Renjana

Renjana
Akan Berakhir


__ADS_3

“Kamu yakin mau masuk? Tunggu Bagas dulu aja ya?” tanya Dewo dengan tatapan memohon pada adik nya itu. Queena kini menatap lurus pada tempat di depannya yang belum pernah ia datangi sebelumnya. Ia tak pernah berpikir jika kini ia akan masuk ke dalam tempat itu.


“Aku duluan aja deh kak,” ucap Queena dengan tatapan serius pada kakaknya itu. Dewi kini menggigit bibirnya berharap jika kekasih nya segera datang.


“Aduh non. Mending Mamang aja ya yang masuk. Di dalam bahaya,” ucap ucap Mang Jajang yang kini menawarkan dirinya. Jelas ia takut terjadi hal yang buruk pada Queena. Jika sampai terjadi sesuatu pada gadis tersebut jelas ia lah yang akan terkena amarah dari Tuannya.


“Gak usah Mang biar aku aja,” ucap Queena yang setelah nya langsung pergi dari sana. Kini ia hanya ingin memastikan jika Arsen baik-baik saja.


“Queena,” teriak Dewi yang kini juga sudah ikut keluar dari mobilnya. Gadis itu menyugar rambut nya pikirannya kini begitu kacau. Antara mengikuti Queena atau menunggu Bagas.


“Mang, ikutan Queena. Aku menunggu Bagas dulu,” perintah Dewi akhirnya pada supir mereka yang segera menjawabnya dengan anggukan dan segera berlari untuk mengejar Queena.


Tak lama dari itu akhirnya Bagas bersama dengan keempat temannya kini datang. Dewi segera menghampiri dengan tatapan khawatirnya,. Bagas segera turun dari motornya dan menatap kekasih nya itu tak kalah khawatir.


“Kamu ngapain di sini? Di sini bukan tempat kamu De,” ucap Bagas pada Dewi dengan tatapan khawatirnya.


“Queena di dalem dia nyamperin Arsen. Mending kamu samperin dia. Aku khawatir banget. Mang Jajang juga udah di dalem,” ucap Dewi pada Bagas yang kini menghela nafasnya kasar tak habis pikir dengan calon adik ipar nya itu yang masih mau saja menghampiri Arsen dan peduli pada Arsen yang jelas-jelas sudah menyakitinya.


“Ya udah, tapi kamu tunggu di dalam mobil jangan kemana-mana. Biar aku sama yang lain yang cari Queena,” tegas Bagas pada kekasih nya itu, sebenar nya Dewi ingin menolak dan ingin ikut untuk masuk karena terlalu mengkhawatirkan adiknya itu. Namun ia tahu di dalam tidaklah baik. Dan lebih baik kini ia mempercayakan adiknya pada Bagas. Sampai akhirnya ia menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Bagas.

__ADS_1


Bagas segera pergi bersama dengan teman-temannya menuju ke arah klub malam di seberang jalan. Dewi memilih untuk masuk ke dalam mobilnya sesuai dengan perintah Bagas. Walau kini ia begitu khawatir dengan adiknya itu.


Di sisi lain kini Queena berusaha menyesuaikan diri dengan tempat nya berada saat ini. Gaun tidur nya yang panjang bergambar kota-kota terlihat begitu mencolok di antara pakaian seksi dari wanita yang berada di sana. Suara dentuman musik yang dia begitu keras ditambah dengan bau asap rokok yang begitu Queena benci membuat nya terus merutuki tempat laknat itu.


“Arsen di mana sih?” tanya Queena sambil melihat ke sekeliling tempat tersebut. Lampu yang temaram membuat mata nya terasa begitu sakit namun ia masih berusaha mencari keberadaan Arsen.


“Hai cantik,” sapa laki-laki yang kini memegang pundak Queena.


