Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch 62. Dua Lawan Satu


__ADS_3

Dua pemuda saat ini sedang bertarung di halaman belakang kediaman Sekte Elang Emas. Dentingan demi dentingan pedang yang saling beradu terdengar mengiringi jalannya pertarungan. Tak jarang pula percikan bunga api tercipta kala kedua pedang berbenturan dengan kerasnya.


"Seperti biasa, saudara Xiao selalu memberikan kejutan di setiap saatnya." Di sela-sela pertarungan Lu Wanqiang sempat-sempatnya memberikan pujiannya kepada lawan tarungnya ini.


"Kejutan itu tak akan berarti apa-apa jika saudara Lu mengeluarkan kemampuan aslinya," balas Xiao Wang.


Meskipun kultivasinya rendah, namun tetap Xiao Wang bisa mengimbangi gerakan Lu Wanqiang.


Keduanya memainkan pedang dengan lincah dan lihai. Tak jarang pukulan dan tendangan mereka lancarkan ke arah lawan.


Lama mereka beradu serangan, keduanya pun mengambil jarak.


"Saudara Lu, mari kita mulai serius!"


"Baiklah."


Lu Wanqiang melepaskan kekuatan seorang kultivator tahapan Tinggi tingkat 1. Seketika tubuhnya di lapisi energi berwarna cokelat sesaat. Setelahnya ia langsung melesat ke arah lawan.


Seringai tipis terpasang di bibir Xiao Wang kala melihat Lu Wanqiang yang melesat ke arahnya. Lalu dengan santai, ia menyabut serangan itu menggunakan pedangnya. Pertarungan keduanya kembali pecah saat itu. Namun kali ini nampak semakin sengit.


Energi berwarna biru muda dan cokelat terlihat mengikuti gerakan mereka ketika keduanya mengambil gerakan.

__ADS_1


Pedang di tangan Lu Wanqiang ia tebaskan keras ke kepala Xiao Wang secara vertikal. Namun dengan cepat, tebasan itu di tepis oleh Xiao Wang dengan meletakkan pedangnya ke depan secara vertikal.


Trang!


Bunyi dentingan pedang terdengar memekik di telinga mereka yang mendengar pertarungan itu.


Tak berhenti sampai di situ, Xiao Wang kembali memainkan pedangnya ke arah Lu Wanqiang. Pemuda itu tampak sangat menikmati pertarungan. Berbeda halnya dengan Lu Wanqiang yang saat ini sedang kesusahan menepis setiap serangan Xiao Wang yang bagaikan air tanpa celah.


Lu Wanqiang sempat lengah sesaat hingga dirinya menimbulkan celah yang oleh Xiao Wang tak menyia-nyiakan kesempatan itu. ia lantas mengayunkan pedangnya keras. Lu Wanqiang yang terkejut tak sempat bereaksi lebih. Pedang yang di genggaman tangannya terlepas saat ia menepis serangan itu.


Dengan cepat Xiao Wang meletakkan pedangnya di leher lawan.


Xiao Meng pun mengumumkan pemenangnya adalah Xiao Wang.


Xiao Wang menurunkan pedangnya.


"Kalau tadi kau tak menahan diri, maka aku tak mungkin bisa mengalahkan mu, Junior Lu!" ucap Xiao Wang merendah sekaligus mencoba menggoda Lu Wanqiang.


Mendengar dirinya di panggil junior oleh Xiao Wang, Lu Wanqiang ingin membantah tapi apalah daya , begitulah perjanjian yang sebelumnya mereka sepakati, yang kalah harus terima jika di panggil junior oleh si pemenang.


"Jika aku tak salah tebak, junior Xiao masih menekan kekuatannya tadi. Maka dari itu, izinkan aku untuk mencoba bertarung melawanmu, saudara Xiao."

__ADS_1


Yuan Fang bangkit dari duduknya, dan melangkah menuju Lu Wanqiang.


"Hmm, aku akan menyetujuinya jika senior Yuan dan Junior Lu maju bersama-sama untuk melawanku." Xiao Wang menjawab dengan penuh percaya diri.


"Wang'er kami tahu kau ini kuat. Tak sembarang orang dan bahkan hampir tak ada kultivator pun yang bisa mengimbangi mu ketika bertarung satu lawan satu di tahapan yang sama. Akan tetapi melawan dua orang kultivator tahapan Tinggi sekaligus dengan kultivasi-mu saat ini. Rasanya mustahil bagimu untuk menang," jelas Xiao Liu panjang kali lebar.


"Benar Wang'er. Jangan biarkan kekuatan mengalahkan mu sehingga kau berpaling dan merasa diri yang terhebat. Ingat di atas langit masih ada langit." Xiao Liu menambahkan.


"Aku tahu ayah. Maksud dari mengajak Senior Yuan dan Junior Lu untuk bertarung bersama melawanku, bukan semata-mata karena merasa diri yang terhebat. Namun karena diriku ingin mengetahui sejauh mana kemampuan ku saat ini, ayah, kakek!" Xiao Wang membela diri.


"Baiklah Wang'er. Jika itu maksudmu maka aku akan tidak bisa menghalangimu. Tapi ingatlah nasehat ini seumur hidupmu. Jangan karena kekuatanmu telah melebihi orang-orang, kau merasa paling kuat dan tinggi, sehingga kau tak mengacuhkan orang lain.


Ibarat dirimu yang naik gunung, ketika sampai di atas puncak dan kau tolehkan pandanganmu ke bawah. Maka orang-orang akan terlihat kecil di matamu. Namun jangan lupa bahwa dirimu juga terlihat kecil di mata orang-orang yang melihatmu di sana." Xiao Liu memberikan nasehat kepada Xiao Wang.


"Akan ku ingat nasehat itu kakek!" Xiao Wang membungkukkan badan.


"Baiklah, kita mulai saja latih tandingnya. Aku juga sebenarnya penasaran sejauh dan sebesar apa kekuatanmu saat ini, Wang'er."


Yuan Fang, Xiao Wang serta Lu Wanqiang mengangguk lalu mengambil tempat masing-masing.


"Kalian Siap?"

__ADS_1


"Ya!" ketiganya mengangguk.


Xiao Meng pun mempersilahkan mereka untuk bertarung. Ketiganya memberi hormat pada lawan masing-masing, sebelum akhirnya melesat ke arah lawan.


__ADS_2