
Yan Yu sangat penasaran bagaimana cara anak semata wayangnya itu bisa pulih dalam waktu cepat.
Namun mendengar perkataan dari Xiao Wang, ia memilih diam dan tak mengambil pusing. Yang terpenting baginya adalah anaknya bisa pulih seperti sedia kala.
Yan Yu kemudian menyuapi Xiao Wang. Setelah selesai memberinya makan ia pun mencium kening Xiao Wang, lalu beranjak pergi meninggalkan dirinya sendiri.
Melihat Yan Yu melangkah keluar dan menutup pintu kamarnya.
Xiao Wang pun memulai ulang aktivitas yang sebelumnya tertunda karena kedatangan Yan Yu.
Setelah satu hari penuh ia menyerap Qi dari kitab Gelombang Pencakar Langit. Kondisinya yang menyedihkan akhirnya telah pulih kembali, walaupun belum bisa di katakan sembuh sepenuhnya.
Meskipun belum sepenuhnya Pulih. Tapi setidaknya, tulang belakangnya yang retak dan lengan kirinya yang patah kini telah sembuh sepenuhnya.
Sedang benjolan dan bekas sayatan masih tersisa sedikit.
"Bocah. Kau sudahi penyerapan Qi sampai di sini, Aku takut Dantianmu akan bermasalah jika kau terus-terusan menyerap Qi yang ada pada kitab Gelombang Pencakar Langit ini."
Setelah sekian lama, akhirnya muncul juga suara Bo Ji dari dalam kepalanya.
Dan membuat Xiao Wang sangat kaget dengan itu. Yah, ia belum terbiasa.
Ia pun mengangguk, kemudian kitab Gelombang Pencakar Langit berhenti menyalurkan energi Qi nya kepada Xiao Wang.
Xiao Wang membuka matanya, ia bisa melihat sebuah cahaya menyilaukan dari sela-sela jendela kamarnya menyambar matanya.
Ia pun bangkit hendak keluar dari kamar.
Namun ketika ia membuka pintu kamar tiba-tiba saja Xiao Yin menabraknya.
Xiao Yin yang saat itu hendak mendorong pintu kamar Xiao Wang, tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dengan sendirinya sehingga membuat tangannya mendorong angin. Tentu saja ia yang tak bisa menyeimbangkan tubuhnya hampir saja terjatuh jika bukan karena seseorang telah menahannya.
"Kyaa!" Xiao Yin sangat kaget ketika melihat siapa yang menahannya.
Bagaikan melihat hantu di siang hari. Begitulah yang di rasakan Xiao Yin saat ini.
Pasalnya, baru kemarin ia menangis karena Xiao Wang yang terbaring di atas ranjang dengan keadaan yang menyedihkan. Tiba-tiba saja orang yang ia tangisi berdiri di hadapannya, bahkan seperti tidak terjadi sesuatu sebelumya padanya.
Xiao Yin mencubit pipinya dengan keras, karena menganggap ini hanyalah mimpi.
"Aww, sakit." Ternyata ia masih merasakan sakit di pipinya.
"Yin'er, apa yang kau lakukan." Xiao Wang yang melihat tingkah Xiao Yin merasa bingung. Apalagi ketika ia mencubit pipinya sendiri, membuat ia bertambah kebingungan.
Xiao Yin hanya menjawab dengan gelengan kepala, ia nampak ketakutan ketika melihat Xiao Wang. Ia buru-buru melepaskan tangan Xiao Wang dan menjauh.
"Yin'er, apa yang terjadi padamu?" Tanya Xiao Wang lagi. Ia hendak menangkap tangan Xiao Yin namun langsung di tepis olehnya.
__ADS_1
Lalu Xiao Yin dengan segera berlari meninggalkannya dengan ekspresi ketakutan terlihat jelas di wajahnya.
Melihat sikap Xiao Yin yang tadi, ia merasa heran dan ada sedikit rasa sakit di hatinya.
"Mungkin Yin'er membenciku karena aku tidak bisa melindunginya kemarin," ujarnya sambil menghela nafas lalu menghembuskannya.
Ia pun melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu.
Sesampainya ia di sana ia bisa mendengar suara dari orang-orang yang begitu banyak di halaman rumahnya.
Karena penasaran ia berniat untuk melihat apa yang terjadi.
Namun belum sempat ia melangkahkan kakinya, tangannya di cegah oleh seseorang.
Ia pun menoleh dan melihat seorang pria yang berumur sekitar 11 tahun.
"Kakak Hou, sejak kapan kau datang ke mari?"
"Itu tidak penting, ayo ikut aku." Yan Hou menarik tangan Xiao Wang, dan membawanya ke suatu tempat.
Pria yang memegangi tangannya adalah Yan Hou, anak dari kakak Ibunya, dalam kata lain ia adalah sepupunya.
