
"Li'er, sebaiknya kau mencari orang yang mengendalikan mereka!"
"Tapi bagaimana dengan Paman?"
"Kau tak usah memikirkan aku. Aku akan baik-baik saja. Cepatlah! Jangan buang-buang waktu karena setiap detik begitu berharga."
"Baiklah Paman."
Sebelum pergi, Chen Li meninju mereka terlebih dahulu menggunakan seluruh kekuatannya. Ia tidak khawatir orang-orang di hadapannya ini akan tewas. Sebab setelah kejadian tadi, ia berpikir bahwa mereka tak akan pingsan ataupun tewas jika kepala masih menyatu dengan badan.
Sebuah energi besar melingkar, tercipta ketika ia melancarkan tinjunya. Mereka yang berada dalam radius serangannya akan langsung di buat terpental hingga seratus meter jauhnya.
Ia berbalik lalu melesat dengan kecepatan tinggi, mengikuti instruksi yang diucapkan oleh Chen Lu.
Lama ia berlari, namun ia tak kunjung menemukan apa yang ia cari.
"Lu, apakah masih jauh?" tanya Chen Li.
"Tidak Li, mungkin sekitar 500 meter dari tempat kau berdiri."
Chen Li menambah kecepatannya. Pendengarannya yang tajam tiba-tiba menangkap suara pertarungan. Karena penasaran, ia lantas menuju sumber suara tersebut.
"Dia!" Gadis yang dulu ia temui, nampak saat ini sedang bertarung dengan gadis lain.
"Bukankah mereka itu saudara. Kenapa mereka bertarung? Apakah mereka sedang berlatih?" gumamnya pelan sambil memperhatikan mereka.
"Tidak! Tidak mungkin mereka sedang berlatih. ada yang tak beres." Kembali ia bergumam ketika melihat kedua gadis itu bertarung seperti ingin membunuh lawan. Sesekali gadis berpakaian hitam akan berbicara, namun nampak tak dihiraukan oleh gadis berpakaian putih.
"Li, gadis berpakaian putih itu telah di pengaruhi Iblis."
"Pantas saja."
Ia lalu melesat kearah mereka berdua. Dengan tapaknya ia arahkan pada dada gadis berpakaian putih membuatnya termundur beberapa meter.
"Kau!" Hei Fang begitu terkejut ketika melihat siapa yang membantunya barusan.
"Butuh bantuan nona?"
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu!" ucap Hei Fang kesal.
Chen Li memasang senyum manis menanggapi ucapannya barusan.
__ADS_1
"Kenapa kau bisa berada di sini? Apakah kau mengikutiku?"
"Jangan besar kepala, nanti ku pecahkan kepalamu," ucap Chen Li mengulangi perkataan Hei Fang dengan senyuman yang masih tergalang di bibir ranumnya.
"Kau!" Gadis itu menunjuk Chen Li. Ingin rasanya ia mencakar muka pemuda di hadapannya ini.
"Berani kau.." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, serangan bola angin datang menghampirinya.
Ia tak sempat lagi untuk menghindar, karena kecepatan bola angin itu yang bagaikan kilat, dalam sekejap telah berada di hadapannya.
Segera ia gunakan lengannya untuk melindungi wajahnya. Beberapa saat menunggu namun tak ada tanda-tanda serangan tersebut mengenainya.
Ia pun memberanikan diri menurunkan lengannya, untuk memeriksa apa yang terjadi.
Tampaklah olehnya seorang seorang pemuda yang menahan bola angin itu dengan tangan kanannya.
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Chen Li.
"I-iya!"
Chen Li melempar bola angin itu ke sampingnya. Sebuah ledakan tercipta saat energi tesebut membentur tanah, membuat sebuah cekungan dalam pada tanah itu.
Hei Fang sangat kesal dengan sebutan pemuda itu, namun ia tetap menjawab pertanyaannya.
"Ai Ai tadi menghirup asap hitam itu sebelum akhirnya menjadi begini," jawabnya ketus.
"Maksudmu?"
"Asap itu di ciptakan oleh pria aneh yang memiliki mata hitam pekat, terdapat juga sebuah tanduk di kepalanya. Dan sekarang ini, Kakekku sedang melawannya."
