
Dan sore itu, semua kenyataan tak mengenakkan tersebut pun terjadi. Untuk pertama kalinya, dua serangkai yang telah bersama-sama selama 9 tahun itu dipisahkan dalam waktu yang mungkin sangat lama.
Sore itu, Aulia melihat Thoriq dan keluarganya sudah bersiap-siap. Ia hanya menatap mereka dalam diam, tapi batinnya merintih pilu.
Sembilan tahun kami terus bersama-sama. Selama itu tak ada yang pernah memisahkan kita. Dia satu-satunya sahabatku, satu-satunya orang yang selalu mengerti diriku dan dia satu-satunya teman yang selalu menjagaku dan tak pernah mau melihat diri ini sedih.
Dia rela bertingkah konyol demi membuatku tersenyum. Dan sekarang takdir memisahkan kami.
Waktu Aulia sedang melamun, Thoriq lantas menghampirinya.
"Aulia?" panggil Thoriq seraya menepuk pelan bahu sahabatnya itu.
"Eh ... kamu benaran mau pindah, Riq?" Aulia menatap sekilas ke arah Thoriq.
"Seperti yang kau lihat." Thoriq tersenyum tipis.
Aulia cuma terdiam dan lantas berjalan ke arah bangku yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Melihat itu, Thoriq pun ikut menyusulnya.
"Aulia, aku janji kalau ada waktu luang aku pasti ke sini!" ucap Thoriq dengan serius ketika mereka sudah duduk di bangku panjang yang sama.
Aulia hanya mengangguk sambil tersenyum, tapi kali ini Thoriq tahu bahwa betapa sedihnya hati Aulia menghadapi kenyataan itu.
"Aulia, dengarkan aku baik-baik. Persahabatan yang kuat itu tidak butuh percakapan sehari-hari atau kebersamaan setiap waktu. Selama persahabatan itu ada di hati, sahabat sejati takkan pernah terpisah!"
"Kamu benar, Riq! Meskipun kita terpisah oleh jarak,tapi di dalam hati sejatinya kita tidak pernah terpisah," balas Aulia seraya menatap Thoriq dengan senyuman lebar khasnya.
"Bagus, terus tersenyum seperti itu!" timpal Thoriq dan sontak mereka pun tertawa bersama.
__ADS_1
"Oh iya, aku punya sesuatu untukmu. Tunggu sebentar!" ujar Thoriq lantas berjalan ke mobil Ayahnya.
Karena penasaran, Aulia pun mengikutinya. Thoriq kelihatan mengambil sesuatu di dalam mobil, setelah itu dia kembali dengan posisi tangan di belakang tubuhnya.
"Apa itu?" tanya Aulia
"Ambillah!" Sebuah pigura foto yang sangat unik disodorkan Thoriq ke arah Aulia.
"Pigura foto? Ini foto kita ... sangat unik!" Aulia tersenyum bahagia melihatnya.
"Ternyata kamu suka! Nah, suatu saat jika kamu rindu kepadaku, lihatlah pigura foto itu!" Thoriq menepuk pelan bahu Aulia sambil tersenyum
"Hmm, tapi, Riq, kamu gak nemenin aku lagi! Aku gak punya temen dong!" balas Aulia dengan muka cemberut.
"Aulia, liat aku!" Thoriq memegang kedua bahu sahabatnya itu.
"Aulia, aku yakin kamu pasti bisa tanpa kehadiran aku di sisimu, kamu orang yang sangat tegar Aulia! Aku percaya itu!" hibur Thoriq dengan nada suara yang sangat lembut.
Aulia hanya terdiam. Karena tak tega melihat sahabatnya itu terus-terusan bersedih, Thoriq pun mengajak Aulia duduk di sampingnya, bertingkah konyol demi membuatnya tertawa kembali.
Aulia hanya tersenyum tipis melihat Thoriq bertingkah konyol di depannya, sesekali ia juga menyeka setetes liquid bening yang keluar dari mata indahnya.
Sampai akhirnya, beberapa detik kemudian ....
"Riq?" Aulia memegang lengan Thoriq, berusaha mengalihkan perhatiannya.
"Iya?" Thoriq tersenyum simpul
__ADS_1
"Kamu harus janji sama aku,kamu gak boleh ngelupain aku dan kamu harus sering datang ke sini!"
"Iya, tenang saja, Tuan Putri! Aku janji!" balas Thoriq lantas tertawa kecil.
Aulia hanya tersenyum tipis mendengar tawa khas Thoriq, tawa yang selalu mendamaikan jiwanya, menghibur hatinya dan tentunya tawa yang selalu bakal ia rindukan.
Bagi Aulia, rasanya seperti mimpi mengalami kenyataan itu. Bahkan seandainya waktu bisa dia perlambat, dia hanya ingin Thoriq bisa lebih lama lagi bersamanya.
Tak beberapa lama kemudian setelah perbincangan hangat mereka itu ....
"Emm, Aulia, sepertinya aku sudah harus berangkat," ucap Thoriq seraya melihat Aulia dengan tatapan nanar.
"Oh iya. Pergilah, Riq, orang tuamu sudah menunggu." Aulia tersenyum tipis, terlihat berusaha menegarkan hatinya.
"Aulia, aku janji, aku pasti kembali! Aku pergi dulu, ya." Thoriq membalikkan badannya dan lantas berjalan ke arah mobil.
Aulia kelihatan sangat terpukul menghadapi kenyataan itu. Tapi dia tetap tersenyum dan sekuat tenaga kelihatan menahan tangisnya.
"Aulia, kami pergi dulu ya, Nak! Kalau ada waktu luang, kami pasti ke sini!" ucap Ibunda Thoriq sesaat sebelum mereka pergi.
"Iya, Tante. Hati-hati!" balas Aulia lantas menyalami kedua orang tua sahabat semata wayangnya itu.
"Iya, Sayang! Baik-baik di sini, ya!" Ibunda Thoriq langsung memeluk Aulia dan mencium ubun-ubunnya.
Ya, kedua orang tua Thoriq memang tidak ingin hal itu terjadi karena mereka sudah menganggap Aulia seperti anak kandungnya sendiri. Dan mereka tau Aulia dan putra mereka sedari kecil selalu bersama, tidak ada yang pernah bisa memisahkannya, tapi itulah takdir, apapun bisa terjadi tanpa kita sadari! Kita hanya harus bersiap menghadapi semuanya.
Setelah momen berpamitan itu, Aulia tersenyum ke arah Thoriq dan melambaikan tangannya, Thoriq membalasnya dengan tatapan yang sangat sendu dan senyumannya menggambarkan kesedihan yang begitu mendalam.
__ADS_1
Setelah itu, perlahan-lahan mobil ayah Thoriq meninggalkan Aulia seorang diri di bawah pohon beringin itu—pohon penuh sejarah—pohon yang dipenuhi saksi kelahiran dan kebersamaan sang dua serangkai tersebut, Aulia dan Thoriq.