Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch 24. Babak Semifinal III


__ADS_3

Hai Yue tanpa basa-basi langsung menyerang Lu Wanqiang ketika Du Yan mempersilahkan keduanya.


Lu Wanqiang sendiri menyambut serangan kipas Hai Yue dengan pedangnya. Keduanya beradu serangan sesaat sebelum akhirnya mereka mengambil jarak.


Hai Yue melompat mundur sambil mengibaskan kipasnya horizontal. Sesaat, muncul pisau-pisau angin tipis yang melesat cepat kearah lawannya.


Lu Wanqiang menepis pisau-pisau angin itu dengan memainkan pedangnya. Lalu ia melesat menerjang Hai Yue.


Ia melancarkan aksi menusuk pada perut lawan. Hai Yue memilih tak menghindari tusukan itu, ia malah menangkisnya menggunakan kipasnya.


Anehnya kipas di tangan hai Yue tak terkoyak sedikitpun. Dikarenakan ia telah menambahkan Qi di dalamnya, sehingga kipas itu bisa kuat bak baja.


Gadis itu mengirai kipasnya menargetkan kepala Lu Wanqiang, tetapi dapat di hindari olehnya dengan membungkuk sambil pedangnya ia rambah kearah kaki lawannya.


Hai Yue melompat memutar tubuhnya ke atas Lu Wanqiang, menghindari tebasan tersebut. Lalu ia menendang bokong lawan.


Segera Lu Wanqiang menepis tendangan tersebut menggunakan kakinya, lalu ia membalikan badannya dan kembali memainkan pedangnya dengan lihai dan ganas, membidas Hai Yue.


Hai Yue nampak tak mau kalah, ia dengan gencar menangkis serangan tersebut, dengan kipasnya. Sesekali ia juga akan menyerang balik.


Setiap gerakannya sangat gemulai namun mengandung energi angin yang sangat tajam. dirinya kian nampak menari-nari di atas arena.


Bahkan ada yang sampai lupa menutup mulut ketika melihat keindahan tubuh hai Yue yang bergerak ke sana kemari, bagaikan kupu-kupu cantik yang mengepakkan sayapnya.


Kedua pemuda-pemudi itu nampak saling beradu serangan dengan ganas. Tak ada yang mau mengalah, mengingat lewat pertandingan ini mereka bisa mengikuti Turnamen Pemuda Berbakat tahun depan.


Beberapa saat, keduanya pun mengambil jarak untuk yang kesekian kalinya.


Hai Yue dengan kipas di tangannya, melakukan suatu gerakan memutar tubuh, ia nampak menari-nari dengan sangat ayu.


Di sekitarnya, muncul pusaran angin yang mengelilingi tubuhnya. Pusaran angin itu kian membesar seiring dengan tempo gerakan gadis itu yang semakin cepat, membentuk sebuah pusaran tornado kecil.


lalu gadis itu lantas bergerak ke arah Lawannya.


Lu Wanqiang yang melihat itu berniat menghindar, namun ia kalah cepat dengan tornado itu yang mendadak memisahkan diri dari tubuh Hai Yue.


Segera ia memutar haluan dan berbalik menahan laju tornado tersebut dengan pedangnya. Percikan bunga api tercipta ketika pedang Lu Wanqiang berbenturan dengan tornado buatan Hai Yue.

__ADS_1


Lu Wanqiang sendiri di buat terdorong mundur kebelakang ketika berusaha menahannya. Ia lantas menciptakan gundukan tanah di kakinya untuk menyanggah dirinya terdorong.


Ia mengalirkan Qi pada lengannya, setelah itu ia berusaha mendongsok tangannya mendorong tornado tersebut, lalu ia segera melompat mundur untuk mengambil jarak.


Tornado itu kembali mengejarnya. Karena kesal, ia pun menciptakan dua tangan raksasa dari tanah pada kedua sisi tornado.


Kedua tangan itu menyatu dan mengurung tornado tersebut, lalu perlahan menyusut kembali ke tanah.


Lu Wanqiang bernapas lega ketika melihat tornado tersebut berhasil ia atasi.


Namun, kembali Hai Yue memberinya kejutan dengan melancarkan serangan pisau-pisau angin kearah Lu Wanqiang.


Refleks ia menghindari serangan tersebut dengan mundur ke belakang seraya menggunakan pedangnya menepis sebagian pisau-pisau angin tersebut.


Namun, karena jumlah yang sedemikian banyaknya, membuat beberapa di antaranya mengenai beberapa bagian tubuhnya.


Hai Yue melesat kembali menyerangnya dengan beringas. Kipas yang ia pegang tiba-tiba saja mengeluarkan pisau-pisau tajam.


Bentrokan besi terdengar ketika pedang Lu Wanqiang berbenturan dengan kipas Hai Yue.