Mendengar itu, Chen Li menjadi penasaran dengan orang yang di maksud.
"Di mana mereka bertarung?" tanya Chen Li sambil menghindari bola angin yang kembali hendak menghantamnya.
"Di sana," ucap Hei Fang seraya tangannya menunjuk ke arah timur."
"Baiklah."
Chen Li pun melesat meninggalkan dua bersaudara yang kini kembali bertarung.
Beberapa saat ia berlari, nampak di depannya sebuah kabut hitam. Di dalamnya, ia bisa mendengar suara pertarungan yang sepertinya sangat dahsyat.
__ADS_1
Ia pun memutuskan untuk ke sana. "Li, hati-hati. Jangan sampai kau menghirup kabut itu. Karena kabut itulah yang menyebabkan orang-orang desa beserta gadis tadi seperti itu," pesan Chen Lu.
"Um!"
Pandangannya tak dapat memindai sekitar walaupun penglihatannya tajam. Itu karena kabut itu yang sangat pekat. Ia pun mengaliri Qi pada kedua matanya, supaya bisa melihat ketika di dalam kabut hitam.
Semakin memasuki ke dalam, semakin terdengar pula suara ledakan akibat sebuah pertarungan.
Sampai pada akhirnya, nampak pula olehnya seorang Pria tua yang tengah bertarung mati-matian melawan sosok pria aneh. Memang benar yang di katakan Hei Fang barusan bahwa sosok itu memiliki kedua mata hitam dengan bibir beserta kuku panjang berwarna hitam pula. Di bagian kepala bagian kanannya terdapat sebuah tanduk tumpul yang hampir tak terlihat tertutupi rambutnya yang panjang.
Dari pertukaran jurus keduanya, Chen Li mengetahui kultivasi pria tua itu setidaknya berada satu tingkat di atasnya. Sedang sosok pria aneh berada dua tingkat di bawahnya.
Lama ia memperhatikan aksi keduanya. Sampai ia di buat terkesiap ketika mata hitam itu menatap lurus ke arahnya sesaat.
"Apakah ia baru saja menatapku?" batinnya.
Lama ia termenung, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk membantu pria tua itu.
Dengan Busur Bulan yang telah ia keluarkan dari Cincin Ruang, ia berinsiatif untuk menyerang sosok tersebut dari kejauhan. Karena ia tak mungkin menunjukan kekuatan aslinya di depan pria tua itu.
Tiga buah anak panah berapi-api, tercipta ketika ia menarik tali busur panah. Setelahnya, dengan kecepatan kilat, panah itu melesat ke arah sosok itu.
Tiga buah anak panah miliknya ternyata dapat di sadari olehnya, terbukti ia bisa menghindari anak panah itu.
Keduanya pun menoleh ke arah sumber lesatan anak panah. Di temukanlah seorang bocah dengan kultivasi tahapan Menengah tingkat 6 yang juga sedang menatap kearah mereka berdua.
Pria tua nampak terkejut melihat bocah itu yang berada di kabut, tanpa terjadi sesuatu padanya. Sampai-sampai ia telah melupakan bahwa lesatan anak panah tadi berasal dari bocah tersebut.
Pria tua menghilang dan muncul kembali di hadapan anak itu. "Nak, apa yang sedang kau lakukan di sini? Kembalilah! Di sini sangat berbahaya," ucapnya.
"Aku ingin membantumu kakek. Pamanku jadi kesurupan gara-gara pria jelek itu," tutur Chen Li mengarang.
Pria aneh yang mendengar dirinya di sebut jelek langsung naik pitam. Ia menghilang dari tempatnya, sesaat ia muncul kembali di belakang Chen Li berniat menyerangnya, namun segera di hentikan oleh Pria tua di hadapannya.
"Kau, cepatlah menyingkir dari tempat ini. Di sini sangatlah berbahaya!"
Chen Li menurut, lalu segera berlari meninggalkan mereka berdua.
Tak terima karena bocah itu pergi begitu saja, pria aneh tersebut berniat mengejarnya namun langsung di hadang oleh pria tua.
"Lawan mu bukan dia. Tapi aku!"
__ADS_1