
Hari minggu kali ini Queena sudah tampak rapi dengan kaos putih juga rok putih nya, tak lupa juga dengan topi putih nya yang kini terlihat begitu pas di tubuh gadis cantik itu. Hari ini ayah nya mengajak Queena untuk bermain golf bersama.
“Daddy, ayo buruan,” teriak Queena memanggil ayah nya itu agar segera turun, Queena kini tengah memakai sepatu nya di teras depan rumah nya. Menunggu ayah nya itu selesai.
Bertepatan dengan Queena yang sudah selesai memakai sepatunya kini Caril keluar dari rumahnya dengan penampilan yang begitu rapi. Dengan kaos putih seperti milik queena yang di padukan dengan celana hitam serta topi hitam nya.
Ayah dua anak itu kini bahkan sudah terlihat begitu tampan dengan penampilannya. Queena yang melihat kedatangan ayahnya langsung tersenyum dengan begitu lebar nya.
“Daddy ganteng bangtet deh,” ucap Queena dengan senyumannya sambil berdiri dan kini langsung bergelayut manja di tangan ayahnya itu.
Mereka segera menuju ke arah mobil yang sudah siap di depan rumah mereka. Carol segera membukakan pintu untuk anaknya itu. Setelah nya segera masuk ke tempat nya sendiri. Tak lama mobil mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah Queena.
“Kita mau main di mana Dad?” tanya Queena sambil menaikkan sebelah alisnya dan melihat ke arah ayah nya itu dengan tatapan penuh tanya nya.
“Nanti kamu juga tahu,” ucap Carol dengan senyumannya yang membuat Queena berdecih mendengar ucapan ayahnya itu yang merahasiakan darinya.
“Dad, emang Daddy gak bisa gitu untuk berusaha bersikap baik sama kak Dewi?” tanya Queena sambil menoleh ke arah ayahnya itu yang kini wajah nya sudah menjadi begitu datar.
“Daddy udah baik kok sama Dewi,” ucap Carol dengan senyumannya ke arah Queena yang menghembuskan nafasnya kasar mendengar ucapan ayah nya itu.
“Daddy….” baru saja Queena akan melanjutkan ucapannya sebagai bentuk protes namun Carol lebih dulu memotong ucapannya.
“Semua peralatan golf nya udah di bawa kan?” tanya Carol pada Queena yang kini menghembuskan nafasnya mendengar ucapan Carol. Ayah nya itu selalu saja mengalihkan pembicaraan setiap kali ia membahas tentang Dewi.
“Udah Dad,” ucap Queena sambil menolehkan kepalanya ke arah belakang yang membuat Carol tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dan mengelus puncak kepala anaknya itu sayang.
__ADS_1
“Daddy, Queena lagi bicara loh,” ucap Queena dengan begitu kesalnya pada ayahnya itu yang kini malah terkekeh mendengar kekesalan anaknya itu.
“Iya sayang. Daddy udah dengar,” ucap Carol dengan senyumannya pada anaknya itu. Queena menghembuskan nafasnya kasar sambil melihat ke arah ayah nya itu dengan serius.
Dan lagi-lagi saat Queena baru saja akan mebuka mulut nya. Kini Carol malah lebih dulu membuka suaranya dan menghentikan ucapannya.
“Lihat kita sudah sampai,” ucap Carol yang membuat Queena berdecak kesal namun pada akhirnya tetap saja ia melihat ke arah sekitar dan matanya memelotot saat kini ia berada di depan sebuah rumah yang begitu mewah dengan luas dua kali lipat besar dari rumah Queena yang ia pikir sudah besar.
“Ayo turun,” ajak Carol pada anaknya itu yang kini masih terlihat begitu kagum melihat rumah di depannya itu.
Saat mereka sampai di depan rumah ternyata disana sudah ada pelayan yang menunggu mereka. Pelayan tersebut menundukkan kepalanya sambil menunduk mereka memasuki rumah tersebut yang begitu besar.
“Tuan Carol. Anda datang?” suara bariton itu menyapa indra pendengaran mereka yang dengan kompak membuat Queena dan Carol menoleh ke arah tangga hingga mereka dapat melihat seorang laki-laki yang kini menuruni tangga.
