Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch 32. Murid Sekte Golok Putih


__ADS_3

"Bocah ada yang mengikutimu dari belakang."


Sontak Xiao Wang menghentikan langkahnya, "benarkah. Kenapa aku tak merasakan apa-apa?"


"Itu karena kau tolol."


Xiao Wang menanggapi ucapan Bo Ji dengan memasang wajah sinis. Ia lalu mempercepat langkahnya.


Sementara orang yang membuntuti Xiao Wang dari belakang segera bersembunyi di balik pohon besar ketika melihat Xiao Wang berhenti.


Sialnya, ketika ia hendak mengintip, orang yang di intip tak nampak lagi. Segera ia berjalan cepat ke tempat dimana ia terakhir kali melihat pemuda tersebut berhenti.


Namun, ia tak mendapati apa yang ia cari. Mencoba melacak hawa keberadaannya pun hasilnya sia-sia belaka.


"Sial," umpatnya, sambil membanting tangan di udara.


Ia pun lekas melangkah mencari pemuda tersebut di tempat lain.


Sementara Xiao Wang yang berada di atas pohon begitu terkejut ketika melihat siapa yang mengikutinya barusan.


"Tetua Hai. Kenapa ia bisa mengikutiku."


"Asal kau tahu bocah. Pria tua itu adalah orang yang telah membuat kekacauan sebelumnya."


"Maksudmu?"


"Ia telah bersekongkol dengan salah satu Jenderal Iblis. Pria Tua itu jugalah yang telah memberi Pil Mustika Iblis kepada Pemuda yang mejadi lawanmu kemarin."


"Bo Ji, kau ini bicara apa, aku jadi semakin tak mengerti arah pembicaraanmu."


"Sudahlah, percuma bicara sama orang dungu seperti kau. Mau pake bahasa apapun kau juga tak akan mengerti. Yang intinya, kau harus menjauhi orang itu, sebab dia memiliki hubungan dengan para Iblis. Jika sampai mereka mengetahui bahwa kau adalah orang yang ditakdirkan untuk menyelamatkan alam semesta, bukan tak mungkin Jendral Iblis akan mencari kau dan membunuhmu."


"Hmm, baiklah. Aku akan berusaha sekeras mungkin untuk menghindari tetua Hai Bao." Walau tak mengerti, Xiao Wang tetap mengiyakan perkataan Bo Ji.


"Oh, iya Bo Ji. Kemana kita akan pergi?"


"Sangat jauh bocah. Membutuhkan dua sampai tiga hari dengan kecepatanmu saat ini."


"Untuk itu, mari kita bergegas, jangan membuang-buang waktu, supaya kita bisa sampai lebih cepat." Xiao Wang turun setelahnya berlari dengan kecepatan tinggi.


"BOCAH, bukan di arah barat, arah timur.."

__ADS_1


"O ow. Maaf." Xiao Wang pun berbalik arah lalu berlari meninggalkan tempat itu secepatnya.


Ia terus berlari dan sesekali akan istirahat. Hingga ketika sang mentari tenggelam berganti sang rembulan malam. Ia pun memilih beristirahat di atas pohon.


Ia memilih untuk tidak berlatih bersama Bo Ji di alam bawah sadarnya karena ini baru pertama kalinya ia tidur di ruang terbuka. Apalagi sendirian, jadi ia harus waspada.


Setelah matahari nampak, ia pun bergegas melanjutkan perjalanannya, setelah sepanjang malam ia tak bisa tidur.


Beberapa saat ia berlari, ia menemukan sungai.


Tanpa pikir panjang ia langsung kesana untuk mandi. Ia melucuti semua pakaiannya, lalu menceburkan diri ke sungai.


Setelah selesai ia pun memakai kembali pakaiannya. Setelahnya ia melanjutkan kembali perjalanannya.


Namun, ia langsung menghentikan larinya ketika mendengar suara pertarungan. Karena penasaran, langsung ia berbelok arah menuju sumber suara tersebut.


Berjalan beberapa meter, dari kejauhan nampak lima orang pemuda bersenjatakan golok sedang bertarung mati-matian melawan seekor landak besar.


Ukuran landak itu sekitar satu setengah meter dengan duri-duri tajam mengkilap di terpa sinar mentari mengelilingi punggungnya.


Mereka berlima tampaknya kesusahan menghadapi serangan yang datang bertubi-tubi dari sang landak. Tubuhnya yang berduri-duri ia bentuk seperti bola berduri. Setelahnya ia menggelinding mengincar kelimanya.


Ketika tubuhnya membentur pohon, duri-duri tajam di punggungnya akan langsung membelah batang pohon itu.


Kelimanya tampak kesusahan menghindari setiap lesatan tubuh landak itu, karena gerakannya yang cepat. Selain itu, duri-duri yang tajam juga berperan aktif dalam menyerang mereka.


Nampaknya, landak itu bisa mengendalikan tubuhnya dengan baik. Terbukti, saat Hewan tersebut menggelinding di tanah. Duri-duri tajamnya tak menembus tanah.


