
Rumah Queena pagi ini begitu ramai. Bahkan Dhisi kini juga berada di rumah mantan suaminya itu. Membuatkan sarapan untuk teman-teman Queena yang datang untuk menjemput Queena kembali ke sekolah. Tak hanya ada kedua sahabat nya namun kini juga ada ketiga sahabat Dewi, kedua sahabat Arsen, juga Bagas dan keempat sahabat nya yang kini ikut berada di rumah Queena.
Meja makan yang biasanya hanya diisi oleh Queena dan ayahnya itu kini begitu ramai dan penuh. Lontaran canda dari para remaja itu membuat keadaan yang biasanya sunyi kini begitu ramai. Dan karena mereka lah, kesedihan Queena beberapa hari ini bisa gadis itu hadapi.
Mereka adalah orang-orang yang selalu ada untuk Queena dan selalu menghibur Queena. Entah hanya bermain di rumah Queena, ataupun mengajak Queena jalan-jalan untuk menghilangkan kekacauannya.
“Sumpah ya dari kemarin gue tuh pengen nanya ini. Ini mereka siapa sih ngikut mulu? Anak sekolah mana juga,” ucap Edsel sambil menunjuk ke arah Panca dan sahabat laki-laki tersebut yang kini mengunakan seragam yang berbeda dengan mereka.
“Bacot banget lo. Mending makan nih,” ucap Bagas sambil menyuapi Edsel dengan satu roti bakar yang langsung memenuhi mulut laki-laki tersebut yang kini matanya sudah membelalak. Teman mereka yang lain yang melihat itu hanya tertawa melihat tingkah laki-laki yang dulunya bermusuhan itu kini malah seperti tom and jerry.
“Kayaknya love language mereka memang berantem deh,” ucap Calya dengan sisa tawanya yang dijawab dengan anggukan oleh temannya yang lain.
“Najis woy, gue masih waras ya,” ucap Edsel sambil bergidik ngeri mendengar ucapan Calya yang kini hanya membuat mereka semakin tertawa.
“Lo mah masih belum terbukti normal nya. Gue mah ada Ayang,” ucap Bagas dengan begitu banggau sambik mengedipkan sebelah mata nya pada Dewi yang membuat mereka kini malah bergidik ngeri sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Bagas.
“Makin ngeri aja gue, berangkat lah ayo,” ajak Kina yang kini memecah pertengkaran tersebut yang segera dijawab dengan anggukan oleh mereka yang berada di sana.
Mereka segera menyalami tangan Carol juga Dhisi bergantian. Setelah nya mereka langsung keluar menuju mobil mereka masing-masing, hingga kening mereka mengerut bingung saat melihat keberadaan Adnan yang kini sudah rapi dengan jas nya tengah berdiri di depan mobil nya.
Para perempuan yang berada di sana sudah begitu terpesona dengan ketampanan laki-laki berumur dua puluh lima tahun itu.
“Daddy yang minta Adnan buat nganter Queena,” ucap Carol yang baru keluar.
“Wah seru nih,” bisik Edsel pada Panca yang kini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Edsel. Mereka yang berada di sana jelas tahu apa yang ingin dilakukan oleh ayah Queena.
“Langsung berangkat aja yuk,” ajak Panca yang sudah tak sabar untuk melihat apa yang akan terjadi pada Arsen saat melihat Queena di antar oleh laki-laki lain.
__ADS_1
Perjalanan kali ini terlihat begitu berbeda bagi Queena, kini mereka sudah seperti akan konvoi mobil mewah. Karena kini mereka semua menggunakan mobil sport. Di jalanan banyak yang menatap ke arah mereka dengan takjub. Bahkan saat sampai di sekolah Queena juga banyak yang melihat mereka dengan tatapan takjub nya.
Saat Bagas dan teman-temannya membuka jendela mobil nya. Banyak yang terkejut melihat keberadaan laki-laki yang dulunya adalah musuh dari sekolah mereka. Namun saat melihat Dewi yang turun dari mobil bagas semakin membuat mereka terkejut tak percaya jika Dewi bisa bersama dengan Bagas. Dan saat semua mobil membuka jendela untuk berpamitan pada Bagas mereka semakin di buat tak percaya melihat Edsel juga Panca yang bahkan menjadi salah satu dari mereka.
Adnan kini menghentikan mobilnya di lobi sekolah. Setelah nya ia segera keluar untuk membukakan pintu untuk Queena. Kini banyak para siswi yang menjerit saat melihat Adnan yang tampan dan terlihat berwibawa itu. Saat Adnan membukakan pintu untuk Queena banyak yang dibuat terkejut melihat nya.
“Makasih ya kak,” ucap Queena dengan senyuman cerah nya pada Adnan yang kin ikut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Nah itu temen sama kakak kamu,” ucap Adnan saat melihat sahabat Queena juga Dewi kini berjalan ke arah nya.
