Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch. 184 ~ Vampir


__ADS_3

Sejam berlalu setelah mereka bertarung. Kini Keempat orang itu Mega karena para monster telah berhasil di taklukan semuanya.


Xiao Wang serta Chen Li duduk di berdekatan di sebuah dinding. Keduanya saling menyandar bahu. Nafas yang tidak beraturab setelah sebelumnya membunuh begitu banyak musuh. Begitupun juga dengan kedua gadi cantik. Energi Qi mereka habis di pakai untuk bertarung tadi.


"Hari yang sangat melelahkan." Xiao Wang mengeluh.


"Ya, sangat-sangat melelahkan!"


Keempat orang itu memilih beristirahat sejenak, sebelum beranjak dan mencari jalan keluar dari ruang bawah tanah ini.


Setelah melewati beberapa waktu, mereka akhirnya memutuskan untuk bergerak. Mencari-cari pintu jalan keluar goa.


Berjalan lurus melewati sebuah lorong. Mengikuti salah satu lorong cabang, hingga sampailah mereka di luar ruang bawah tanah. Langit biru terlihat membentang di atas sana. Pohon-pohon tumbuh begitu subur, juga rumput-rumput liar terlihat di mana-mana.


"Haah, akhirnya kita bisa keluar dari ruang bawah tanah itu!" ucap Chen Li sembari bernapas lega.


"Ya, kau benar. Setelah beberapa jam berjalan melewati liku-liku lorong, akhirnya kita bisa keluar!"


Xiao Wang berjalan beberapa langkah ke depan. Pandangannya menilik sekitarnya yang tidak lain adalah hutan belantara.


Menghela napas dalam dan menghembuskan kasar lewat mulutnya.


"Bagaimana? Apakah melanjutkan perjalanan, atau istirahat sebentar?" Xiao Wang berbalik dan bertanya pada Chen Li.


"Sebaiknya kita beristirahat dulu di sini Sepuluh menit kemudian, kita akan melanjutkan perjalanan!"


Xiao Wang mengangguk. Dia mendekati Bing Meigui serta Hei Fang.


"Nona-nona, sebenarnya ke mana tujuan kalian?" tanya Xiao Wang.


"Bukan urusanmu!" Hei Fang menjawab ketus.


"Cih, bisakah kau berkata sedikit lembut terhadap pria tampan sepertiku?"


"Huhh!" Feng Hai tak mengacuhkan perkataan Xiao Wang tadi, dan malah membuang muka.


Xiao Wang beralih ke Bing Meigui. Menatap gadis itu.


"Hmm, atas permintaan dari guru!" jawab Bing Meigui singkat.


Xiao Wang mengernyit mendengar jawaban itu.


"Apa maksudmu?"


"Aku dan Hei Fang hendak ke suatu tempat. Dimana di situ kami akan bertemu dengan guru!" jelas Bing Meigui.

__ADS_1


Xiao Wang mengangguk. "Tujuan kalian sama dengan kami. Aku dan Chen Li juga hendak ke suatu tempat, di mana guru telah menunggu kami di sana."


Chen Li telah kembali setelah sebelumnya pergi berburu. Di tangannya membawa dua dua ekor kelinci gemuk.


"Terbaiklah sobat!" Xiao Wang memuji Chen Li sembari mengacungkan jempolnya.


Chen Li membalas dengan senyuman. Setelah membakar kelinci itu, mereka pun lantas memakannya. Selesai dengan itu, mereka berniat melanjutkan perjalanan.


"Karena tujuan kita sama, mungkin jalan yang kita tempuh juga searah!" ucap Xiao Wang.


Bing Meigui mengangguk. Dia menengok Hei Fang uang memandang wajah ketus.


"Mengapa kau memberitahunya? Aku sangat-sangat tidak Sudi untuk berjalan bersama lelaki-lelaki ini!"


"Sudahlah! to, tidak ada salahnya berjalan bersama kan?"


"Bodoh ah! Kau saja yang ikut mereka, aku akan berjalan sendiri."


Tidak menunggu respons dari Bing Meigui, Hei Fang langsung terbang meninggalkan mereka.


Bing Meigui hendak menyampaikan sesuatu, namun tidak sempat, karena Hei Fang yang lebih dulu melesat terbang. Dia hanya bisa memandang kepergian gadis itu tanpa berniat menyusulnya.


"Sudahlah, biarkan saja dia pergi. Paling dia akan kembali mencari kita!" ucap Xiao ang menenangkan Bing Meigui.


Bing Meigui tersenyum lembut menanggapi ucapan Xiao Wang tadi.


Ketiganya pun melanjutkan perjalan dengan berjalan kaki.


***


Hei Fang terbang untuk beberapa saat. Dia berhenti di sebuah batang pohon besar.


"Cih, dasar dua buaya darat. Berani sekali mereka menghasut Bing Meigui!" Kesal Hei Fang.


"Gadis itu juga terlalu polos. Tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana buruk!" Hei Fang yang terlampau kesal pun, menginjak batang pohon yang dia injak dengan keras.


