Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch 41. Ras Iblis Mulai Beraksi


__ADS_3

Desa itu sangat lah sepi seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Dalam keheningan tersebut, terlihat dua orang pria bertudung melewati rumah demi rumah yang tak tertutup, namun tak nampak pemiliknya.


"Paman, ada apa dengan orang-orang di desa ini?"


"Entahlah Li'er, aku juga tak tahu?"


"Ada yang tak beres."


Mereka terus berjalan memasuki desa itu lebih dalam.


"Li, aku merasakan aura keberadaan Iblis yang tak jauh dari tempat ini."


Sontak Chen Li langsung menghentikan langkahnya. "Benarkah?"


"Ya."


"Ada apa Li'er?" Wan Li yang melihat Chen Li berhenti lantas bertanya padanya.


"Paman, Chen Lu memberitahuku bahwa ia merasakan adanya aura Iblis yang tak jauh dari sini."


"Benarkah?" tanyanya tak percaya, dan di balas dengan anggukan pelan oleh Chen Li.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Beberapa meter dari keduanya, nampak seorang wanita yang menggendong bayi berjalan pelan ke arah mereka.


Tingkah wanita itu sangatlah aneh, ia berjalan menunduk sambil tangan kanannya menenteng sang bayi.


Dengan rambut yang acak-acakan, serta pakaian lusuh yang tak beda jauh dengan yang di kenakan oleh keduanya, membuat ia tampak menyeramkan di mata Chen Li.


"Li'er, kau tunggulah di sini, aku akan bertanya dulu pada wanita itu!''


"Apakah kau yakin paman?"


"Umm."


Wan Li pun bergegas melangkah menuju wanita tersebut.


"Maaf.."


Perkataannya tergantung begitu saja tatkala matanya bertemu dengan sepasang mata yang hitam sepenuhnya dari wanita itu.


Sontak saja ia terkejut dan di buat termundur dengan itu.

__ADS_1


"Rraawwrr!"


Wanita itu berteriak sangat keras hingga suaranya mampu merobek gendang telinga keduanya jika saja mereka tak sempat mengaliri Qi ke dalamnya.


Bayi yang ada di tangan kanannya ia jadikan senjata untuk menyerang Wan Li. Tangisan menyayat hati dari bayi itu tampaknya tak mampu membuat ibunda tercinta berhenti melancarkan aksinya.


Wanita itu melesat ke arah Wan Li. Tangan kirinya yang memegang salah satu kaki bayi ia libaskan ke arah Wan Li, namun tak dapat mengenainya.


Tak berhenti sampai di situ, ia tetap melancarkan aksinya.


Wan Li ingin menangkis, namun ia tak berani melakukannya, takut bayi itu akan kenapa-kenapa, jadi dia lebih memilih untuk menghindar.


Seiring waktu berlalu, tempo kecepatan wanita itu nyatanya kian bertambah.


"Kreakk!"


Terdengar suara patahan tulang pada leher bayi tersebut saat berbenturan dengan lengan kokoh Wan Li. Di saat itu juga, tak terdengar lagi suara tangisan sang bayi.


Chen Li bergidik ngeri ketika melihat peristiwa itu, dimana seorang bayi kecil yang tak tahu apa-apa harus tewas dengan keadaan muka hancur disebabkan tak adanya belas kasih dari Ibunya.


Meskipun begitu, wanita itu tetap saja menyerang Wan Li menggunakan bayi tersebut.


Beberapa saat, keduanya mengambil jarak. Bisa di lihat pakaian lusuh Wan Li yang kini telah di penuhi noda darah. Bukan darah miliknya, lebih tepatnya darah bayi tersebut.


Begitupun dengan Wan Li, ia juga merasakan kepalanya yang agak pusing melihat bayi itu.


Ia pun memilih mengeluarkan pedang Naga Api setelah sebelumnya ia ragu untuk menggunakannya. Ia juga merasakan tubuhnya yang pegal karena berbentrokan dengan bayi itu.


Pertarungan pun kembali terjadi antar keduanya. Wanita itu melibaskan bayi kearah kepala lawan namun di tangkis oleh Wan Li dengan pedang yang ia letakkan di samping wajahnya.


