
Tap Tap Tap ....
Tap Tap Tap ....
Langkah kaki yang terdengar berulang kali berirama dengan cepat itu, seketika memenuhi ruangan tengah di salah satu rumah megah yang terletak di perumahan elite kota Sidoarjo.
"Aulia? Pelan-pelan kalau jalan di tangga, jangan lari-lari seperti itu!" Suara lembut nan tegas tersebut sontak menghentikan aksi anak perempuan berkulit putih dengan tubuh semampainya itu.
"Hehe, maaf, Bun!" ujarnya seraya tertawa kecil dan lantas menghampiri kedua orang tuanya yang tengah duduk di meja makan.
"Ayo sarapan dulu, sudah hampir setengah tujuh nih!" timpal sang Ibunda.
Aulia hanya tersenyum sumringah, matanya berpendar indah melihat aneka makanan di atas meja dan tanpa berkata apa-apa lagi ia pun mengambil selembar roti, lalu mengolesinya dengan Nutella Choco Spread.
"Mau bawa bekal ke sekolah?" tanya Bunda Aulia seraya menatap putri semata wayangnya tersebut, yang tengah lahap menyantap sarapan favoritnya.
"Mau, bekal aku nasi goreng aja ya, Bun!"
"Oke." Dengan cekatan Bunda Aulia lantas beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil kotak makan, setelah itu ia pun menyiapkan nasi goreng keinginan putrinya.
Tak sampai 5 menit kemudian, semuanya sudah siap dan di saat itu juga sarapan Aulia selesai.
"Terima kasih ya, Bun!" Aulia tersenyum lebar seraya mengambil kotak makannnya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Sama-sama, Sayang!"
"Oh iya, Kak Mungga sudah berangkat ke sekolah?" tanya Aulia.
"Iya, tadi ada temennya yang jemput."
"Oh, kalau gitu aku berangkat juga ya, Bun, Yah!" tutur Aulia lantas mencium tangan kedua orang tuanya.
"Hati-hati, ya! Cepetan juga lho, Thoriq pasti sudah nungguin kamu dari tadi," ujar sang Ayah ketika Aulia sudah hampir tiba di ambang pintu.
"Gak ada Thoriq tuh, Yah!" Aulia menoleh sekilas ke arah kedua orang tuanya yang masih duduk di meja makan.
"Tungguin saja dulu, mungkin dia masih ada di rumahnya," balas Ayah Aulia sembari beranjak dari kursi.
Aulia hanya mengangguk pelan dan kembali berjalan ke luar rumah. Setelah ia mengenakan sepatu, dia berjalan ke halaman dan menoleh ke arah rumah Thoriq yang pintunya kelihatan tertutup rapat-rapat.
"Lho, kok pintunya masih tertutup? Jangan-jangan Thoriq udah berangkat ke sekolah, terus gak ngajak-ngajak aku lagi!" gumam Aulia.
Samperin aja deh, batin Aulia.
***
"Assalamu'alaikum," ujar Aulia dengan setengah berteriak seraya mengetuk-ngetuk pintu dengan pelan.
Sepertinya orang tua Thoriq udah berangkat kerja, soalnya mobilnya udah gak ada, batin Aulia ketika menengok ke bagasi rumah sahabatnya itu yang sudah kosong melompong.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum?" teriaknya lagi.
Satu detik ....
Dua detik ....
Tiga detik ....
"Kok lama banget Thoriq buka pintunya, ya? Ke mana sih itu anak, ga tau apa ini udah jam berapa?" gerutu Aulia dengan muka sebal.
Karena tak tahan menunggu, Aulia mendekatkan badannya ke jendela dan memicingkan matanya untuk melihat suasana di dalam rumah Thoriq.
"Sepi, gak ada tanda-tanda kehadiran orang," gumam Aulia.
"Assalamu'alaikum, Thoriq? Ada di dalam gak? Ke mana sih?" teriak Aulia kembali seraya mengetuk pintu dengan keras.
Hadeh, aku pergi aja deh. Sepertinya Thoriq memang udah berangkat ke sekolah, batin Aulia sambil menggerutu sebal.
***
"Kenapa, Ul? Thoriq mana?" tanya Bunda Aulia ketika melihat putrinya tersebut keluar dari halaman rumah Thoriq dengan muka yang ditekuk.
"Gak ada Thoriq, Bun, mungkin udah berangkat ke sekolah. Aku berangkat juga ya, Bun!"
"Baiklah. Hati-hati ya, Nak!"
***
"Hai, Thoriq! Jadi kamu sudah di sini, sementara aku dari tadi nungguin kamu. Sampai-sampai aku nyamperin kamu ke rumah, ngetuk-ngetuk pintu dan bahkan berteriak, tapi gak ada yang nyahut!" gerutu Aulia ketika melihat Thoriq sudah duduk manis di kursi kelas.
