Renjana

Renjana
Queena Yang Bingung


__ADS_3

Pagi ini Quena terlihat begitu tak bersemangat. Sedari tadi ia uring-uring memikirkan tentang pertunangan Dewi yang akan di adakan malam ini. Bahkan Queena kini duduk di tempat nya dengan tidak tenang. Meskipun perkataan Dewi begitu menusuk untuk nya namun bagaimanapun Dewi adalah kakaknya dan ia jelas tak akan tega melihat gadis itu harus merasakan kesedihan.


Sahabat Queena yang sedari tadi melihat gadis itu duduk dengan tidak tenang di tempat nya bahkan bertanya-tanya ada apa dengan gadis itu, namun mereka masih menahannya dan fokus pada pelajaran di depan merka.


Hingga kini akhirnya jam istirahat berbunyi. Mereka sudah tak tahan lagi untuk bertanya ada apa dengan gadis itu. Melihat Queena yang tak tenang mereka jadi ikut tidak tenang melihat nya.


“Lo kenapa sih Queena? Dari tadi gelisah banget,” tanya Calya yang sudah tak tahan dengan rasa penasarannya dengan keadaan sahabatnya yang satu itu.


Queena menghembuskan nafasnya lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah sahabatnya itu. Bahkan menurut sahabatnya kini wajah Queena sudah seperti zombie.


“Gue lagi bingung,” ucap Queena dengan helaan nafas kasar nya yang membuat Calya dan Kini kini menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan Queena. Mereka kini jadi semakin bertanya-tanya ada apa dengan gadis itu.


Queena mengkode sahabat nya itu untuk mendekat karena ia tak ingin orang lain mengetahui tentang ini. Karena menurut nya ini Privasi. Namun kali ini ia butuh sahabatnya untuk sekedar memberikan saran atau pun sedikit mengurangi bebannya setelah bercerita.


“Kak Dewi mau di jodohin ntar malem,” ucap Queena dengan berbisik pada kedua sahabat nya yang kini jelas begitu terkejut mendengar hal itu. Tak percaya jika ayah sahabat nya itu masih saja melakukan hal kuno seperti itu.


“Lo serius?” tanya Calya yang dijawab dengan anggukan oleh Queena.


“Terus gimana?” tanya Kina yang kini ikut angkat suara. Sebenarnya ia tak cukup dekat dengan Dewi dan juga bukan orang yang dekat dengan Dewi. Gadis itu begitu tertutup dan susah bergaul. Bahkan Ia saling berbicara dengan Dewi hanya karena gadis itu adalah kakak sahabatnya.


“Gue juga gak tau, lo tau sendiri kan kalau Daddy gue keras kepala banget. Susah banget buat ngomong ke dia. Udah gue coba tapi tetep aja gak didengerin dan dia udah kekeh sama keputusannya,” ucap Queena pada sahabatnya itu dengan tatapan kesalnya. Mengingat bagaimana sikap ayah nya itu yang keras kepala.


“Udah jalan Dewi, kali begini,” ucap Kini acuh. Queena yang mendengar nya jadi semakin bingung. Benarkan ini adalah jalan kakaknya? Tidak, jika jalan ini akan menuju pelaburan terburuk maka Queena harus membantunya.


“Gue cari kak Arsen dulu lah,” ucap Queena dengan helaan nafas kasar nya dan memilih untuk mencari Arsen. Kedua sahabatnya yang mendengar hal tersebut hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Masih sempet-sempet nya mikirin buat godain Arsen,” ucap Calya sambil menggelengkan kepalanya sedangkan Kina kini hanya terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu.


Dengan langkah cepat nya kini Queena memilih untuk menuju kelas Arsen. Ia ingin jujur tentang masalahnya dengan Dewi juga tentang perjodohan tentang perjodohan yang akan Dewi lakukan. Ia berharap laki-laki itu bisa kembali memberinya saran seperti sebelumnya.


Awalnya ia menyembunyikan ini dari Arsen karena menurutnya ini adalah privasi Dewi dan hak Dewi lah untuk memberitahu atau tidak tentang perjodohannya namun kali ini sudah mepet. Mau tak mau ia harus menceritakannya pada Arsen.


