
Queena mengerjapkan matanya beberapa kali. Menyesuaikan cahaya matahari yang masuk ke retina matanya. Kepalanya kini terasa begitu berat bahkan badannya kini terasa begitu lemas. Ia kini seolah tak lagi memiliki tenaga.
Suara ketukan pintu di luar kamar nya kini sama sekali tidak Queena hiraukan. Bahkan untuk bangun dari tempat tidur nya saja rasanya begitu sulit untuk Queena. Hingga pintu itu dibuka dengan paksa. Dengan tatapan sayu nya kini Queena melihat Ayahnya yang menatapnya dengan tatapan terkejut.
“Queen, kamu kenapa sayang?” tanya Carol sambil memeriksa suhu tubuh anaknya dan ia begitu terkejut saat melihat Queena yang ternyata demam. Suhu tubuhnya begitu panas.
“Kita ke rumah sakit sekarang,” ucap Carol seolah tak menerima bantahan. Queena tak bisa lagi menolak akhirnya hanya mengikuti keinginan ayahnya itu. Carol segera menggendong Queena untuk ia bawa keluar dari kamar nya.
Dhisi yang awalnya akan membangunkan Queena terkejut melihat gadis itu yang sudah di gendong oleh Carol.
“Mas, Queena kenapa?” tanya Dhisi dengan begitu khawatir pada Queena. Namun Carol sama sekali tidak menjaganya. Ia tetap pergi begitu saja. Hingga Dhsi mengejar nya dan ingin ikut dengan Carol namun Carol segera menahannya.
“Aku yang akan mengurus Queena,” tegas Carol yang membuat tangan Dhisi yang sudah siap untuk membuka pintu kini ia urungkan.
Tak lama mobil tersebut melaju meninggalkan pekarangan rumah. Dhisi yang melihat hal itu hanya bisa memejamkan matanya sambil menghembuskan nafasnya kasar. Apa semua akan kembali seperti saat Carol kehilangan Erlinda?
***
Queena kini terlihat begitu lemas. Melihat keadaan anaknya yang terlihat begitu menyedihkan seperti ini ia menjadi begitu marah juga sedih. Ia marah pada dirinya sendiri yang tak bisa menjaga Queena, menyalahkan dirinya sendiri yang tak bisa lebih teliti lagi pada anaknya itu.
Queena sudah selesai diperiksa oleh dokter dan ia sudah boleh pulang setelah infus nya habis dan Queena sudah sadar dari pingsan nya. Kini gadis itu masih memejamkan matanya karena tadi ia malah pingsan, tangannya kini digenggam dengan begitu erat oleh ayah nya.
“Dad,” panggil Queena dengan begitu lemah nya. Mendengar suara anaknya itu Carol segera mengangkat wajah nya dan menatap anaknya itu dengan senyuman lebar nya.
__ADS_1
“Ada apa nak? Kamu butuh sesuatu?” tanya Carol pada Queena yang dibalas dengan gelengan oleh gadis itu.
“Queena mau pulang ke rumah Oma Lena,” ucap Queena pada ayahnya itu. Carol menghembuskan nafasnya kasar. Melihat keadaan anaknya yang seperti ini benar-benar membuat hatinya begitu terluka.
“Baiklah, kita akan pulang ke rumah Oma Lena,” ucap Carol yang hanya bisa untuk menuruti permintaan anaknya itu.
Memang lebih baik untuk saat ini Queena tinggal di rumah orang tua Erlinda. Ia lebih tenang menyerahkan anaknya itu pada Lena.
“Sebentar, Daddy panggil suster dulu buat buka infusnya. Kamu yakin tak ingin dirawat saja?” tanya Carol pada anaknya. Meskipun dokter mengatakan jika Queena hanya terlalu lelah namun tetap saja sebagai orang tua ia merasa khawatir terhadap anaknya itu.
“Queena baik-baik saja Dad,” ucap Queena dengan senyuman menenangkannya ke arah ayahnya itu. Carol menghembuskan nafasnya kasar dan akhirnya hanya bisa mengangguk.
