Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch 79. Pertarungan Sengit


__ADS_3

Mu Liliang, begitu terkesiap saat kedua matanya ia buka. Setelah sebelumnya kedua matanya terpaksa ia tutup rapat dikarenakan cahaya menyilaukan yang entah dari mana munculnya menyapa kedua matanya.


Hingga ketika ia membuka mata, dirinya telah mendapati cahaya tersebut ternyata berasal dari Chen Li. Saking terang cahaya itu sampai-sampai kepulan debu berbentuk asap yang menyebar seolah-olah telah habis di telan oleh cahaya itu.


Mu Liliang begitu tak menyangka karena pemuda yang menjadi lawannya, yang sebelumnya sempat terkena serangan energi berbentuk Naga Api dari Teknik Pedang Naga Api-nya, kini tidak terjadi sesuatu padanya. Bahkan kultivasinya meningkat satu tahapan, dimana yang tadinya tahapan Menengah tingkat 6 kini naik menjadi tahapan Tinggi tingkat 1.


Tanpa sadar, dirinya termundur satu langkah dibuatnya.


"Ba-bagaimana mungkin?" gemetar suaranya ketika mengucapakan kalimat itu.


Serangan andalan sekte Pedang Naga, yang hanya khusus di ajarkan untuk mereka yang menjadi murid inti, nyatanya tak berpengaruh kepada pemuda itu. Bahkan ia begitu yakin sebelumnya jikalau Chen Li tak akan mampu menahannya tadi.

__ADS_1


Sementara Chen Li yang masih dalam posisi bersila-nya kini membuka kedua mata. Bisa di lihatnya, banyak pasang mata yang tertuju ke arahnya. Terutama pemuda yang berdiri di hadapannya, yang saat ini mematung tanpa berkata sepatah katapun.


"Kenapa kau begitu termangu? Apa yang terjadi padamu?" tanya Chen Li pada pemuda yang terdiam dan menatapnya dengan mimik wajah yang mewakili perasaan ketidak percayaan terhadap apa yang di saksikan nya.


Tersadar Mu Liliang dari lamunannya. Segera ia berucap, "A-ada apa? A-aku..." Entah apa sebabnya, hingga perkataannya pun menjadi tak karuan dan sangat-sangat tidak nyambung.


"Apa yang aku bicarakan?" tanya Chen Li.


"A... Ah sudahlah. Walaupun kultivasi mu telah naik satu tahapan, tapi kau masih belum masuk daftar orang yang mampu mengalahkan ku!" Meskipun mulutnya mengatakan demikian, namun hati Mu Liliang nyatanya berkata lain. Yah, sebenarnya ia tidak yakin dengan perkataannya barusan. Sebab di tahapan Menengah saja Chen Li sudah bisa mengimbanginya, bagaimana jadinya jika kultivasinya naik satu tahapan!


Tubuhnya mengeluarkan butiran-butiran cahaya berwarna emas saat ia menutup kedua matanya. Setelah kedua matanya ia buka, hembusan energi angin tercipta dari dalam tubuhnya, menyapu debu-debu yang ada di arena. Segera ia melesat maju menghampiri Chen Li, dengan pedang yang terkobar api panas, namun tak membakar tangannya.

__ADS_1


Chen Li juga nampak tak tinggal diam. Ia juga melakukan hal yang sama seperti yang telah di lakukan oleh Mu Liliang. Kedua matanya ia tutup pikirannya fokus. Seiring dengan keluar masuknya napas, butiran-butiran cahaya berwarna emas kemerahan juga muncul di sekelilingnya.


Tepat setelah ia membuka mata, semburan angin merembes dari tubuhnya, menerbangkan rambut hitam kemerahan miliknya.


Dengan tenang, ia menyambut serangan libasan pedang dari Mu Liliang. Pertarungan sesungguhnya telah nampak dari keduanya. Dimana tidak ada yang mau mengalah. Keduanya sama-sama gigih untuk menggulingkan lawan.


Meskipun kultivasi di tahapan Tinggi, namun pertarungan keduanya setidaknya telah menyamai pertarungan seorang kultivator tahapan Bumi.


Ibarat kembang api di hari raya, begitulah yang di saksikan penonton ketika ledakan di barengi dengan bunga api emas muncul di atas kedua peserta itu, akibat energi besar keduanya yang saling bertubrukan.


Dentingan demi dentingan pedang terdengar mendengking ditelinga penonton. Meskipun begitu, nyatanya mereka tak peduli dan masih saja melanjutkan menyaksikan pertarungan seru antara Chen Li dan Mu Liliang.

__ADS_1


Jika di lihat-lihat, pada keempat arena tak ada pertarungan yang lebih sengit, menarik plus indah dipandang mata, selain dari pertarungan antar Chen Li dan Mu Liliang.


Memang ketiga arena lainnya juga bertanding tak kalah seru dan menarik untuk di saksikan. Akan tetapi, tetap saja Chen Li dan Mu Liliang terlihat lebih mendominasi perhatian di banding yang lainnya. Pasalnya ketiga arena pesertanya masih menahan untuk tidak menggunakan kekuatan aslinya dikarenakan masih menyimpan untuk pertandingan di babak final esok hari.


__ADS_2