Beberapa saat, pertarungan nampak mulai berat sebelah. Disebabkan pola serangan Lu Wanqiang yang semakin lama semakin melambat. Pasalnya, energi Qi nya terkuras banyak ketika menciptakan tangan raksasa tadi.


"Ck. Apakah hanya seperti ini kemampuan dari cucu tetua ke tiga. Benar-benar memalukan," ucap Hai Yue memprovokasi lu Wanqiang, sambil kipasnya menebas kepala Lu Wanqiang, namun dengan segera di tepis olehnya.


"Tutup mulutmu!"


"Kalau aku jadi tetua Lu Duanyan, aku akan langsung membuangmu. Dasar lemah."


Lu Wanqiang yang termakan emosi, langsung menyerang Hai Yue dengan brutal. Namun karena emosi yang tak stabil, sehingga menimbulkan banyak celah pada setiap pergerakannya.


Hai Yue melihat itu tersenyum miring, lalu dengan kipasnya ia menahan serangan Lu Wanqiang, lalu menonjok perutnya dengan keras.


Lu Wanqiang dibuat termundur beberapa meter, sambil memegangi perutnya yang sakit. Ia merasakan organ-organ di dalam perutnya yang bergeser dari tempatnya.


Namun, krena emosinya yang membludak, ia tak memikirkan kondisi perutnya saat itu. Rasa sakit hati oleh perkataan-perkataan pedas Kakeknya kembali menghiasi ingatannya.


Ia lantas melesat ke arah Hai Yue sambil kedua tangannya terbentang dengan pedang yang siap memenggal kepala lawan.

__ADS_1


Hai Yue yang melihat itu memasang seringai ngeri.


"Bodoh."


Lantas ia menciptakan 12 pisau angin tipis dan langsung mengarahkannya pada Lu Wanqiang.


Pisau-pisau angin itu meluncur dengan kecepatan tinggi. Lu Wanqiang yang fokus berlari, tak sempat menghindar, akhirnya ia terkena sabetan dari pisau-pisau angin tersebut yang menancap di seluruh bagian tubuhnya.


Tak berhenti di situ, Hai Yue bahkan muncul di belakangnya dan langsung menendang kepalanya, hingga membuatnya terpental dengan kepala yang duluan menghantam tanah.


Hai Yue kemudian di nyatakan sebagai pemenangnya. Tepukan tangan terdengar memenuhi aula. Terutama dari para pria, mereka tampak bersemangat karena dambaan hati mereka menang.


Walaupun cara ia mengalahkan lawannya begitu sadis, namun mereka tak mempedulikannya.


Hai Yue kemudian berjalan meninggalkan arena dengan angkuhnya. Bersamaan dengan itu, tim medis pun juga nampak bergegas ke atas arena dan mengangkat tubuh Lu Wanqiang yang tak sadarkan diri.


Di tempat para tetua, nampak salah seorang tetua yang memasang ekspresi datar plus kecewa melihat kekalahan cucunya.


Ia adalah Lu Duanyan, kakek lu Wanqiang. Ia sangat kesal atas kecerobohan Lu Wanqiang yang mudah sekali terpancing emosinya.


"Ck, dasar anak tak berguna." Ia bergumam pelan lalu beranjak meninggalkan tempat itu.


Tanpa ia sadari, seorang tetua yang duduk di sebelahnya mendengar gumamannya tadi, ia pun tersenyum senang.


Dari awal ia selalu memprovokasi tetua Lu Duanyan, ketika melihat cucu kesayangannya berhasil memojokkan lawannya.


Berbagai macam kata ia susun dengan baik hingga menghasilkan sebuah racun yang membakar hati melalui Indra pendengar lawan bicaranya.


Tetua itu adalah Pendekar tubuh angin, kakek dari Hai Yue. Sejak dulu, kedua pria tua itu selalu bersaing, Namun ia selalu saja kalah darinya.


Bahkan posisinya saat ini berada di urutan ke empat, satu tingkat di bawah Lu Duanyan. Melihat cucunya berhasil mengalahkan Lu Wanqiang, membuatnya begitu senang.


*


Kembali ke arena, Du Yan melangkah di tengah-tengah arena lalu berbicara lantang.


"Baik, putaran kedua pada hari ini telah selesai kita laksanakan. Kita juga telah mendapatkan peserta yang lolos babak final, yaitu Yuan Fang dan Hai Yue. Mereka sudah di pastikan akan mengikuti turnamen Pemuda Berbakat yang akan di selenggarakan tahun depan di ibukota kerajaan Api.."

__ADS_1


"..Karena ketiga peserta kita mengalami luka yang tak ringan, maka putaran ketiga kita tunda besok. Yang mana, besok yang akan bertanding adalah Lu Wanqiang dan Xiao Wang, untuk mencari Juara tiga. Dan Yuan Fang dan Hai Yue, untuk mencari juara pertama."


__ADS_2