Setelanya Carol segera pergi untuk memanggil suster juga dokter. Setelah menyelesaikan semuanya barulah akhirnya mereka pergi menuju ke rumah orang tua Erlinda. Di perjalanan Queena hanya tertidur saja.
“Apa yang terjadi?” tanya Lena khawatir melihat cucunya.
“Queena sakit Ma, untuk beberapa hari ini Queena meminta tinggal di sini,” ucap Carol menjelaskan. Lena terlihat begitu khawatir lalu segera mengantar Carol untuk meletakkan cucunya itu di kamar nya.
Setelahnya Carol menyelimuti anaknya hingga Lena meminta untuk berbicara dengan Carol. Ia tahu ada yang tidak beres dengan ini. Biasanya meskipun gadis itu sakit ia tak pernah meminta untuk di rawat di rumah Lena.
“Katakan yang sejujurnya pada Mama, apa yang terjadi? Apa Queena masih belum memaafkan Dhisi?” tanya Lena pada Carol yang kini tampak bingung harus menjawab apa namun pada akhirnya ia hanya mengangguk tanpa mau mengatakan lebih tentang masalahnya karena ia tahu Lena pasti akan marah padanya jika tahu, Carol menjodohkan anaknya dan yang lebih parah nya lagi laki-laki itu adalah laki-laki yang Queena cintai.
Untuk saat ini ia tak ingin mengambil resiko di usir dari rumah itu dan dipisahkan dengan anaknya. Tidak, kini Queena adalah satu-satu nya barang berharga yang ia miliki. Satu-satunya peninggalan istrinya yang harus ia jaga dengan baik.
__ADS_1
“Kalau begitu biarin dia menenangkan dirinya dulu, nanti Mama bantu bicara pelan-pelan pada Queena,” ucap Lena yang membuat Carol tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Ia tak pernah tahu dari mana datang nya kebaikan yang di milik Lena, juga Erlinda serta Queena. Padahal Dhisi adalah orang yang menghancurkan kebahagiaan anaknya. Namun Lena masih mau membantu Dhisi agar Queena tak lagi membenci Dhisi dan bisa memaafkan waktu itu. Mereka memang begitu baik. Queena yang bahkan merelakan laki-laki yang dicintai untuk kebahagian perempuan lain, sama seperti yang pernah Erlinda lakukan.
“Kalau begitu Carol titip Queena dulu Ma, ada dokumen yang harus Carol ambil dan pagi ini Carol ada meeting penting yang tidak bisa ditunda. Setelah selesai Carol akan langsung kembali,” ucap Carol pada Lena yang menjawabnya dengan anggukan.
“Tenang saja, ada mama yang jaga Queena. Kamu bekerja saja,” ucap Lena menenangkan yang Carol balas dengan anggukan.
Setelahnya Carol menyalami tangan Lena lalu segera [pergi dari sana. Kini ia harus kembali ke rumah nya lebih dulu untuk mengambil dokumen nya yang masih ada di rumah nya.
Perjalanan kali ini di tempuh Carol dengan perasaannya yang tak tenang meninggalkan Queena sendiri dalam kondisi seperti ini. Meskipun ada Lena yang menemaninya namun Carol masih saja tetap merasa takut.
Saat sampai di rumah nya, di depan sudah ada Dhisi yang menunggunya dan terlihat dengan jelas wanita itu begitu terkejut melihat tidak ada Queena.
“Di mana Queena?” tanya Dhisi dengan tatapan khawatirnya pada Carol.
“Di rumah Mama Lena. Dia mau di rawat di sana selama dia sakit,” ucap Carol menjelaskan yang setelahnya laki-laki itu segera masuk ke dalam rumah nya untuk mengambil barang nya.
Dhisi yang terkejut sekaligus merasa menyesal karena tak bisa merawat Queena, dan sudah membuat Queena membencinya. Merasa gagal untuk menjadi seorang ibu. Namun semua ini diluar kendalinya.
Kini ia hanya bisa untuk berusaha agar Queena bisa memaafkannya kembali. Dan kedua anaknya tidak lagi saling bertengkar.
***
__ADS_1