Seketika batang pohon itu hancur. Dia yang tak siap pun menyangka akan kehancuran batang pohon pijakannya pun sampai dibuat terjatuh ke tanah. Beruntung dia cukup cekat, sehingga tidak sampai terguling-guling.


"Siaallaannn!!! Kenapa jadi seperti ini!" Hei Fang membanting-banting kakinya di tanah, membuat tanah tersebut hancur. Setelahnya dia kembali melanjutkan untuk terbang.


Hari saat itu telah menunjukkan malam akan datang. Cuaca juga tampak begitu tidak bersahabat. Hei Fang terus melanjutkan terbangnya.


Asap yang mengepul besar menarik perhatiannya. Penasaran, Hei Fang Pun lantas terbang mengarah ke asal itu.


Semat dibuat terperanjat kala melihat sebuah markas yang lumayan besar berdiri di sana. Asap itu sendiri berasal dari markas ini.

__ADS_1


Dia berhenti di benteng markas. Memperhatikan pergerakan orang-orang dari markas ini.


"Hmm, aneh! Bentuk tubuhnya menyerupai manusia pada umumnya. Namun semua orang ini memiliki aura hitam yang begitu pekat!" Gumam Hei Fang.


Dia memperhatikan lebih teliti. Memang orang-orang ini memiliki aura yang begitu hitam pekat. bahkan semua orang dari markas ini begitu memamerkan aura tersebut, tanpa berniat menyembunyikannya.


Hari semakin menggelap. Orang-orang itu mulai menunjukan tanda-tanda keanehan. lengan tangan seta wajah mereka mulia di tumbuhi oleh bulu-bulu berwarna hitam. Tidak hanya itu, mata mereka juga berubah menjadi merah menyala. Taring yang memanjang serta kukunya yang tajam.


Hei Feng melihat itu dengan menutup mulut.


"Makhluk apa itu?"


Saya tengah memperhatikan mereka, tak sengaja pandangannya berpapasan dengan salah satu dari orang-orang tersebut. Sontak, dia langsung termundur dan melarikan diri.


Hei Fang terbang dengan kecepatan tinggi. Takut orang-orang itu mengejarnya. Juga saat ini dia mencari-cari keberadaan Bing Meigui, Xiao Wang serta Chen Li. Hendak memberitahukan apa yang dia lihat kepada mereka.


Kembali ke ruang bawah tanah, namun di sana dia tidak menemukan mereka


"Mengapa aku ke sini? Bukankah saat itu Xiao Wang mengatakan akan melanjutkan perjalanan, berarti secara otomatis, ketiga orang itu telah pergi meninggalkan tempat ini! Bodoh ... bodoh!" Hei Fang memukul-mukul kepalnya sembari berumpat.


Setelahnya dia kembali terbang, mencari keberadaan Xiao Wang, Chen Li, serta Bing Meigui.


***


XIao Wang, Chen Li serta Bing Meigui saat ini tengah berjalan di pinggiran tebing tinggi. Mengikuti jalan setapak sang entah mengarah ke mana jalan itu. Rumput-rumput kecil yang tumbuh di sepanjang pinggir jalan, bergoyang di terpa angin senja.


Awan mending terlihat dari arah barat. bukit di seberang sana tampak tertutupi oleh awan itu. Petir juga terkuat menyambar, menandakan badai akan segera datang.


"Sepertinya cuaca tidak bersahabat. aku takut kita akan kehujanan." Chen Li menghentikan rombongan.


"Ya, kau benar. Baiknya kita mencari tempat untuk berteduh terlebih dahulu. Baru setelahnya kita melanjutkan perjalanan setelah badai mereda!"


"Umm!"


"Lu, apakah kau merasakan sesuatu?" Chen Li bertanya kepada Chen Li di alam jiwanya. Pasalnya dia merasakan aura hitam besar, meski tidak terlalu jelas.


"Yah, aura dari manusia yang bermutasi menjadi vampir! Orang-orang ini begitu berbahaya. Sekali saja darahmu di hisap oleh mereka, maka kau akan termasuk ke dalam bagian dari kelompok mereka!" balas Chen Li.


"Hmm, begitu yah. Sepertinya orang-orang ini patut untuk di hindari."


Chen Li kemudian menatap dua orang di belakangnya. Lalu dia berkata, "Sebaiknya kita terbang, dan mendaki tebing ini. Kita beristirahat di atas sana!"


Xiao Wang serta Bing Meigui mengangguk. Menyetujui saran dari Chen Li. Lalu mereka sama-sama terbang tinggi, dan mendarat tepat di atas tebing yang lumayan tinggi.


"Aku merasakan sebentar lagi akan lewat rombongan orang-orang aneh. Sebaiknya kita tunggu mereka di sini!" ucap Chen Li.

__ADS_1


Xiao Wang serta Bing Meigui kembali mengangguk. Mereka pun Beristirahat di pinggir tebing, sembari memperhatikan jalan setapak yang tadi sempat mereka lalui


Belum lama mereka memperhatikan jalan, mendadak mereka merasakan aura hitam yang datang dari arah tebing. Kontan ketiga orang itu langsung mengambil sikap waspada.


__ADS_2