
"Ayah, bagaimana kabar Wang'er saat ini ya?"
"Entahlah, aku juga tak tahu."
"Semoga saja ia menepati janjinya!"
"Aku yakin anak itu tak akan mengingkarinya!"
"Wang'er! Sudah sehebat apa kau saat ini?"
Xiao Meng dan Xiao Liu, beserta Yuan Fang dan Lu Wanqiang sedang melakukan perjalanan hendak menuju ibukota kerajaan Api.
Sebelumnya, satu hari setelah penerimaan hadiah Pertandingan Antar Murid, Hai Yue beserta kakeknya mendatangi rumah Lu Wanqiang yang saat itu sedang berkemas hendak pindah kediaman.
Maksud kedatangan mereka sendiri adalah dengan tujuan menyerahkan posisi kedua sebagai murid utama kepada Lu Wanqiang.
Agak aneh bagi Lu Duanyan melihat rivalnya itu menyerahkan posisi tersebut kepada cucunya secara cuma-cuma. Namun ketika di tanya alasannya, Hai Bao malah memberikan alasan yang menurutnya tidak masuk akal.
Patut di curigai! begitulah yang di pikiran Lu Duanyan saat itu.
*
Jarak antara Sekte Elang Emas dan kota Baiyun sekitar dua Minggu perjalanan jika menggunakan kecepatan lari seorang kultivator tahap Tinggi tingkat 2. Sedang untuk kultivator Tahap Langit tidak sampai satu Minggu perjalanan.
Mengingat, sekitar sebulan lagi pendaftaran Turnamen Pemuda Berbakat akan di mulai, mereka memutuskan untuk berangkat lebih awal, supaya ketika sampai di sana, mereka masih memiliki waktu untuk melatih Lu Wanqiang, Yuan Fang, beserta Xiao Wang.
Terhitung sudah lima hari mereka melakukan perjalanan. Kini mereka memilih beristirahat sejenak, untuk melepas penat sesaat.
Namun, belum satu menit mereka berteduh di bawah pohon rimbun, tiba-tiba saja gempa terjadi kala itu, terpaksa keempatnya menunda waktu istirahat mereka, dan segera melompat ke tanah lapang.
Yuan Fang dan Lu Wanqiang yang tak bisa menyeimbangkan tubuh hampir saja terjatuh, namun dengan cepat di cegah oleh Xiao Meng dan Xiao Liu.
Sekitar satu menit, baru tanah berhenti bergetar. Keempat orang itu akhirnya bisa bernafas lega.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa tiba-tiba saja terjadi gempa?" ujar Lu Wanqiang.
"Entahlah, tidak biasanya kerajaan Api dilanda gempa seperti ini."
__ADS_1
Setelah dirasa aman, merekapun kembali melanjutkan perjalanan. Baru beberapa ratus meter mereka berlari, keempatnya kembali di kejutkan oleh gempa yang bahkan lebih dahsyat dari sebelumnya.
Pohon-pohon roboh saat itu juga. Gunung pun tak henti-hentinya menggelindingkan batu besar. Tak hanya itu, bahkan terjadi retakan besar pada tanah dibuatnya.
"Apa! Apa yang terjadi?" Yuan Fang masih sempat-sempatnya berbicara, walaupun keseimbangannya hampir goyah, kalau sekali lagi bukan karena Xiao Meng yang menahan tubuhnya.
Sebuah retakan tanah besar tercipta dan membelah keempat orang itu. Dimana saat ini Xiao Liu bersama Lu Wanqiang berada di sisi kanan, sedang Yuan Fang bersama Xiao Meng di sisi kiri.
Tanah-tanah di sekitar mereka perlahan retak lalu kemudian terjatuh ke dalam jurang dalam yang tercipta dari gempa dahsyat itu.
Lu Wanqiang hampir saja ikut terjatuh ke dalam jurang, dikarenakan tanah tempat ia berpijak juga ikut-ikutan menyusut. Beruntung Xiao Liu segera bertindak menangkap tubuh Lu Wanqiang.
Dengan menggunakan batu-batu tanah yang satu persatu roboh, ia melesat ke seberang, ke tempat dimana Xiao Meng dan Yuan Fang berada.
Sesuatu berwarna biru muda mengikuti gerakannya ketika ia bergerak. Kecepatannya pun tak main-main. Hingga beberapa saat, dirinya telah berada di hadapan Xiao Meng dan Yuan Fang.
