
Tatapan Arsen kini tertuju pada gadis cantik di depannya yang terlihat fokus mengerjakan soal-soal miliknya yang sudah Arsen berikan pada gadis itu. Gadis yang tak lain adalah Queena itu kini menurut Arsen terlihat begitu berbeda saat sedang serius.
Queena yang biasanya terlihat petalikan dan manja tiba-tiba saja kini Arsen melihat sisi serius Queena yang begitu menggetarkan hati Arsen. Ya, hati Arsen rasanya kini tak karuan melihat Queena yang serius seperti ini. Sangat tidak aman untuk jantung dan perasaannya sendiri.
“Udah?” tanya Arsen begitu lembut pada Queena. Ia merasa ia harus segera menyelesaikan ini sebelum jantung nya semakin bertalu dengan tidak karuan dan malah menghancurkan dirinya sendiri.
“Belum kak, dikit lagi,” ucap Queena dan kini mulai fokus pada soalnya lagi.
Arsen mengalihkan pandangannya dan melihat ke arah luar café yang kini menampak kan langit sore yang begitu mendung seolah memberitahu penduduk bumi jika sebentar lagi langit akan menurunkan air yang sudah di simpannya.
“Buat Pr aja. Besok lo kasih ke gue di sekolah. Sekarang udah sore, mendung juga. Takut kehujanan,” ucap Arsen sambil menutup buku milik Queena.
Queena yang mendengar ucapan Arsen segera melihat ke arah luar dan benar saja kini langit terlihat begitu mendung. Bahkan langit kini terlihat begitu gelap. Tak ingin kehujanan dan jatuh sakit hingga membuat ayahnya marah akhirnya Queena hanya menganggukkan kepalanya.
Queena segera memasukkan buku-buku dan alat tulisnya ke dalam tas nya lalu segera pergi bersama dengan Arsen keluar dari café. Arsen kini melajukan motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi karena ia tak ingin Queena kehujanan.
Melihat Arsen yang melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Queena semakin mengeratkan pelukannya pada Arsen. Sambil menyandarkan kepalanya pada punggung Arsen dan memejamkan matanya.
Namun langit seolah tak mendukung mereka. Karena kini hujan malah turun dengan begitu derasnya. Arsen akhirnya memilih untuk menepikan motornya karena tak ingin gadis yang di bawanya itu terkena hujan dan jatuh sakit.
“Neduh dulu gak papa kan?” tanya Arsen sambil melihat ke arah Queena dengan menaikkan sebelah alisnya. Queena yang mendengarnya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Justru kini ia senang karena ia bisa lebih lama bisa bersama Arsen.
Hujan dan Arsen. Seolah perpaduan yang pas untuk Queena nikmati. Tuhan seolah mendukung Queena untuk terus bersama dengan Arsen. Persetan dengan ayahnya. Ia akan membujuk laki-laki itu nanti.
__ADS_1
Udara dingin kini semakin menyengat membuat Queena memeluk dirinya sendiri sambil mengelus tangannya sendiri. Arsen yang melihat hal tersebut menjadi tak tega. Dengan segera Arsen membuka jaket miliknya lalu memakaikannya pada Queena.
“Masih dingin?” tanya Arsen begitu lembut dan perhatian. Queena yang mendengar nya sontak menggelengkan kepalanya.
Jujur saja ia kini merasa senang karena Arsen begitu perhatian pada nya. Jika saja sikap Arsen bisa terus seperti pada nya. Pasti Queena akan semakin senang. Namun melihat perubahan Arsen seharian ini padanya yang begitu perhatian dan mau menuruti kemauan Queena, ia begitu senang dan berharap Arsen akan terus seperti ini.
“Lo mending telpon orang rumah buat jemput. Hujan nya masih lama ini kayaknya, masih gelap gini,” perintah Arsen yang malah dijawab dengan gelengan oleh Queena. Arsen yang mendengarnya menaikkan sebelah alisnya bingung.
“Gak papa lama-lama sama kak Arsen gini,” ucap Queena dengan cengirannya yang membuat Arsen kini memutar bola matanya malas sambil menatap Queena dengan tatapan tajamnya.