Merasa kelimanya tak mampu lagi melawan landak tersebut, Xiao Wang berniat membantu mereka.


Ia lantas keluar dari persembunyiannya dan menghampiri mereka. Dengan pedang yang terhunus, ia langsung arahkan kepada landak itu yang hendak menusuk salah satu pemuda yang tak mampu lagi bertahan.


Percikan-percikan bunga api tercipta ketika pedang berbenturan dengan duri landak. Beberapa saat keduanya di buat terpental ke belakang.


Segera Xiao Wang menyeimbangkan tubuhnya, lalu ia kembali melesat, bersamaan dengan itu, ia juga menciptakan 5 anak panah dan langsung ia Lesatkan pada landak itu.


Sebuah ledakan tercipta ketika anak panah berbentrokan dengan landak, membuatnya terpental ke arah berlawanan.


Landak itu tampak linglung sesaat, terlihat jelas saat tubuhnya tak berbentuk bola lagi dan nampak kepalanya bergoyang-goyang.


Tak ingin menyia-nyiakan momen itu, Xiao Wang kembali menciptakan 15 anak panah, dan langsung ia Lesatkan ke arah landak itu dan mengurungnya.

__ADS_1


Merasakan kesadarannya telah kembali sepenuhnya, landak itu berniat menggulung kembali badannya, namun beberapa anak panah melesat dan mengurungnya.


Ia berniat mengacuhkan anak-anak panah itu. Hingga ketika tubuhnya bersentuhan dengan salah satu anak pana dan menimbulkan ledakan pada anak panah tersebut. Kawanan anak panah itu juga nampak tak tinggal diam, mereka juga ikut meledak.


Rentetan ledakan menghantam tubuh landak itu. Hingga ketika ledakan tersebut berhenti, nampaklah tubuh landak yang terluka parah. Di bagian perutnya terdapat sobekan, tak hanya itu bahkan beberapa durinya yang tajam menjadi tumpul.


Xiao Wang lantas mendekati hewan tersebut. Dengan pedang tajamnya ia hujamkan pada perut landak membuatnya tewas dengan mata yang menganga.


Kelima pemuda itu memandang takjub Xiao Wang. Salah satu dari mereka berjalan menuju kearahnya, ia lantas membungkuk memberi hormat.


"Terima kasih senior, karena telah menyelamatkan kami."


Mendengar itu, Xiao Wang mengernyitkan alisnya. Pasalnya pemuda di depannya ini sepertinya lebih tua beberapa tahun darinya.


"Mohon maaf senior, jika di lihat-lihat, sepertinya senior lebih tua beberapa tahun dariku. Maka dari itu panggil saja aku junior."


"Baiklah Junior. Sebelumnya perkenalkan namaku adalah Gao Pan, kami berasal dari sekte Golok Putih."


"Ow, perkenalkan junior Xiao Wang, dari Sekte Elang Emas."


"Xiao!! Kau adalah cucu dari ketua sekte Elang Emas, Xiao Liu.. Ternyata rumor yang beredar tentang cucu Ketua Sekte Elang Emas Jenius nomor satu benar adanya, bukan hanya sekedar kabar angin semata." Salah satu dari mereka berteriak histeris ketika mendengar marga Xiao.


Mendengar itu, Xiao Wang hanya tersenyum tipis menanggapi itu. Ia tak menyangka dirinya akan seterkenal itu.


"Bocah, apakah kau tak mau mengambil roh kristal dari siluman itu." Tiba-tiba Bo Ji bersuara di benaknya.


"Eh, iya aku sampai lupa dengan itu."


"Apa?" tanya Gao Pan yang tak terlalu menangkap perkataan Xiao Wang barusan.


"Eeh, tidak." Xiao Wang menjadi salah tingkah. Pasalnya ia tak berbicara dengannya, tapi ia berbicara dengan Bo Ji di benaknya, tapi ia keceplosan.


Xiao Wang berbalik lalu dengan pedangnya ia mencakar-cakar isi perut landak itu. Ada rasa jijik di benaknya ketika melihat isi perut landak itu. Namun ia tak mempedulikannya, ia tetap melanjutkan aksinya.


Beberapa saat, ia menemukan sesuatu yang di carinya. Ia pun mengeluarkan tangannya, tampak sebuah kristal berwarna putih yang hendak berubah warna menjadi kuning. Melihat benda itu, kelima pemuda itu melebarkan matanya.


Xiao Wang yang melihat tatapan mereka terhadap kristal roh yang di tangannya, tersenyum tipis. Ia pun menyerahkan kristal tersebut pada pemuda di hadapannya.


"Tidak junior Xiao kau lebih berhak memiliki kristal roh itu daripada kami. Kau yang membunuhnya kan," tolak Gao Pan.


Xiao Wang tetap memaksa. Setelah beberapa saat mereka menerimanya, tak lupa pula mereka mengucapkan terima kasih kepada Xiao Wang.

__ADS_1


Setelah itu, Xiao Wang melanjutkan perjalannya.


__ADS_2