Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch 81. Pertarungan Selesai


__ADS_3

Mu Liliang merasakan sesuatu yang sangat berbahaya akan segera menimpanya ketika melihat Chen Li yang melompat lalu melakukan suatu gerakan tarian.


Tak ingin mengambil resiko, Mu Liliang lantas mengeluarkan semua kekuatannya untuk menciptakan sebuah energi berbentuk naga api dengan ukuran tiga kali lipat dari naga yang sebelumnya pernah ia cipta.


Selesai dengan itu, ia lantas mengayunkan pedangnya ke arah pemuda yang menjadi lawannya yang kini juga nampak telah siap melempar energi yang ia cipta kearahnya.


"Amukan Dewa Phoenix!"


"Pedang Naga Api!"


Keduanya berteriak lantang secara bersamaan.


Kedua energi berbentuk hewan suci legendaris itu sama-sama bergerak melesat ke arah yang di tunjuk kedua pemuda itu.

__ADS_1


BAAMM!


Ledakan yang sangat besar menggema hingga menggetarkan satu arena. Tak hanya itu, bahkan formasi yang di ciptakan oleh beberapa kultivator tahapan langit kini telah menimbulkan retakan-retakan yang menjalar sebelum akhirnya pecah.


Banyak yang tak percaya melihat kejadian itu. Mulut serta mata melebar, nafas pun seakan-akan tertahan di dada. Pasalnya seorang bocah dengan kultivasi Tinggi tingkat 1 dan Kultivasi tingkatan tinggi tingkat 5 bisa menciptakan sebuah energi dengan ledakan begitu diluar nalar.


Sementara itu Mu Liliang selepas melepaskan energi berbentuk naga api, segera ia melapisi tubuhnya dengan perisai dari sisa energi Qi miliknya. Namun meskipun begitu, tetap saja ia terkena imbas dari ledakan itu. Percikan api yang mengenainya, berhasil menghancurkan perisai buatannya. Tak hanya itu, angin yang sangat kencang, yang tercipta dari ledakan kedua energi itu berhasil menyapu dirinya, hingga menerbangkannya keluar arena menembus formasi penghalang tersebut.


Meskipun dampak energi itu telah menyebar keluar arena, namun tak ada yang terluka karenanya. Hanya hembusan angin agak panas yang tidak terlalu kencang menyapa penonton yang kebetulan posisinya di depan dan sedikit berdekatan dengan arena ke-2. Dikarenakan dampak kedua energi itu telah berkurang sebelumnya karena di halau oleh formasi penghalang.


Kultivator yang menjadi wasit pertandingan Chen Li dan Mu Liliang segera menghampiri arena yang telah porak poranda. Ini kedua kalinya pertarungan Chen Li menimbulkan kerusakan pada arena. Dan lawannya pun sama-sama berasal dari keluarga bangsawan.


Setelah mengitari seisi arena yang memang tak bisa ia melihat sepenuhnya karena jarak pandangannya di batasi oleh tebalnya kabut asap, dirinya akhirnya mendapati seorang pemuda yang berlutut dengan pedang sebagai penopang tubuhnya agar tidak ambruk di tanah.

__ADS_1


Segera ia menghampiri pemuda itu. Dapat dilihatnya pemuda itu yang di penuhi luka di sekujur tubuhnya. Ya! Pemuda itu adalah seorang bocah yang tadi sempat ia harapkan kalah dengan keadaan menyedihkan. Namun nyatanya pemuda itu saat ini sedang menatapnya dengan senyum sinis ia arahkan padanya.


Ingin rasanya ia menelan pemuda itu hidup-hidup. Namun ia segera menahan diri. Karena ia tahu saat ini banyak pasang mata yang sedang mengawasinya walaupun dirinya berada di kabut yang sangat tebal.


Ia lalu melangkahkan kakinya ke arah lain mencari keberadaan Mu Liliang. Satu arena telah ia kitari namun tak kunjung ditemukannya keberadaan pemuda tersebut.


Hingga pandangannya salah menangkap seorang pemuda yang sedang terbaring tak sadarkan diri dengan keadaan yang sangat menyedihkan. Segera ia menghampiri pemuda itu dan mendapati seseorang yang ternyata putra Kepala Keluarga Mu yang terbaring tak sadarkan diri.


Bergetar dirinya kala itu. Tak bisa dibayangkan bagaimana reaksi kepala keluarga Mu nantinya. Kepalanya tergeleng-geleng kala membayangkan bagaimana nasib Chen Li setelah ini. Kalau ia tak salah dengar sebelumnya dari percakapan Mu Liliang dan Chen Li, pemuda tersebut juga pernah bermasalah dengan putra kepala keluarga Mu yang lain. Dari situ, ia sudah bisa membayangkan akan bagaimana nasib pemuda itu kedepannya.


Setelah kabut itu agak menipis, dirinya kembali ke atas arena. Ia melibaskan tangannya membuat kabut itu berkurang dengan cepat. Nampaklah oleh penonton suasana di atas arena ke-2.


Desas-desus kembali terdengar di bangku penonton yang ramai membicarakan tentang pertarungan Chen Li dan Mu Liliang. Ada yang kagum dengan Chen Li, ada yang menyindir, ada yang iba terhadap nasib pemuda itu kedepannya, ada yang tak percaya dan masih banyak lagi.

__ADS_1


Hingga ketika wasit mengumumkan pemenang dari pertandingan itu, Suasana pun kembali bertambah ramai.


Sementara Chen Li, setelah mendengar dirinya diumumkan sebagai pemenangnya, ia memilih untuk ke alam bawah sadarnya untuk mencari Chen Lu, dikarenakan akhir-akhir ini ia tak mendapati keberadaan roh tua yang berlagak pemuda itu. Berkomunikasi pun tak pernah di lakukan-nya. Bahkan beberapa kali Chen Li ke alam bawah sadar untuk mencari keberadaannya, ia tak kunjung menemukan Chen Lu.


__ADS_2