"Iya-iya, maaf!" timpal Thoriq.
"Hmm, ada apa sih? Kamu kelihatan lemas gitu?" tanya Aulia dengan penuh selidik.
"Nggak!" ucap Thoriq spontan seraya menatap sekilas ke arah sahabatnya.
"Masa! Mukamu juga agak pucat atau jangan-jangan kamu sakit, ya?" Aulia menatap lekat-lekat wajah Thoriq, terlihat ada guratan kekhawatiran di balik wajah indahnya itu.
"Nggak, aku gak papa, kok!"
"Kalau nggak ada apa-apa, lantas kenapa kamu jadi aneh seperti itu? Sampai-sampai tadi aja kamu nggak ke rumah aku buat ngajak ke sekolah bareng!"
Thoriq hanya terdiam.
"Oh aku tahu, pasti kamu belum sarapan, kan?" Aulia tertawa kecil, lantas dengan cekatan ia membuka ranselnya dan mengeluarkan kotak makannya.
"Nih kamu makan aja, daripada kamu lemas seperti itu!"
"Eh, nggak usah, Ul! Aku udah sarapan kok, lagian aku juga gak kenapa-napa!"
__ADS_1
"Seriusan?"
"Kan udah dibilangin!"
"Yasudah, tapi kalau ada apa-apa jangan sungkan cerita sama aku ya, Riq!"
Thoriq hanya mengangguk dengan senyum tipis khasnya.
Setelah itu suasananya pun menjadi hening, sesekali hanya terdengar suara celotehan dan tawa kecil siswa-siswi di dalam kelas mereka. Sembari menunggu guru, Aulia memilih untuk berkutat dengan buku bacaannya, berbeda dengan Thoriq yang terlihat termenung kembali dan berulang kali ia melirik ke arah jam tangan yang bertengger manis di pergelangannya, sepertinya dugaan Aulia memang benar bahwa sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja.
Sampai akhirnya ....
"Aulia?" panggil Thoriq pelan.
"Emm, kenapa?" balas Aulia tanpa menoleh ke arah sahabatnya itu, matanya tetap fokus pada buku bacaannya.
"Aku mau ngomong sesuatu."
Mendengar kata 'sesuatu' yang terlontar dari mulut Thoriq, sontak membuat Aulia menutup bukunya rapat-rapat dan lantas menoleh ke arah sahabatnya dengan tatapan yang sangat serius.
"Sesuatu? Apa?" tanya Aulia seraya mengernyitkan dahi.
"Sebenarnya ..." Thoriq kelihatan bingung mengutarakan hal yang menganggu pikirannya itu.
"Ya, sebenarnya?"
Thoriq menarik napas dalam-dalam, setelah dia terlihat sedikit tenang dia pun berkata, "Sebenarnya aku mau pindah ke Bondowoso."
"Hah? Serius?" balas Aulia dengan setengah berteriak sampai-sampai semua orang menatapnya.
"Iya, aku harus ikut ayahku, dia dipindahkan ke Bondowoso!" jelas Thoriq dengan tampang yang sangat lesu.
Mendengar perkataan sahabatnya itu, senyum merekah yang sedari tadi terus tersungging di bibir Aulia langsung sirna begitu saja. Dan selama beberapa detik, ia hanya terdiam tanpa menghiraukan Thoriq yang berada di dekatnya.
"Aulia, maafin aku, ya. Meskipun kita tidak bisa bersama-sama seperti dulu lagi, tapi aku janji, aku akan sering kesini!" ujar Thoriq seraya menatap lekat-lekat wajah Aulia.
Aulia hanya mengangguk pelan tanpa menoleh ke arah Thoriq. Dibalik semua itu ia kelihatan tak percaya dengan apa yang baru saja Thoriq katakan, berulang kali dia terlihat mengedap-ngedipkan matanya, bahkan mencubit tangannya dengan pelan. Tapi benar, semua itu adalah kenyataan yang tak bisa dielakkan lagi!
"Aulia, don't cry, you have to be strong without me!" lanjut Thoriq seraya memegang pundak sahabatnya tersebut.
Lagi-lagi Aulia cuma mengangguk dan tanpa menoleh ke arah Thoriq.
"Senyum dong, mukanya jangan ditekuk kayak gitu!"
Aulia pun menoleh ke arah Thoriq lantas tersenyum tipis, tapi tak ada yang tahu bahwa betapa gelabahnya hatinya.
"Nah, gitu! Oh iya, aku berangkat sore ini." lanjut Thoriq seraya menatap Aulia sekilas.
Aulia cuma terdiam, tapi matanya tetap menatap sang sahabat yang sudah mengalihkan pandangannya ke arah lain. Di balik mata indahnya itu, ada setetes liquid bening yang sekuat tenaga ditahannya.
__ADS_1