Renjana

Renjana
Akan Jadi Lebih Baik?


__ADS_3

 `     Arsen kembali menarik nafas nya kasar saat kini ia tengah berdiri di depan sebuah ruangan. Ucapan Bagas saat itu benar-benar mempengaruhinya. Dan kini ia tengah berdiri di depan sebuah ruangan yang tak lain adalah ruangan Carol.


“Sampai kapan Anda hanya akan berdiri di sana Tuan Arsen?” tanya  Adnan yang sedari tadi terus memperhatikan Arsen yang masih saja berdiri di depan ruangan Carol. Mendengar pertanyaan Adnan kini Arsen hanya menatap nya dengan datar. Arsen masih begitu kesal dengan Adnan tentang laki-laki itu yang mendekati Queena.


“Tak perlu mengurusku. Lakukan saja pekerjaanmu,” ucap Arsen dengan kekesalannya yang membuat Adnan hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Arsen.


Sekali lagi laki-laki itu menarik nafas nya. Berusaha menyiapkan dirinya dengan apapun yang selanjutnya akan Carol lakukan padanya. Bahkan kini laki-laki itu sudah akan seperti  bertanding gulat saja. Adnan yang melihat nya hanya menggeleng. Walau ia merasa lucu dengan apa yang dilakukan oleh Arsen.


Setelah memberanikan dirinya akhirnya Arsen mengetuk pintu ruang kerja itu, hingga akhirnya Carol mempersilahkannya untuk masuk. Sekali lagi laki-laki itu menarik nafasnya lalu menghembuskannya dengan begitu pelan lalu setelah nya ia segera masuk ke dalam ruangan tersebut.


“Kamu baru dateng sekarang? Kenapa?” tanya Carol dengan senyuman sinisnya saat melihat laki-laki di depannya yang kini hanya menundukkan kepalanya mendengar pertanyaan yang Carol lontar kan untuk nya.


“Maaf Om,” ucap Arsen yang kini malah membuat Carol terkekeh mendengar ucapan Arsen.


“Untuk apa? Mengapa baru sekarang? Menyesal?” tanya Carol lagi yang kini begitu tepat sasaran.


“Saat kamu menyakiti anak saya, mengapa tak datang dan mengatakan nya pada saya? Bukannya sudah pernah saya bilang untuk tidak menyakiti Queena? Dan jika kamu sudah tidak mencintainya, katakan saja pada saya tanpa mengatakannya pada Queena. Karena saat itu saya yang akan menjauhkan kalian,” ucap Carol dengan begitu tegas nya pada Arsen. Pria itu berusaha menahan amarahnya saat melihat laki-laki yang sudah menyakiti anaknya itu.


“Maaf kan saya om. Saya terlalu takut untuk menemui om saat itu. Saya takut jika saya akan benar-benar kehilangan Queena,” ucap Arsen yang kini sudah berlutut di depan Carol. Carol yang mendengar nya malah terkekeh menatap pemuda di depannya itu.


“Kamu bercanda? Saat kamu menyakiti anak saya itu tanda nya kamu sudah kehilangan dia,” uap Carol dengan begitu tajam nya. Carol juga pernah muda, dan melihat bagaimana Arsen saat ini, ia tahu laki-laki itu tulus pada anaknya. Namun tetap saja, ia harus memberi pelajaran pada laki-laki yang telah menyakiti anaknya.


“Tapi saya gak mau kehilangan Queena om, saya mohon kasih saya kesempatan sekali lagi om. Saya janji, saya gak akan nyakitin Queena lagi,” ucap Arsen dengan ketegasan dalam ucapannya.

__ADS_1


“Apalagi yang bisa om percaya sama kamu? Nyatanya kamu sudah meyakini putri om,” ucap Carol dengan tatapan datar nya pada Arsen.


“Jika saya menyakiti Queena lagi, saya siap akan apapun konsekuensi yang harus saya tanggung om,” ucap Arsen yang kini memohon pada Carol. Namun pria itu malah menggelengkan kepalanya mendengar itu.


“Tidak, saya tidak ingin anak saya kembali terluka karena orang yang sama,” ucap Carol pada Arsen yang kini langsung membuat laki-laki itu menoleh ke arah Carol dengan tatapan tak percaya nya.