Queena melihat takut ke arah laki-laki yang kini berdiri di belakang nya dengan tubuh kekar nya yang di penuhi tatto. Queena berusaha menghindar hingga sebuah tangan menarik nya dalam rangkulannya.


“Jangan ganggu cewek gue,” suara tegas yang sudah begitu Queena hafal betul. Queena segera mendongak dan menatap laki-laki yang kini menatap datar dan begitu tajam pada laki-laki yang tadi mengganggunya itu.


“Ayo keluar kita bicara di luar,” ucap Arsen dengan tegas nya pada Queena. Menggiring gadis tersebut untuk keluar, ia tak ingin jika gadis tersebut berada terlalu dalam tempat seperti itu.


Saat mereka akan keluar kini bersamaan dengan Bagas yang datang bersama dengan teman-temanya juga Mang Jajang yang baru saja menemukan Queena kini ikut menghampirinya.


“Kita keluar dan bicara di luar,” tegas Arsen dengan tatapannya yang begitu tajam menyiratkan kemarahan dalam tatapannya itu. Ia tahu Queena saat ini begitu risih berada di tempat seperti itu oleh karena itu lebih baik jika Arsen mengajak mereka untuk membicarakan ini di luar.


Bahkan saat keluar dari tempat itu Queena tak melepaskan rangkulannya pada Arsen karena terlalu takut berada di sana. Saat sudah berada di depan mobil Queena dengan segera gadis itu melepaskan rangkulan Arsen.

__ADS_1


“Ngapain kamu ke tmepta seperti ini?” tanya Arsen dengan begitu tegas nya pada Queena saat mereka kini sudah keluar dari klub tersebut.


“Kalau bukan karena teman kamu yang minta aku datang dan bilang kamu mabuk. Gak bakalan aku ke sini,” ucap Queena dengan tegas nya pada Arsen. Arsen memejamkan matanya ia begitu kesal pada temannya saat ini dan ia akan membuat perhitungan pada siapapun yang sudah meminta Queena datang ke tempat seperti ini.


“Kamu khawatir sama aku?” tanya Arsen dengan menaikkan sebelah alisnya kini ia begitu berharap jika Queena tengah mengkhawatirkan. Meskipun ia bisa melihat nya dengan jelas namun ia ingin mendengar nya secara langsung dari gadis itu.


“Ngaco. Dateng bukan berarti khawatir. Aku cuma mau negasin ke kamu kalau hubungan kita bener-bener udah berakhir jadi stop libatin aku dalam kehidupanmu, sekalian bilang ke temen kamu,” tegas Queena yang setelah nya langsung masuk ke dalam mobil. Dewi yang baru saja akan keluar kini mengurungkan niat nya saat Queena sudah lebih dulu masuk.


“Den saya duluan,” ucap Mang Jajang berpamitan.


“Lain kali lebih hati-hati jagain Queena Mang. Jangtan biarin Queena masuk ke tempat itu,” tegas Arsen pada Mang Jajang yang kini hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Arsen. Setelahnya ia segera masuk ke dalam mobil untuk mengantar Queena pulang.


“Kalian ngapain di sini? Bukannya jagain Queena malah telat datang,” sungut Arsen pada kelima laki-laki di depannya yang sedari dulu selalu menjadi musuh nya itu.


“Wah gak usah sok bahas saling ngejagain deh lo. Lo tau selama lo ninggalin Queena siapa yang jagain dan menghibur dia? Gue sama kedua sahabat lo itu. Lo tuh gak termasuk, dan yang buat Queena masuk ke tempat begitu ya juga lo. Jadi jangan belagu lo,” ucap Bagas dengan begitu tegas dan penuh kekesalannya pada Arsen. Arsen yang mendengar nya hanya terdiam karena memang yang diucapkan oleh Bagas adalah sebuah fakta.


Bagas dan teman-temannya memilih untuk segera pergi dari sana. Meninggalkan Arsen dengan amarah dan penyesalannya.


***

__ADS_1


__ADS_2