Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch 13. Tahap Menengah Tingkat 2


__ADS_3

Setelah selesai memberi pria tua itu nama, Xiao Wang lantas mengulangi kembali pertanyaan yang sempat tertunda karena sedikit masalah.


"Oh iya Bo Ji, kita sekarang ada di mana?" tanya Xiao Wang.


"Kita berada di alam bawah sadarmu, BOCAH." Bo Ji menjawab masih dengan nada kekesalannya. Ia tak habis pikir, kenapa pria sialan itu mau ia menolong bocah bodoh ini.


"APA, Alam bawah sadar?" pekik Xiao Wang tak percaya.


"Iya bocah. Sudah 5 hari kau tak sadarkan diri di dunia nyata," decak Bo Ji malas.


"APA, 5 hari?" Xiao Wang sekali lagi berteriak tak percaya.


"Benar BO-CAH." Bo Ji tambah jengkel, mengapa ia harus ditakdirkan untuk bertemu dengan bocah yang sangat cerewet seperti Xiao Wang ini.


"Bagaimana keadaanku sekarang?" tanya Xiao Wang lagi dan lagi, membuat Bo Ji semakin marah.


"BOCAH! KENAPA KAU INI BANYAK TANYA SEKALI?"


Bo Ji yang tersulut emosi karena Xiao Wang yang tidak berhenti bertanya hampir saja membunuhnya, tapi ia dengan segera mengontrol diri.


Dengan menarik nafas, ia berusaha untuk menenangkan dirinya.


"Baiklah bocah, aku akan menjawab pertanyaanmu untuk yang terakhir kalinya. Jika kau masih tetap bertanya, maka aku akan langsung memakanmu."


Keringat dingin mengucur di pelipis Xiao Wang mendengar ucapan Bo Ji barusan.


"Bocah. Mukamu penuh dengan benjolan, lengan kirimu patah, tulang belakangmu retak, di sekujur tubuhmu penuh dengan bekas sayatan." Bo Ji menjelaskan kondisi tubuh Xiao Wang dengan santai.


Xiao Wang begitu tergemap mendengar penjelasan Bo Ji tentang kondisi tubuhnya.


"Apakah separah itu," batin Xiao Wang.


Ia tak pernah menyangka bahwa luka yang diterimanya akan separah itu.


Segera ia mengingat kembali perkataan Bo Ji barusan bahwa ia sudah tak sadarkan diri selama 5 hari. Berarti tinggal 9 hari lagi akan di adakan pertandingan pemilihan murid utama.


Ia pun mengumpulkan keberanian untuk meminta Bo Ji supaya memberikannya tips sembuh dalam kurun waktu yang cepat.


"Bo-bo Ji, a-apakah kau tau bagaimana cara supaya aku bisa menyembuhkan lukaku dengan cepat."


"Hmm. Kenapa kau begitu terburu-buru untuk cepat sembuh?" tanya Bo Ji penuh selidik.


"Sembilan hari lagi akan di adakan pertandingan antar murid di sekte. Tujuan di adakannya pertandingan ini sendiri adalah untuk memilih murid utama. Yang mana murid utama terdiri dari peringkat 1 sampai 5. Murid utama yang masuk 3 besar di beri kesempatan untuk mengikuti turnamen Pemuda Berbakat tahun depan.


Jika aku bisa sembuh dalam tiga hari, aku bisa memiliki kesempatan untuk berlatih dan mungkin menembus ke tahap selanjutnya. Sehingga aku bisa mengalahkan seniorku dan memiliki kesempatan untuk mengikuti turnamen tahun depan," jelas Xiao Wang panjang kali lebar.


Bo Ji mengangguk mendengar penuturan Xiao Wang.

__ADS_1


Ia pun memikirkan sesuatu, sebelum akhirnya tersenyum.


Ini adalah kali pertama Xiao Wang melihat Bo Ji tersenyum. Setelah bertemu dengannya beberapa saat yang lalu, Bo Ji selalu menampakkan wajah kesalnya.


"Kenapa kau tersenyum?" tanya Xiao Wang dengan polosnya.


Senyuman di wajahnya seketika menghilang saat mendengar pertanyaan Xiao Wang.


"Ti-tidak ada." Bo Ji memalingkan muka karena malu.


Xiao Wang yang melihat Bo Ji bertingkah aneh menjadi sangat bingung.


"Bocah, aku memiliki satu cara supaya kau bisa pulih dalam satu hari penuh. Tapi sebelum itu, kau harus kembali ke dunia nyata terlebih dahulu." Bo Ji langsung mengalihkan pembicaraan.


Mata Xiao Wang langsung bersinar mendengar penuturan Bo Ji barusan.


"Benarkah?" tanya Xiao Wang dengan penuh semangat.


"Yah."