Syek!


Percikan darah memuncrat dari tubuh sang bayi yang terpotong menjadi dua dan mengenai wajah Wan Li.


Saat itu juga, kemarahan mencuat di benaknya. Ia memejamkan kedua matanya sesaat. Rasa bersalah, serta marah bersatu dalam pikirannya. Karena dirinya, seorang bayi yang tak bersalah harus mati dengan keadaan yang menyedihkan.


Akan tetapi dirinya juga sadar, bahwa ia tak akan melakukannya jika bukan karena wanita itu yang mendahuluinya.


"Dasar manusia ******!"


Ia lantas melesat kearah wanita itu, menyerangnya dengan beringas. Sampai beberapa saat, wanita itu telah di penuhi oleh sayatan dalam di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Namun anehnya, wanita tersebut masih tetap berusaha menyerangnya, walaupun ia tak dapat lagi melakukannya.


Wan Li hendak mengakhiri hidup wanita itu, namun dengan cepat di cegah oleh Chen Li.


"Berhenti Paman!"


Wan Li menoleh ke arah Chen Li. Ia mengernyitkan dahi sesaat. "Ada apa Li'er?" tanyanya dengan nada yang masih mengandung emosi di dalamnya.


Chen Li kemudian menjelaskan bahwa wanita itu sebenarnya hanyalah seorang penduduk desa biasa yang tak bersalah dan tak tahu apa-apa. Ia hanya mengikuti instingnya yang telah di pengaruhi oleh Iblis. Dikarenakan para Iblis sangat tidak menyukai Manusia dan Dewa, maka mereka yang terpengaruh juga akan memusuhi manusia dan dewa.


Kurang lebih begitulah yang di ucapkan Chen Lu padanya.


Tepat setelah Chen Li selesai menjelaskan. Segerombolan orang dengan mata hitam sepenuhnya yang sama dengan wanita itu datang menghampiri mereka.


Jalanan yang luas nampaknya tak mampu menampung banyaknya orang-orang itu. Bisa di lihat kalau sebagian ada yang berjalan di belakang.


Mereka berjalan menunduk layaknya orang yang sedang kelelahan. Salah seorang dari mereka menoleh ke depan. Pandangannya menangkap dua sosok manusia.


Ia terdiam sesaat, sebelum akhirnya ia berteriak lantang. "Rraawwrr!"


Sontak yang lain langsung mengarahkan pandangan ke depan. Nampaklah dua orang manusia yang berdiri mematung memandangi mereka.


"Rraawwrr! Rraawwrr! ..."


Semuanya langsung berteriak mengikuti orang tadi. Setelahnya, mereka langsung melesat kearah dua orang itu.


"Sial!"


Chen Li masang kuda-kuda, begitupun dengan Wan Li. Ia menyarungkan pedangnya lalu memasukkan ke dalam cincin ruang.


Setelah itu keduanya melesat ke arah orang-orang itu.


Satu tinju dari Chen Li berhasil menerbangkan beberapa dari mereka. Ia kembali melancarkan tinju ke arah yang lainnya, membuat mereka juga terpental.


Beberapa saat, keduanya telah di kelilingi oleh orang-orang itu, yang jumlahnya melebihi ratusan.


"Sial!" Chen Li mengumpat ketika menyaksikan orang-orang yang semula terbang oleh tinjunya, kini telah bangkit kembali seolah tak terjadi apa-apa pada mereka.


Chen Li kemudian mempercepat gerakannya. Satu persatu orang-orang terbang olehnya. Hingga sepuluh menit berlalu, dirinya bersama Wan Li berhasil membereskan tiga perempat dari mereka.


Namun yang membuatnya sangat jengkel adalah, orang-orang itu yang kembali bangkit dan kembali menyerbu mereka.

__ADS_1


Padahal dirinya sangat yakin kalau tadi ia telah memukul mereka dengan menggunakan sepertiga kekuatannya, ia juga sempat mendengar beberapa bunyi tulang yang patah.


"Ini tak bisa dibiarkan. Kita tidak bisa terus-terusan seperti ini. Yang ada kita nanti yang akan kelelahan."


__ADS_2