
Pagi ini Arsen tak seperti biasanya. Wajah yang sudah datar kini semakin datar. Tak ada senyuman dalam wajah laki-laki itu. Dan sedari tadi pikiran Arsen terus terarah pada Queena yang sudah sedari pagi tak ia lihat kehadirannya.
Apa lagi setelah apa yang terjadi pada mereka malam tadi. Pikiran Arsen semakin tak tenang. Ia benar-benar mengkhawatirkan Queena.
"Kenapa tuh muka makin datar aja?" Tanya Edsel sambil menepuk pundak Arsen saat melihat sahabat nya yang sedari tadi terlihat semakin menyeramkan dari biasanya.
"Nyariin Queena ya karena pagi ini dia gak ada muncul buat gangguin lo?" Tanya Panca sengaja menggoda sahabatnya itu yang kini menatap ke arah Panca dengan tatapan tajam dan dinginnya. Meskipun apa yan Panca katakan adalah sebuah kebenaran namun tetap saja Arsen tak ingin untuk mengakuinya.
“Kalau emang kangen tuh mending cari aja ke kelas nya,” tukas Edsel memberikan sarannya pada Arsen yang kini hanya menghembuskan nafasnya kasar lalu memilih untuk segera pergi meninggalkan teman-temannya itu.
Melihat kepergian Arsen kini kedua sahabatnya itu mengerutkan kening nya bingung. Hingga mereka saling pandang lalu menatap Arsen dengan tatapan penuh arti.
“Taruhan?” tanya Edsel pada Panca yang kini menggelengkan kepalanya.
“Enggak, jawaban gue sama kayak lo. Dia pasti lagi nyamperin Queena,” ucap Panca menolak yang membuat Edsel kini tampak berpikir seolah mencari mangsa lain yang untuk ia ajak taruhan.
“Met woy taruhan yuk,” ajak Edsel yang kini malah menghampiri teman sekelasnya yang lain yang tengah sibuk dengan game bersama teman nya yang lain kini sontak menoleh ke arah Edsel.
“Taruhan apaan?” tanya Memet salah satu teman sekelas Edsel yang memang paling semangat jika di ajak taruhan. Apa lagi laki-laki satu itu juga tak kalah semangat jika sudah membahas Queena dan Arsen dengan segala persoalannya.
“Arsen sekarang lagi nyamperin Queena atau engga?” tanya Panca dengan menodongkan ponselnya pada Memet yang kini malah terkekeh bersama dengan temannya yang lain.
“Lawak lo bang, ya kali Arsen yang ogah liat Queena bakalan nyamperin tuh cewek,” ucap Riyan yang kali ini ikut menimpali ucapan Panca dan Edsel yang kini malah tersenyum penuh kemenangan mendengar ucapan tersebut.
“Bacot, kuy lah taruhan. Nopek ceng, deal?” tanya Pancar sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
“Skuy lah, lumayan dua ratus rebu,” ucap Riyan yang kini malah ikut-ikutan.
Setelah nya keempat laki-laki itu segera keluar dari kelas nya dan menuju kelas Queena. Teman mereka yang lain yang melihat tingkah keempat laki-laki itu hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu segera melanjutkan permainan mereka lagi.
Di lain tempat Arsen kini berjalan menyusuri koridor kelas XI. Seperti yang sudah Panca katakan, kini langkah kakinya malah membawanya menuju kelas Queena. Namun saat sampai di kelas gadis itu ia malah tak mendapati keberadaan Queena dan hanya melihat Dewi yang kini terus saja melihat nya. Juga kedua sahabat Queena yang kini terlihat asik dengan cat kuku mereka.
“Queena mana?” tanya Arsen setelah sampai di depan sahabat Queena yang tak ia ketahui namanya itu.
“Queena gak masuk kak, katanya sih sakit,” ucap Calya yang menjawab pertanyaan dari Arsen yang kini terlihat terkejut mendengar jawaban sahabat gadis yang disukainya itu.
“Sakit apa?” tanya Arsen lagi. Kini ia begitu khawatir setelah mendengar jika gadis tersebut sakit. Arsen begitu merasa bersalah karena itu. Harusnya ia bisa lebih memberi ketegasan pada Ayah nya sebelum acara perjodohan itu. Jadi Queena, Dewi, ataupun dirinya tak perlu berada dalam kondisi seperti ini.
“Gak tau deh tuh kak. Tadi juga guru yang nyampein kalau Queena sakit,” jawab Kina yang akhirnya dijawab dengan anggukan oleh Arsen.
Setelah nya Arsen memilih untuk pergi dari sana, namun tanpa dia duga kini di belakang nya Dewi malah mengikutinya dan menghentikan langkah nya.