“Gak usah ngelunjak lo, gue mau nembus hujan. Kalau lo mau di sini sendiri sih terserah,” ucap Arsen datar pada Queena yang kini malah mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Arsen.
Baru saja ia merasa senang karena Arsen yang peduli dan lembut padanya namun kini sikap Arsen sudah kembali lagi seperti semula.
“Iya,” ucap Queena yang akhirnya memilih mengalah karena tak ingin ditinggalkan di ruko tutup itu seorang diri.
“Udah?” tanya Arsen segera Queena meletakkan kembali ponselnya. Mendengar pertanyaan Arsen, Queena menganggukkan kepalanya lalu segera duduk di samping Arsen.
“Kak Arsen buru-buru?” tanya Queena sambil melihat Arsen yang kini terlihat sibuk dengan ponselnya.
Arsen yang mendengar pertanyaan Queena menaikkan sebelah alisnya menatap gadis di sampingnya dengan tatapan bingung nya tak mengerti dengan pertanyaan Queena, untuk apa gadis itu menanyakannya?
“Hm aku pikir begitu soalnya mau nembus hujan dan gak mau nunggu hujan reda aja,” ucap Queena menjelaskan yang membuat Arsen kini menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Gak Arsen lagi puasa bicara lagi? Perasaan tadi baik-baik aja,” ucap Queena sambil mengerucutkan bibirnya karena Arsen yang kini kembali cuek padanya.
“Lo gak capek ngomong mulu? Kalo gue udah capek,” ucap Arsen yang terdengar begitu menusuk bagi Queena yang kini semakin mengerucutkan bibirnya lalu memilih untuk diam saja karena Arsen yang sudah tak bisa lagi diajak untuk kompromi.
Tatapan Queena begitu lurus ke depan. Hingga matanya terasa semakin berat , tanpa sadar ia malah masuk ke alam mimpi. Arsen yang sibuk dengan ponselnya sontak menoleh ke arah sampingnya saat merasakan pundak nya yang berat.
“Tidur?” tajnya Arsen tak percaya melihat Queena yang kini malah tertidur di samping nya dengan pendak nya menjadi bantalan gadis itu. Merasa tak tega dengan posisi tidur gadis itu akhirnya Arsen membenarkan posisi Queena. Dengan pahanya sebagai bantalan gadis itu.
Lama menunggu sopir Queena menjemput nya, akhirnya mobil yang menjemput Queena datang. Dengan segera Arsen menggendong Queena dan membawa gadis itu masuk ke dalam mobil.
“Tidur” ucap Arsen memberitahu sopir Queena yang terlihat ketakutan melihat Queena yang memejamkan matanya.
Mendengar ucapan Arsen helaan nafas lega langsung terdengar. Dari sana saja, Arsen bisa menebak jika Queena adalah gadis yang begitu dimanjakan di rumah nya.
“Terima kasih Tuan Muda,” ucap sopir tersebut yang hanya Arsen bala dengan anggukan. Hingga setelahnya sopir tersebut kembali masuk ke dalam mobilnya dan mulai melajukan mobilnya dengan hati-hati karena karena kini ia membawa nona rumah kesayangan Tuannnya.
Arsen kini memilih untuk segera pergi juga. Membelah jalanan yang cukup licin dengan hujan yang begitu lebat. Kini ia harus segera kembali ke rumah nya karena ada urusan yang harus ia kerjakan dan mengambil mobilnya. Jadi mau tak mau ia harus pergi lagi.
Mobil yang ditumpangi Queena datang bersamaan dengan mobil milik ayahnya. Selama Queena tidur tak ada yang berani untuk membangunkannya, juga tak ada yang berani untuk menggendongnya karena Carol yang melarang bawahannya untuk menyentuh Queena.
“Ada apa ini?” tanya Carol saat melihat mobil yang biasa menjemput anaknya itu dikerumuni oleh pelayan yang banyak menjaganya.
“Nona muda tertidur Tuan. Tak ada yang berani untuk membangunkannya,” ucap pelayan yang biasanya mengasuh Queena, melaporkannya pada Carol yang kini tersenyum dan menggeleng saat melihat anaknya yang tertidur dengan begitu pulas.
__ADS_1
Akhirnya Carol lah yang menggendong anaknya itu menuju kamar gadis tersebut.
***