“Tapi Queena masih mencintai saya om,” ucap Arsen dengan begitu tegas nya pada Carol yang kini malah terkekeh mendengar ucapan Arsen.


“Tahu dari mana kamu? Selama bukan Queena yang mengatakannya sendiri pada saya. Saya tak akan mempercayai apapun itu. Jadi lebih baik sekarang kamu pergi dari sini,” tegas Carol pada Arsen seolah tak lagi menerima bantahan apapun.


Arsen yang mendengar nya kini mengepalkan tangannya sambil memejamkan matanya. Setelah nya ia segera keluar dari sana dengan rasa kecewa juga kekesalannya, karena kebodohannya sendiri kini ia benar-benar kehilangan gadis yang begitu.


Tidak, ia tak akan membiarkan semua itu terjadi. Karena kini ia akan mengikuti yang Bagas ucapkan. Ia akan memutuskan Meylen dan berjuang kembali untuk Queena.


Setelah keluar dari gedung tinggi perkantoran itu. Kini tujuannya adalah sekolah mereka. Meskipun ia tak masuk namun ia akan menjemput Meylen untuk mengajak gadis itu berbicara.


***


“Balik sama siapa Queen?” tanya Calya pada Queena dengan menaikkan sebelah alisnya.


“Di jemput Bagas, noh sama kak Dewi,” ucap Queena sambil menunjuk kakak nya itu dengan dagunya. Calya yang mendengar itu menganggukkan kepalanya.


“Queena, ayo balik,” teriak Dewi pada adik nya itu yang dijawab dengan anggukan oleh Queena.

__ADS_1


“Gue duluan ya,” ucap Queena yang setelah nya langsung pergi bersama dengan kakaknya itu.


Dengan langkah ringannya kini Queena dan Dewi berjalan bersama menuju ke arah gerbang depan untuk menunggu Bagas yang kini menjemput mereka.


“Bagas udah dateng kan Kak?” tanya Queena pada Dewi yang kini menjawabnya dengan anggukan.


“Bolos dia, badung banget emang tuh bocah,” ucap Dewi sambil menggelengkan kepalanya. Ia tak pernah menyangka jika pada akhirnya ia akan memiliki kekasih seperti Bagas yang begitu nakal.


“Hihi sabar aja kak. Emang rada-rada juga sih dia tuh,” ucap Queena dengan kekehanya yang membuat Dewi menghembuskan nafasnya sambil menggelengkan kepalanya tak mengerti lagi apa yang harus ia lakukan pada kekasih nya itu.


Selama perjalanan menuju gerbang depan mereka terus berbincang dan bercanda bersama. Hingga mata Queena tak sengaja melihat laki-laki yang begitu di kenalinya kini tengah duduk di atas motornya dengan begitu santainya.


Queena mengerutkan kening nya melihat keberadaan laki-laki itu di depan sekolah nya. Padahal kedua sahabat laki-laki yang tak lain adalah Arsen itu mengatakan jika Arsen kini tengah mengurung diri di kamar nya. Namun kini laki-laki itu malah berada di depan sekolah nya.


“Liat apa sih?” tanya Dewi mengerutkan kening nya saat melihat Queena yang kini malah terbengong, Dewi mengikuti arah pandang Queena hingga kini ia dapat melihat Arsen yang tengah menunggu Meylen yang sudah berjalan ke arah nya dengan senyumannya. Hingga, tak lama motor itu melaju.


“Ayo masuk,” ajak Dewi sambil menarik tangan Queena untuk menuju ke arah mobil Bagas yang sudah menunggu mereka.


Melihat Arsen yang kini bersama Meylen. Queena sudah seperti mayat hidup. Bahkan saat Dewi menariknya tak ada reaksi dari laki-laki itu.


“Gak perlu dipikirin. Dan jangan peduliin lagi,” tegas Dewi berusaha menyadarkan adiknya itu. Kini ia jadi merasa bersalah karena telah mendekat kan kembali adik nya itu dengan Arsen.


Bagas yang melihat keadaannya sedang tak baik. Akhirnya hanya diam saja karena tak ingin semakin memperkeruh keadaan.

__ADS_1


***



__ADS_2