
~Alam bawah sadar Chen Li~
"Lu... Lu!"
Berulang kali Chen Li memanggil nama itu, namun tak kunjung orang yang di panggil menampakkan diri.
"Lu... Dimana kau! Keluarlah jika kau memang mendengar ku!" Tetap saja ia tak mendapatkan jawaban dari Chen Lu.
"Hmm, kemana perginya pria itu. Apakah hukumannya telah selesai, sehingga ia meninggalkan alam bawah sadar ku? Tapi sepertinya tidak mungkin. Kalau seandainya hukuman yang di berikan salah satu dewa tertinggi telah berakhir, lalu kenapa ia tak memberitahuku terlebih dahulu?"
Terhitung sudah satu hari ia di alam bawah sadarnya dan mencari keberadaan Chen Lu, namun tak kunjung ia menemukan keberadaan pria itu.
Berulang kali hipotesis yang ia keluarkan dengan gumaman yang tak henti-hentinya keluar dari mulutnya mewanti-wanti dimana perginya pria itu, namun tetap saja jalan buntu menghalau dugaannya.
Karena merasa bosan, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke dunia nyata. Dikarenakan setelah babak 16 besar selesai di laksanakan, akan dilangsungkan dengan babak perempat final.
Saat ia kembali, dirinya mendapati tubuhnya sedang terbaring di sebuah tenda dengan seorang pria tua di sampingnya sedang memeriksa kondisinya.
"Ehh, kau sudah sadar rupanya!" Pria tua itu berucap dengan senyum hangat ia arahkan kepada pemuda itu.
"Ini, minumlah ramuan ini agar kondisi tubuhmu cepat pulih sepenuhnya!" ujarnya kembali sambil menyodorkan ramuan kepada Chen Li.
Chen Li menatap bingung pria itu. Padahal ia merasa baik-baik saja. Dan mengenai kondisinya, dirinya bahkan memiliki banyak sekali jenis tanaman herbal di cincin ruangnya yang bisa mengembalikan kekuatannya seratus persen dalam kurun waktu semenit.
Namun ia tetap menerima ramuan itu, sebab dirinya tak mau mengundang perhatian terlalu jauh. Ya! Jika ia tak menerimanya, mungkin saja pria itu akan memaksanya. Kalaupun ia tetap tak menerimanya, dirinya takut pria tua itu akan menaruh curiga dan berakhir dengan interogasi olehnya.
"Bruuts!"
Chen Li langsung menyemburkan ramuan itu dari mulutnya.
__ADS_1
"Obat apa ini. Kenapa pahit sekali!" Segera pandangannya ia kitari seisi ruangan. Matanya bersinar sesaat ketika melihat apa yang ia cari berada tidak jauh darinya. Ia lantas turun dari ranjang dan berlari ke arah benda itu yang ternyata adalah gelas lengkap dengan cerek yang terbuat dari perak.
Lantas, ia tuangkan air di cerek ke gelas perak lalu berkumur-kumur menggunakan air itu. Setelahnya membuang kembali.
"Merah! Air apa ini? Apakah darah?"
Matanya terbelalak ketika melihat air yang baru saja ia buang berwarna merah. Lantas pandangannya ia arahkan pada Pria tua yang sempat diacuhkannya.
Tampak olehnya, pria tua itu yang seperti menahan tawa.
"Puft ... Hahaha! Apa yang kau lakukan anak muda. Apakah kau tidak tau air apa yang kau minum? Ha-ha-ha!" Tampaknya pria tua itu tak bisa menahan tawanya.
Pria tua itu berusaha menenangkan diri. Setelah agak tenang ia pun kembali berucap, "Air yang barusan kau minum itu adalah anggur. Sangat disayangkan air yang sangat mahal sekaligus sangat manis dan nyaman di tenggorokan terbuang sia-sia!" ucapnya sambil melangkah kearah Chen Li.
Ia lalu menuangkan anggur itu kedalam gelas perak lain setelah itu meminumnya.
Tegukan kenikmatan dapat di dengar oleh Chen Li. Namun bukannya nikmat, Chen Li malah merasa jijik.
Sementara pria tua itu memandang punggung pemuda itu yang mulai menghilang di balik tenda dengan senyum simpul di bibirnya.