Ia datang ke sekte Elang Emas dengan hanya di temani para pengawal keluarga Yan. Dikarenakan ayahnya, Yan Ao memiliki urusan penting yang tidak bisa ia tinggalkan. Sehingga ia tak bisa ikut berkunjung ke Sekte Elang Emas.
Yan Hou sangat senang mendengar dirinya akan pergi ke Sekte Elang Emas. Lantaran dirinya yang sudah lama tak berkunjung di sana dan bermain-main dengan Xiao Wang.
Yan Hou menarik tangan Xiao Wang dan membawanya di suatu ruangan. Sesampainya di sana, ia bisa melihat Xiao Yin, Kakek, ayah, beserta ibunya telah berkumpul di sana, menunggu kedatangan mereka.
"Wang'er, kemari sini nak. Ada yang ingin kami bicarakan padamu." Xiao Meng memanggil Xiao Wang.
Xiao Wang pun berjalan mendekati ayahnya, lalu duduk di sampingnya.
"Wang'er, apakah kau merasa baikan sekarang?" tanya Xiao Liu.
"Iya Kakek, aku sudah sembuh.."
".. Kakek, ayah. Apakah kalian tak akan bertanya kenapa aku bisa sembuh begitu cepat?" Tanya Xiao Wang.
"Itu tak penting bagi kami, yang terpenting adalah kau sudah pulih dan baik-baik saja," ujar Xiao Liu.
"Iya Wang'er. Bagaimana perasaanmu sekarang, apakah masih sakit?" tanya Xiao Meng.
"Tidak ayah aku sudah sembuh sepenuhnya."
Xiao Liu dan Xiao Meng awalnya merasa terkejut ketika mendengar dari Yan Yu bahwa luka-luka yang ada pada Xiao Wang berkurang begitu cepat hanya dalam kurun waktu yang sangat singkat.
Namun, mengingat kejadian waktu itu, mereka pun sepakat bahwa pemulihan Xiao Wang yang signifikan ada kaitannya dengan kejadian-kejadian aneh saat ia lahir.
__ADS_1
Jadi mereka memilih untuk tidak terlalu memikirkannya.
"Hmm. Kemari nak, mendekat!" Pinta Xiao Liu.
Xiao Wang pun beranjak dari tempat duduknya mendekati Xiao Liu. Setelah itu ia duduk di sampingnya.
Xiao Liu mengarahkan tangannya pada benjolan dan bekas sayatan yang masih tersisa di tubuh Xiao Wang.
Dengan menggunakan unsur elemen air, ia memperbaiki kembali sel-sel kulit Xiao Wang yang rusak.
5 menit kemudian ia telah selesai menyembuhkan Xiao Wang sepenuhnya.
"Terima kasih Kakek."
"Iyah, sama-sama. Lain kali kau harus lebih berhati-hati Wang'er. Aku tak mau kejadian ini kembali terulang."
"Iya Kakek, Wang'er janji akan lebih berhati-hati lagi kedepannya."
Xiao Liu tersenyum kepada Xiao Wang sambil mengusap rambut Xiao Wang dengan lembut.
Setelah itu Yan Yu dengan di temani oleh Xiao Yin menyiapkan sarapan, dan merekapun makan bersama.
Sementara itu, di tempat lain dan masih di Sekte Elang Emas, seorang Pria yang berumur 10 tahun sedang duduk di ambang bawah jendela rumahnya.
Ia tampak sedang memikirkan sesuatu. Pria tersebut adalah Lu Wanqiang, pria yang telah menyerang Xiao Wang dan hampir membunuhnya.
Lu Wanqiang mengingat kembali kejadian waktu itu. Dimana, ia yang hampir menikam Xiao Wang tiba-tiba saja pedangnya berhenti dengan sendirinya.
Aura yang menakutkan terpancar dari tubuh Xiao Wang. Xiao Wang yang awalnya menunduk, perlahan mengangkat kepalanya. Ia memasang senyum ke arahnya, senyuman yang membuat siapa saja akan ngeri ketika melihatnya.
Tanpa ia sadari, dirinya termundur beberapa langkah dengan sendirinya.
"Xiao Wang, apa yang terjadi padamu?" Tanyanya.
Xiao Wang tak menjawab dan malah menyerang orang yang memegangi tangannya, hingga kedua orang tersebut terjatuh.
Tak berhenti sampai di situ, Xiao Wang mendekati salah satu dari orang tersebut dan menusuk kedua matanya menggunakan jari tangannya.
Seketika cairan berwarna merah memuncrat keluar dari matanya, dan dibarengi dengan teriakan menyayat hati dari orang tersebut.
Tidak puas sampai di situ, ia mengambil pedang pria tadi dan memotong ke dua tangan dan kakinya.
Pria tersebut menangis sejadi-jadinya, ia pun meminta kepada Xiao Wang untuk segera membunuhnya.
Tapi, Xiao Wang tak mengindahkan permintaan tersebut dan membiarkannya begitu saja. Lalu ia mendekati pria yang lainnya dan melakukan hal yang sama.
Sungguh penyiksaan yang sadis.
__ADS_1