Xiao Meng membopong tubuh mungil Yuan Fang, dan setelahnya keduanya melesat menjauhi tempat itu.
Beberapa saat, gempa pun akhirnya berhenti. Baru saja bernafas lega, bencana lain kembali menghampiri mereka.
Dunia tiba-tiba saja dilanda hujan api, layaknya ratusan meteor yang datang menghujani bumi.
Kiamat! Begitulah gambaran kejadian itu.
Tanah hancur seketika, ketika bola-bola api menghantam tanah. Pohon-pohon langsung hangus menjadi debu hitam ketika bola-bola api menghantam pohon.
Ledakan terjadi dimana-mana. Percikan api menyebar, hingga tempat itu kini menjadi lautan api.
"Ayah, apa yang terjadi?"
"Entahlah, tiada angin, tiada air. Tiba-tiba hujan api datang dari langit."
Tepat setelah Xiao Liu mengucapkan kalimatnya, sebuah bola api datang menghampiri keempatnya.
Segera Xiao Liu membentangkan tangan kanannya ke arah bola api itu. seketika semburan air memancar dari telapak tangannya, dan langsung memadamkan api tersebut.
Setelah selesai membereskan api itu, tangan kanannya ia arahkan ke depan, dimana lautan api terlihat di sana. Setelahnya, Api-api yang berkobar langsung padam dan membentuk jalan.
__ADS_1
Segera keempatnya melesat dengan Xiao Liu yang terus-terusan menyemburkan air dari tangannya, guna menciptakan jalan yang kemudian dilewati oleh mereka.
Berlari selama beberapa ratus meter, namun lautan api masih saja ada, seolah-olah Kerajaan Api telah menjadi lautan api seutuhnya.
Xiao Liu mendadak menghentikan langkahnya, entah apa yang terjadi padanya saat itu.
Sementara Lu Wanqiang yang kebetulan berlari di belakangnya, menabrak Xiao Liu saat itu juga. Dikarenakan dirinya berlari dengan keadaan mata tertuju di bawah, sehingga ia tidak melihat Xiao Liu berhenti di depannya dan langsung menanduk bokong Xiao Liu.
Pria sepuh itu tak bergeming sedikitpun dari tempatnya, sedang pandangannya menatap lurus ke langit.
"Aduh.. Ketua, kenapa kau berhenti begitu mendadak?" rengek Lu Wanqiang.
Tak ada jawaban dari Xiao Liu, ia malah mengangkat tangan kirinya dan menunjuk ke langit depan.
Dimana dua titik cahaya layaknya komet bergerak dengan kecepatan tinggi. Kedua cahaya itu berwarna jingga dan hitam. Terkadang cahaya itu juga akan berbentur-benturan.
"Cahaya apa itu?"
"Entahlah, mari kita mendekat untuk mengetahui pasti dua cahaya itu!"
Keempatnya kembali melesat dengan kecepatan Kultivator tahap Tinggi tingkat 2. Hingga kedua cahaya itu semakin jelas untuk disaksikan.
Mereka berhenti bergerak ketika merasakan suatu tekanan yang sangat besar menekan mereka.
Sebuah Aura kematian sekaligus Aura agung, dapat dirasakan oleh keempat orang itu.
"Ha-hawa apa ini?" Lu Wanqiang hampir tidak bisa bernafas oleh aura itu.
"Aura ini hampir sama dengan aura pembunuh, namun aura ini lebih mengerikan dari aura pembunuh sekalipun!" tanggap Xiao Liu yang juga nampak kaget ketika mengetahui aura ini.
"Sedang yang satunya, aku tidak tau pasti," lanjutnya.
Keduanya pun mengalihkan pandangan mereka ke atas, dimana kedua cahaya itu berada.
"Pertarungan macam apa itu?" Setelah menyaksikan lebih teliti, Xiao Liu pun menyadari bahwa kedua cahaya itu disebabkan oleh dua kekuatan yang sedang bertarung. Kecepatannya pun di luar kemampuannya.
"Bahkan aku sekalipun tak akan bisa melakukan seperti yang mereka lakukan," lanjutnya.
__ADS_1
Mereka terus memperhatikan lesatan energi itu dari kejauhan karena mereka tak mungkin mendekat. Namun, tanpa mereka sadari, empat pasang mata juga sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.