"Hmm, entah apakah suatu keberuntungan atau apa. Dalam kurun waktu satu Minggu, aku bertemu dengan dua orang pemuda yang sangat menarik," gumam pria tua itu yang ternyata adalah Dewa Obat.
Sementara Chen Li yang telah keluar dari ruang medis langsung di sambut oleh banyaknya orang yang mengaku sebagai penggemar berat Chen Li. Kebanyakan dari mereka adalah para gadis dan wanita baik remaja maupun dewasa. Sedang untuk pria hanya berjumlah 10 orang.
Ia mengernyitkan alis melihat mereka yang seperti orang gila. Dirinya yang tak mengerti soal fans memilih mengacuhkan mereka dan berjalan menuju bangku yang memang telah di sediakan khusus untuk peserta yang lolos babak 8 besar.
Di sana juga telah ada tiga pemuda dimana dua diantaranya tidak asing baginya, sedang yang satunya ia tak mengenalnya.
Ketiga pemuda itu adalah Hei Fang, Xiao Wang, dan seorang lagi yang berasal dari sekte besar aliran hitam.
__ADS_1
Chen Li berjalan melewati Xiao Wang. Tatapan mata keduanya bertemu sesaat. Ada rasa tidak asing oleh keduanya, namun Chen Li tetap melanjutkan langkahnya lalu duduk di samping Hei Fang.
"Aku tak menyangka kau bisa lolos di babak 8 besar!" ucap Chen Li pada gadis itu.
Hei Fang tak menanggapi ucapan Chen Li. Pandang matanya tetap menatap lurus di atas arena dengan beberapa peserta yang bertanding sangat sengit di sana. Terdapat juga Ai Fang yang sedang bertarung melawan seorang pemuda dengan kultivasi tahapan Bumi tingkat 1.
Chen Li sendiri tak mempermasalahkan sikap Hei Fang. Dirinya juga memperhatikan pertandingan di arena yang nampak telah memasuki tahap puncak keseruan pertarungan keenam peserta tersebut.
Sementara di arena, Ai Fang tampaknya mulai kewalahan meladeni setiap serangan yang di lancarkan pemuda lawannya dari berbagai arah. Setiap serangannya begitu mematikan, sampai-sampai tubuh Ai Fang telah di penuhi oleh luka beserta darah yang membasahi gaun putihnya.
Hei Fang yang melihat adiknya di perlakukan seperti itu merasa tak terima. Ia mengepal erat gaunnya. Darahnya pun terasa panas. Sorot matanya yang tajam menatap lurus kearah pemuda itu yang tampak sangat menikmati setiap rintihan kesakitan yang keluar dari mulut Ai Fang. Nafsu membunuh tanpa sengaja merembes keluar dari tubuhnya.
Melihat gadis di sebelahnya ini tak bisa mengontrol diri, Chen Li lantas menegurnya. Beruntung Hei Fang masih mau mendengarkannya. Ia sendiri tak menyangka perkataannya akan di dengar oleh gadis itu. Dikarenakan sebelum-sebelumnya gadis tersebut selalu cuek padanya. Keduanya pun kembali memperhatikan jalanya pertarungan di atas arena.
Saat sedang asyik-asyiknya menikmati pertarungan sambil mempelajari kekuatan lawan, tiba-tiba saja sebuah suara yang selama ini ia tunggu-tunggu memanggil namanya.
"Li, aku menemukannya!" ucap Chen Lu yang menggema dalam kepalanya.
"Haa... Menemukannya? Apa yang kau temukan?" Tanpa sadar dirinya telah berbicara lewat mulutnya, hingga menarik perhatian gadis yang duduk di sebelahnya.
"Apa yang aku temukan? Aneh..." ucap Hei Fang cetus.
"Eeh, i-itu... Maksudnya aku-aku sudah menemukan kelemahan lawan dari adikmu itu!" Chen Li mencari alasan.
Kedua alis Hei Fang bertemu, setelahnya ia kembali mengacuhkan pemuda yang duduk di sebelahnya.
Chen Li bernafas lega. "Untung saja ia tak bertanya terlalu jauh!" batinnya. Selanjutnya ia kembali bertanya kepada Chen Lu terkait dengan apa yang ditemukannya.
"Pemuda itu Li!"
__ADS_1
"Pemuda itu apa yang kau maksud Lu?"