
Chen Li tak bergeming dan merasa terganggu dengan kedatangan orang-orang itu. Ia tetap saja melanjutkan kegiatan makannya, tanpa memperdulikan orang-orang itu yang terus-terusan berucap dan menyindir dirinya.
Tak ada tanggapan dari Chen Li, seorang pemuda yang dulu pernah di permalukan olehnya kini maju seraya berucap.
"Pemulung, apakah kau ini tuli? Kami sedang berbicara dengan mu!" hardik pemuda tersebut.
Tak ada jawaban dari pemuda berpakaian lusuh itu, membuatnya kesal. Ia lantas meraih mangkok berisi sup yang ada di meja, berniat membuangnya.
Belum sempat melakukan aksinya, tangannya mendadak di cegah oleh Chen Li hingga membuat sebagian air sup di mangkok itu tumpah.
"Kekasihku!" ucap Chen Li sambil matanya mengarah pada tumpahan air sup itu yang kini telah menghilang ditelan tanah.
Pemuda yang di panggil tuan Mu oleh kedua orang sebelumnya, mengernyit keheranan dengan tindakan Chen Li. Bagaimana bisa pemulung itu menjadikan sup sebagai kekasihnya. Benar-benar gila.
"Kau berani melukai kekasihku! Kau telah membuat ku marah."
Chen Li lalu meraih mangkok yang masih terdapat sebagian kuah sup dari tangan pemuda itu. Lalu dengan tangan kirinya, ia meninju dada pemuda tersebut membuatnya terbang ke belakang.
Beruntung, pria yang bersama mereka yang saat itu berada di belakang menahan laju tubuhnya, sebelum menabrak sesuatu.
"Apakah tuan muda Mu Song baik-baik saja?"
"Kau masih bertanya setelah apa yang ia lakukan padaku barusan? Cepat serang dia!" bentak Mu Song kepada pria itu.
__ADS_1
"Ba-baik tuan!" Pria itu melirik sesaat ke arah Chen Li. Sebelum akhirnya melesat ke arah pemuda itu.
Orang-orang yang sibuk menyantap makanan kini memilih menjauhi tempat itu, karena takut akan terkena dampak dari pertarungan yang akan segera terjadi.
Oleh Chen Li, sup yang masih tersisa ia masukkan ke dalam mulutnya.
"Aaah!" Chen Li mendesah sesaat setelah menghabisi sup itu, seraya tangannya ia gosokkan ke mulutnya yang basah. Nampaknya, ia tak menghiraukan pria itu yang kini melesat kearahnya dengan tinju yang siap menghantam kepalanya.
Sebelum kepalan tangan pria itu mengenai Chen Li, kembali Wan Li muncul dan menahan laju tangan pria itu.
"Li'er, kenapa kau ini selalu menyusahkan orang. Kau kan bisa langsung menghindarinya!" Wan Li mulai kesal dengan anak itu. Pasalnya setiap ia mencari masalah, pasti dirinya yang akan menyelesaikan masalah tersebut.
"Hehehe, maafkan aku paman, aku janji tidak akan nakal lagi." Chen Li mengangkat tangan kanannya.
Sementara pria itu begitu terkejut ketika mengetahui kultivasi Wan Li yang setidaknya berada satu tingkat di atasnya. Ia lantas melompat mudur ke belakang.
"Tuan Muda Mu, aku minta maaf karena aku tidak bisa mengalahkannya!" ucapnya saat ia berada di samping Mu Song.
"Apa kau bilang? Aku tak mau tau, pokoknya kau harus bisa mengalahkan orang-orang itu!" bentak Mu Song.
"Tapi tuan muda, itu berada di luar kuasaku. Kultivasi orang itu berada di tahapan Bumi tingkat 4, sedang aku hanya di tahap Bumi tingkat 3."
"Asal kau tahu, aku telah membayar mu mahal untuk ini. Tapi apa yang kau lakukan, bahkan mengalahkan seorang pengemis sepertinya saja kau tak bisa. Dasar lemah!"
__ADS_1
Kekesalan menghampiri pria itu saat mendengar perkataan bocah di hadapannya ini. Kalau saja pemuda ini bukan anggota dari keluarga Mu sekaligus murid dari sekte Pedang Naga, mungkin saja ia telah merobek mulut pemuda ini.
Mu Song terus-menerus melemparkan perkataan pedas pada pria itu, seolah-olah ia sedang menguji kesabarannya.
Tampaknya, kesabaran pria itu telah mencapai batasannya, Ia lantas mengangkat tangannya hendak menampar pemuda di hadapannya ini.
Mu Song langsung menutup kedua matanya, tubuhnya pun tak berhenti bergetar kala itu. Beberapa saat menunggu, namun tamparan pria itu tak kunjung mendarat di pipinya.
Dengan ragu-ragu, ia membuka kedua matanya. Tampaklah olehnya tangan pria itu yang bergetar dan sedikit lagi mengenai pipinya.
Pria itu menarik kembali tangannya.
"Beruntung kau ini putra dari kepala keluarga Mu. Kalau tidak, mungkin mulut mu telah ku sobek saat ini!" ucapnya lalu bergegas pergi meninggalkan pemuda itu yang mematung sesaat.
"Eeh, tunggu! Kembalikan uang ku..." Mu Song yang tersadar lantas mengejar pria tadi, namun terlambat. Pria itu telah menghilang.
Ia pun kembali ke tempat makan. Di sana ia juga tak melihat dua pemulung. Lantas ia menanyakan kepada anak-anak buahnya.
"Kedua pemulung itu telah pergi tuan!" Salah satu dari mereka menjawab pertanyaan Mu Song.
"Apa? Kenapa kalian tak menahannya..."
"Dasar tak berguna!" lanjutnya lalu berbalik meninggalkan tempat itu. Meninggalkan mereka yang mematung memandangi dirinya yang perlahan tak terlihat oleh ramainya orang-orang yang berlalu lalang.
__ADS_1