Queena yang melihat laki-laki itu langsung menoleh ke arah ayahnya dengan tatapan terkejut nya sedangkan ayahnya hanya tersenyum melihat keterkejutan anaknya itu melihat Abraham yuang kini menuruni tangga.
“Queena dateng juga?” tanya Abraham yang kini langsung menghampiri mereka. Queena segera menyalami tangan Abraham.
“Bentar lagi Arsen turun. Tante Sarah lagi ada arisan, jadi sepi di rumah,” ucap Abraham yang membuat Queena mengangguk sambil tersenyum. Sepi? Bahkan banyak pelayan dan penjaga yang berkeliaran sedari tadi. Namun pria itu malah mengatakan rumah nya sepi.
“Sayang kamu udah dateng?” suara itu kini membuat Queena menoleh ke arah sumber suara dan melihat Arsen yang kini berjalan ke arah nya dengan senyumannya. Arsen kini memang sudah berubah 150 derajat jika sudah bersama dengan Queena. Menjadi sosok yang begitu lembut dan penyayang. Tak ada lagi Arsen yang cuek, yang ada sekarang adalah Arsen yang begitu posesif.
“Nah Arsen udah dateng, mending kita sekarang langsung ke lapangan aja,” ucap Abraham saat Arsen sudah datang dan baru saja menyalami tangan Carol.
“Ayo,” ajak Carol yang setelah nya mereka langsung menuju ke arah lapangan golf.
__ADS_1
Carol dan abraham kini berjalan lebih dulu sambil berbincang tentang bisnis. Sedangkan di belakang mereka kini Arsen dan Queena yang berjalan bersama.
“Besok udah pemilihan osis, kakak udah siap?” tanya Queena sambil menatap ke arah Arsen dengan mengerutkan kening nya bingung.
“Siap aja sih, kan yang dipilih bukan aku,” ucap Arsen dengan begitu santainya yang membuat Queena memutar malas matanya mendengar ucapan Arsen.
“Ya maksud aku, kan kakak besok harus nyerahin jabatan kakak,” ucap Queena menjelaskan pada Arsen yang kini menipiskan bibirnya.
“Gak besok juga, masih dua hari lagi penyerahan jabatan sekaligus pengangkatan osis baru. Besok cuma pemilihan aja,” ucap Arsen menjelaskan yang membuat Queena menjawabnya dengan anggukan.
“Itu kalian mau ngobrol aja? Gak mau main?” tanya Carol pada kedua remaja yang kini malah masih asik mengobrol di pinggir lapangan.
Mendengar teriakan Carol membuat mereka tersenyum. Lalu segera berjalan ke arah lapangan menuju ke arah ayah mereka.
“Daddy mah lama banget,” ucap Queena pada ayahnya yang sedari tadi masih mengatur posisi itu. Mendengar ucapan anaknya itu Carol hanya tersebut lalu segera memukul bola tersebut dan tepat masuk k dalam lubang golf.
“See?” tanya Carol menyombongkan dirinya yang membuat Queena berdecih mendengar nya. Sedangkan Abraham dan Arsen hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak dan ayah itu.
“Sini, biar Queena coba,” ucap Queena dengan senyumannya yang begitu sombong. Carol yang melihat nya hanya menggelengkan kepalanya.
“Lihat, dia diperlakukan seperti ratu oleh ayah nya. Jadi kamu harus bisa memperlakukan dia lebih baik Arsen, jangan sakiti dia,” ucap Abraham sambil menepuk pundak anaknya itu yang kii langsung menoleh ke arah Arsen dengan senyumannya dan menganggukkan kepalanya.
Ia memang sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melukai Queena. Ia akan memperlakukan Queena lebih baik dari perlakuan ayahnya pada Queena, memberikan Queena cinta yang lebih besar dari yang Carol miliki. Walau ia tahu tak akan mungkin untuk nya bisa menyaingi Carol namun ia akan berusaha untuk itu.
Dan sehari itu mereka menghabiskan waktu mereka dengan bermain golf. Tawa dan canda terdengar begitu hangat. Sarah yang baru datang bahkan akhirnya juga ikut bergabung dengan mereka.
__ADS_1
***