Ini adalah kesempatan emas bagi Bo Ji. Karena, dengan adanya pertandingan ini, ia bisa melihat sejauh mana kemampuan anak ini. Sehingga ia bisa mengetahui apakah anak ini layak menjadi takdir penyelamat semesta ataukah tidak sama sekali.


Setelahnya, Bo Ji menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh Xiao Wang supaya ia bisa pulih dalam sehari.


Tak lupa pula Bo Ji menerangkan kepadanya cara kembali ke dunia nyata.


Setelah beberapa saat ia merasakan tubuhnya seperti berputar dan di sedot sesuatu, membuat kepalanya sedikit pusing.


Kurang lebih 10 detik ia mulai merasakan seluruh tubuhnya kesakitan, bahkan bergerak pun sulit.


**


Di sebuah ruangan, seorang gadis kecil sedang memegangi tangan seorang pemuda yang terbaring tak sadarkan di atas ranjang, sambil menangis.


Gadis kecil itu adalah Xiao Yin. Sedangkan pemuda yang terbaring di ranjang adalah Xiao Wang.


"Kakak Wang, bangun! Jangan buat Yin khawatir. Kakak Wang. Hiks." Xiao Yin memanggil Xiao Wang sambil menggoyangkan pelan badannya.


"Yin'er apa yang kau lakukan. Kau hanya akan membuat kakakmu tambah sakit." Seorang wanita yang duduk di samping Xiao Yin menegurnya dengan lembut.


Xiao Yin langsung sadar, apa yang ia lakukan ternyata akan membuat Xiao Wang bertambah kesakitan.


''Maafkan aku Bu."


Wanita itu adalah Ibu Xiao Yin. Ia menemani Xiao Yin untuk menjenguk Xiao Wang.


Padahal mereka baru habis menjenguknya satu jam yang lalu, tapi Xiao Yin terus saja memaksanya untuk kembali menjenguk Xiao Wang, karena ia tidak bisa tenang.

__ADS_1


Karena tak ada pilihan, akhirnya ia menuruti keinginan putri tercintanya itu.


Xiao Yin yang terus saja menangis tiba-tiba merasakan tangan Xiao Wang bergerak.


"Ibu, tangan kakak Wang bergerak," teriak Xiao Yin kegirangan.


Mereka pun lantas memberi tahu ayah dan ibu Xiao Wang perihal ia yang telah sadar dari tidur panjangnya.


Setelah beberapa saat, kabar akan Xiao Wang yang sadar terdengar di seluruh sekte Elang Emas. Sehingga, banyak orang yang berkumpul di halaman rumah Xiao Wang. Terutama para wanita yang mengidolakan sosok Xiao Wang.


"Wang'er!" Seorang wanita berjalan ke arah Xiao Wang lalu ia memegang tangan Xiao Wang.


Wanita tersebut adalah Yan Yu, ibu Xiao Wang.


"Ibu," lirih Xiao Wang dengan suara lemas.


"Syukurlah Wang'er, akhirnya kau sadar juga." Xiao Meng menghampiri Xiao Wang.


"Wang'er, siapa yang melakukan ini padamu? Katakan padaku! Agar aku memberinya pelajaran." Xiao Liu muncul dan langsung melemparkan pertanyaan kepada Xiao Wang.


"Ayah, Xiao Wang baru saja sadar, kenapa kau langsung menyerangnya dengan pertanyaan konyol seperti itu?" Xiao Meng menegur Xiao Liu.


"Ayah, ibu, aku ingin beristirahat, tolong tinggalkan aku sendiri."


"Baiklah. Kau beristirahatlah!"


Lalu mereka semua meninggalkan ruangan, menyisakan Xiao Wang sendirian.


Sementara itu, di tempat lain. Chen Li sedang berkultivasi karena ia merasakan dirinya akan menembus tingkat selanjutnya.


Sebenarnya ia sudah lama merasakan bahwa dirinya berada di puncak dan sedikit lagi akan menembus tingkat selanjutnya. Akan tetapi, karena tak ada waktu, akhirnya ia baru bisa menerobos sekarang.


Setelah beberapa saat, terdengar sebuah ledakan dari tubuhnya.


BAM!


Chen Li membuka kedua matanya, Ia lalu tersenyum.


"Akhirnya aku bisa menerobos tingkat 2."


"Selamat Li'er, kau telah menerobos tahap Menengah tingkat 2." Terdengar sebuah suara yang sangat ia kenali dari arah sampingnya.


Kemudian ia menoleh dan mendapati Pamannya sedang duduk di seberang Air panas sambil memandangnya.


"Eh Paman Li." Chen Li segera melompat di air dan berenang menuju pamannya.


"Li'er, bagaimana kau bisa bertemu dengan tempat ini? Aku bisa merasakan air ini memiliki energi alam yang sangat padat," tanya Jenderal Wan Li.

__ADS_1


"Eh, itu."


__ADS_2