkan kepadanya terlalu kuat, bahkan tebasan pelan darinya saja mampu menghempaskannya ketika ia menangkis menggunakan pedang.


"Butuh bantuan bocah?" tawar Bo Ji.

__ADS_1


"Tak perlu, aku mau lihat sejauh mana kemampuanku."


"Terserah. Asalkan Kau Bahagia."


Xiao Wang bangkit, ia menciptakan 15 Anak panah lalu melemparnya ke arah Lu Wanqiang.


Lu Wanqiang yang melihat itu memasang seringai sinis mengerikan. Ketika serangan anak-anak panah itu hampir mengenainya, tiba-tiba saja dirinya menghilang.


Xiao Wang menjadi waspada, ia juga tak merasakan hawa keberadaanya. Tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu berbahaya di belakangnya.


Segera ia melompat ke depan, namun bahaya tersebut tetap mengikuti di belakangnya.


Khawatir, begitulah yang di rasakan Xiao Wang saat ini. Ia mengambil sikap sia siaga, menimang-nimang serangan lawannya.


Lu Wanqiang kembali muncul di belakang Xiao Wang. Dengan pedang di tangannya, ia hendak menusuk Xiao Wang.


Belum sempat mengenai kulit lawan, pedang itu tiba-tiba di hantam sesuatu dan terlempar.


Mendengar itu, Xiao Wang lantas menghindar dari situ, lalu ia mendapati Lu Wanqiang di belakangnya, menatap ke arah tetua.


"Ck-ck-ck. Tetua Lu, aku sangat kasihan melihat cucumu. Begitu besarkah keinginannya untuk menang, sampai-sampai ia harus melakukan cara curang seperti itu. Benar-benar memalukan." Pendekar Tubuh Angin kembali memprovokasinya.


Lu Duanyan nampak semakin tersulut emosinya mendengar itu. Ia lantas bangkit dari tempat duduknya, terbang ke tengah-tengah arena.


"LU WANQIANG, APA YANG KAU LAKUKAN?" Terdengar suaranya yang menggema seisi aula.


Lu Wanqiang nampak tak memperhatikan ucapannya tadi. Ia malah memandang datar pria tua itu.


Lu Duanyan mendarat tepat di depan Xiao Wang.


"Nak, kau pergilah dari sini, sepertinya orang yang ada di hadapan kita saat ini bukan lagi Lu Wanqiang yang kita kenal. Tubuhnya seperti di kendalikan oleh orang lain."


Xiao Wang mengangguk lalu beranjak meninggalkan arena. Lu Wanqiang yang melihat Xiao Wang meninggalkan arena lantas bergerak menghentikannya, namun ia langsung di cegah oleh Lu Duanyan.

__ADS_1


Lu wanqiang yang kesal karena di halau oleh Lu Duanyan lantas menyerangnya dengan brutal.


Keduanya pun bertarung di atas arena di saksikan oleh banyak pasang mata. Pertarungan keduanya tampak imbang, membuat semua orang di sana terkagum-kagum dengan itu.


Dari pertukaran serangan itu juga, Lu Duanyan mengetahui kultivasi Lu Wanqiang saat ini berada di tahap Bumi tingkat 5


"Lu Wanqiang, apa yang terjadi padamu." Disela-sela pertarungan, Lu Duanyan masih sempat-sempatnya bertanya. Namun tak di gubris oleh orang yang di tanya. Ekspresinya pun tak berubah, hanya wajah datar dan tatapan mata kosong yang di dapatnya.


Semakin lama, tempo serangan keduanya semakin cepat. Beberapa saat, keduanya mengambil jarak.


"Apa yang anak ini lakukan, sehingga ia bisa sekuat ini," batin Lu Duanyan.


Ia pun memutuskan untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya. Ia menutup matanya, bersamaan dengan itu energi coklat muncul di sekitarnya. Setelahnya ia membuka mata, dalam sekejap ia telah menghilang.


Tak sampai sedetik, dirinya telah berada di hadapan Lu Wanqiang tangannya yang terkepal dan di lapisi tanah ia arahkan pada cucunya.


Sontak, Lu Wanqiang yang kaget dengan kemunculan Lu Duanyan yang tiba-tiba, langsung melakukan gerakan yang sama sepertinya.


Wushh!


Kedua tinju bertemu menciptakan energi angin yang menyebar di berbagai arah. Lu Wanqiang sendiri di buat terdorong 6 meter ke belakang, sedang Lu Duanyan tak bergeming, tetap di tempatnya.


Banyak yang menyaksikan itu merasa takjub sekaligus sangat bersemangat. Lantaran baru kali ini mereka mendapat kesempatan melihat kemampuan asli dari seorang kultivator tahap Langit tingkat 1. Mata mereka melebar dan bersinar, tak ingin mereka mengedipkan mata walau sekali supaya terus menyaksikan dan tanpa melewatkan sedikit pun aksi dari tetua ketiga itu.


Ekspresi datar yang selama ini di perlihatkan oleh Lu Wanqiang berubah menjadi kemarahan. Ia lantas melakukan suatu gerakan yang tidak di ketahui Lu Duanyan.


Pusaran debu gelap bergerak mengikuti arah gerak tangan Lu Wanqiang. Debu gelap itu lalu terkumpul ke dalam pedangnya, seketika pedang tersebut berganti warna menjadi hitam pekat. Perlahan tapi pasti, pedang hitam itu membesar hingga memiliki ukuran 2 kali lipat dari sebelumnya.


Dimana, sebelumnya pedang tersebut memiliki panjang 1 meter dan lebar 7 cm, beralih menjadi memiliki panjang 2 meter dan lebar 14 cm.


Tak mau kalah dengan cucunya, Lu Duanyan juga melakukan suatu gerakan tangan. Tiba-tiba, tanah di bawah memisahkan diri dari kawannya lantas bergabung dengan pedang Lu Duanyan.


Pedangnya pun perlahan juga mengalami transformasi bentuk, namun tak mengalami perubahan pada ukurannya.

__ADS_1


Setelah itu keduanya melesat menyerang lawan masing-masing.


__ADS_2