“Ok,” ucap Arsen yang setelah nya langsung berjalan meninggalkan tempat itu dengan Dewi yang mengikutinya.
Hingga tanpa Arsen tahu di balik sebuah pilar besar di koridor ada empat laki-laki yang kini tengah mengawasinya. Dua dari mereka terlihat terkejut, dua lainnya terlihat begitu senang karena akan mendapatkan uang taruhan.
“Anjir kenapa jadi sama kakak nya?” tanya Panca dengan tatapan terkejut nya melihat Arsen yang malah kini berjalan dengan Dewi.
“Gue juga gak kalah kaget, tapi syukur deh gak nyarik Queena. Kan jadi bertambah uang gue,” ucap Memet dengan cengirannya yang kini sudah mengulurkan tangannya untuk meminta uang taruhan pada dua orang di depannya itu yang kini terlihat enggan memberikannya.
Namun tetap saja pada akhirnya Panca dan Edsel mengeluarkan dompet nya sambil mengeluarkan masing-masing empat lembar uang berwarna merah dan memberikannya pada dua orang di depannya itu masing-masing dua.
__ADS_1
“Lain kali ajakin lagi ya bang kita taruhannya,” ucap Riyan dengan cengirannya lalu segera pergi dari sana dengan senyum senyuman mengembangnya. Meninggalkan Edsel dan Panca yang kini menatap sedih atas hilangnya uang mereka.
“Gak bisa dibiarin nih, kita harus cari tahu yang sebenarnya,” tegas Edsel dengan tekad kuat nya. Mereka hanya tak tahu saja jika yang sebenarnya adalah mereka yang memenangkan taruhan itu.
Itu lah penting nya tak hanya menyimpulkan dari apa yang mereka dari jauh dan bukan dari awal. Hingga kini mereka harus menanggung rugi atas sebuah kesalahan.
Arsen bersama Dewi kini berada di gedung belakang untuk membicarakan masalah mereka.
“Sebelum nya gue mau minta maaf karena gue gak bisa nerima perjodohan itu,” ucap Arsen yang akhirnya membuka suara nya lebih dulu.
Dewi menatap Arsen dengan tatapan sendunya saat mendengar ucapan Arsen yang penuh akan ketegasan dalam setiap katanya.
“Kenapa? Kenapa gak bisa? Gue suka sama lo kak,” ucap Dewi yang kini sudah tak peduli lagi dengan harga dirinya hingga ia memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya pada Arsen. Arsen yang mendengarnya cukup terkejut namun sebisa mungkin ia mengendalikan dirinya.
“Tapi gue engga. Gue punya orang yang gue suka sendiri. Gue mau bersama orang yang gue suka,” ucap Arsen tegas yang membuat Dewi kini mengepalkan tangannya mendengar ucapan Arsen. Bahkan kini air matanya seolah sudah siap untuk turun dari tempatnya.
“Jangan Egois Dewi. Queena adek lo. Juga, bukannya orang tua kalian pernah ada di posisi ini? Dan lo liat kan apa yang akhirnya terjadi? Jadi gue mohon sama lo untuk hapus perasaan itu karena gue akan jadi adik ipar lo,” ucap Arsen dengan tatapan datar nya pada Dewi yang kini terlihat terkejut karena Arsen yang ternyata mengetahui tentang keluarganya.
“Siapa yang egois? Mereka yang egois. Mereka hanya memikirkan Queena. Yang ada di rumah itu hanya Queena. Sedangkan gue hanya mereka jadiin batu loncatan,” marah Dewi dengan tatapannya yang kini terlihat begitu sendu. Arsen sebenarnya begitu kasihan melihatnya. Apa lagi ia juga mengetahui bagaimana ayah mereka memperlakukan Dewi.
“Mereka gak pernah nganggep gue ada Kak. Teru kenapa sekarang semua orang hanya memikirkan Queena? Bahkan Queena aja gak pernah mikirin gue,” kesal Dewi dengan air matranya yang mulai mengalir. Arsen mengepalkan tangannya mendengar ucapan Dewi, ia paling tak suka jika ada yang menjelekkan Queena.
Dewi hanya tak tahu saja betapa pedulinya Queena pada Dewi dan kini Dewi malah mengatakan hal itu seenaknya.
“Gue harap setelah ini gak ada lagi perdebatan, jadi gue tegasin ke lo. Cewek yang gue suka dan cewek yang mau dan gue terima jadi jodoh gue itu Queena,” ucap Arsen yang setelahnya segera pergi dari sana tanpa menghiraukan Dewi yang kini malah menangis apalagi setelah mendengar ucapan Arsen.
__ADS_1
***