“Kakak balik ya, kalian belajar yang benar,” ucap Adnan yang setelah nya langsung pergi dari sana setelah mengelus puncak kepala Queena.
Setelah nya Arsen segera masuk ke dalam mobilnya dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan sekolah atasannya itu.
“Queena udahan dari Arsen, nemu aja dia yang bagus begitu”
Banyak lagi ucapan yang terus Queena dapatkan namun ia sama sekali tidak peduli dan memilih untuk menulikan telinga nya.
***
Berbeda dengan itu kini kedua sahabat Arsen malah terburu-buru menuju ke arah kelas nya untuk melihat melihat reaksi Arsen saat ini. Kedua laki-laki tersebut begitu heboh, bahkan mereka sampai berlarian di koridor hanya untuk sebuah tontonan untuk kemarahan.
Setelah sampai tak jauh dari kelas mereka, mereka dapat melihat Arsen yang kini mengepalkan tangannya melihat apa yang terjadi di lobi. Karena dari kelas mereka yang memang berada di ujung hingga mereka dapat melihat depan sekolah dengan jelas.
Arsen terlihat akan pergi namun Meylen malahan menahannya yang membuat Arsen kini menoleh ke arah gadis tersebut dengan tatapan datar nya.
“Arsen, sekarang kamu tuh pacar aku. Apa gak bisa kamu hargain perasaan aku?” tanya Meylen dengan tatapan sendu ya pada Arsen. Terlihat kini Arsen mengetat kan rahang nya lalu ia memejamkan matanya berusaha untuk menetralkan emosinya. Meylen benar, harusnya kini ia menjaga perasaan Meylen. Lagi pula Queena juga melarang nya untuk muncul di depan gadis itu.
__ADS_1
Setelah nya Arsen segera masuk ke dalam kelas nya. Kedua sahabat nya yang sedari tadi mengikutinya kini tersenyum mengejek ke arah Arsen dan mengikuti Arsen masuk ke kelasnya.
“Anjir ini Ac kelas mati apa gimana dah? Panas bangtet perasaan,” ucap Edsel yang baru saja memasuki kelas nya dengan begitu heboh nya.
“Lo kagak mandi aja sih kata gue Sel, mangkanya panas. Gue mah kedinginan. Bentar lagi beku nih gue,” ucap Panca pada sahabat nya itu yang kini memelototkan matanya mendengar ucapan panca. Berbeda dengan Arsen yang kini suda menatap tajam ke arah kedua sahabat nya itu.
“Edsel mah banyak dosa, itu tuh hawa neraka,” ucap Rigel, teman sekelas mereka yang kini menimpali.
“Diem lo, lo gak di ajak,” ucap Edsel pada Rigel yang membuat temannya yang lain kini tertawa mendengar nya.
“Woy gue liat tadi lo berangkat bareng Bagas ya? Mau jadi penghianat lo?” tanya Memet yang tiba-tiba saja datang sambil menepuk pundak Edsel.
Edsel segera menoleh ke arah laki-laki tersebut dengan wajah datar nya.
“Sorry ya gue gak suka tuh jadi pengkhianat. Tadi tuh gue ke rumah Queena mau jemput dia, dia kan sekarang jomblo niat nya mau gue deketin cuma keduluan sama asisten bapak nya dia aja. Nah kebetulan Bagas pacaran sama Dewi, ya udah terus malah bareng berangkat nya,” ucap Edsel menjelaskan sambil melirik ke arah Arsen yang kini terlihat memegang ponsel nya dengan begitu kuat. Jelas sekali jika laki-laki itu kini hanya memainkan ponselnya untuk mengalihkan dirinya sendiri.
“Oh yang tadi nganter Queena itu Asisten bapak nya dia? Gue kira pacar baru nya,” uap Memet pada Edsel sambil menganggukkan kepalanya.
“Calon kali, bapak nya juga yang ngedeketin mereka,” ucap Panca yang kini semakin memanasi keadaan.
Arsen yang sudah tak tahan lagi segera pergi dari kelas nya itu membuat kedua sahabat nya menatap kepergian Arsen dengan begitu dtar. Sedangkan Meylen kini menatap kedua sahabat Arsen tidak suka.
“Punya aja Arsen temen gak setia kawan kayak lo,” ucap Meylen dengan begitu tajam nya pada Edsel juga Panca.
“Lah kita mah lagi melakukan ritual menyadarkan Arsen biar gak lagi tergoda sama dedemit Alaska kayak lo,” tukas Panca sambil menunjuk ke arah Meylen dengan tatapan mengejek nya.
“Awas lo,” tunjuk Meylen pada kedua sahabat Arsen yang kini hanya mengacungkan jari tengah nya pada Meylen.
__ADS_1
***