Saat sampai di kelas Arsen pandangan Queena menjelajahi kelas tersebut untuk mencari keberadaan Arsen namun ia malah tak menemukan keberadaan laki-laki itu dan hanya menemukan kedua sahabat Arsen saja yang terlihat fokus dengan ponselnya.


“Kak Edsel. Kak Panca,” panggil Queena pada kedua laki-laki tersebut yang langsung menoleh ke arah Queena dengan menaikkan sebelah alisnya.


“Mau cari Arsen?” tanya Panca yang di jawab dengan anggukan oleh Queena.


“Arsen gak masuk. Katanya ada acara keluarga,” ucap Edsel memberitahu Queena. Queena awalnya mengerutkan keningnya bingung sebelum akhirnya ia hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar sebelum akhirnya menjawabnya dengan anggukan kecewa karena kali ini ia tak bisa bertemu dengan Arsen.


Gadis itu mengeluarkan ponselnya dari kantong celana nya untuk menghubungi Arsen. Namun nomor laki-laki tersebut malah tak aktif.


“Malah gak aktif lagi,” ucap Queena dengan helan nafas kasar nya.


Sepertinya kali ini Queena tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan tersebut. Setidak nya ia harus memberikan kesempatan pada Dewi untuk melihat lebih dulu calon suaminya itu. Baru setelahnya ia bisa menilai ingin melanjutkan atau tidak.


Jika Dewi menolak nya maka jelas Queena akan membantu kakaknya itu. Ia juga harus melihat laki-laki yang akan menjadi kakak ipar nya itu. Jika saja ia orang jahat Queena akan menyelidikinya dan memberitahu semua itu pada Daddy nya jika Dewi memang tak menginginkannya.


Semua kini hanya bisa Queena kembalikan pada takdir saja.


***

__ADS_1


Queena kini menatap pantulan dirinya di cermin. Gadis itu kini sudah terlihat begitu cantik dengan dress sebatas lutut dengan lengang sebatas siku yang terlihat lucu di kenakan oleh Queena. Gaun berwarna putih dengan hiasan bintang berwarna hitam dan abu-abu yang terlihat begitu indah.


Rambut gadis itu dibiarkan tergerai dengan sedikit bagian depannya ia ikat kebelakang yang menambah kesan cantik dan imut pada gadis tersebut. Make up tipis yang digunakannya semakin mempercantik gadis itu.


“Udah cantik, like a Queen,” ucap Queena memuji dirinya sendiri dengan senyumannya yang terlihat begitu mengembang lebar.


Setelah selesai bersiap Queena segera keluar dari kamar nya. Dan bersamaan dengan itu Dewi baru saja keluar dari kamar nya. Ia hanya melihat sekilas ke arah Queena lalu segera peri. Queena hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.


Dewi kini juga tak kalah cantik dengan dress biru laut nya dengan rambut nya yang dibiarkan tergerai.


Saat sampai di lantai bawah ternyata di sana sudah terlihat Dhisi yang terlihat tak kalah cantik.


“Waw kalian begitu cantik,” ucap Dewi dengan senyumannya pada kedua anaknya itu berusaha untuk mencairkan suasana namun kedua anaknya itu tak ada yang bersuara.


“Kalian sudah siap?” pertanyaan dari suara bariton itu membuat mereka langsung menoleh ke arah sumber suara. Hingga terlihat Carol yang kini tak kalah tampan dengan jas formal nya yang berwarna abu-abu.


“Daddy ganteng banget,” ucap Queena menggoda ayahnya itu yang malah terkekeh mendengar ucapan anaknya itu.


“Princess Daddy ini juga gak kalah cantik,” ucap Carol yang malah membuat Queena terkekeh mendengar ucapan ayahnya itu.


“Udah kan? Kita berangkat sekarang ya,” ucap Carol yang dijawab dengan anggukan oleh Queena yang kini sudah bergelayut manja di lengan ayahnya. Menggandeng tangan ayahnya itu menuju mobil yang sudah siap.


Carol membukakan pintu bagian depan untuk Queena membuat Queena tersenyum dan segera masu. Sebelumnya ia selalu menolak jika Ayahnya meminta duduk di depan. Namun untuk kali ini. Ia tak akan menolaknya dan membiarkan Dewi juga Dhisi duduk di bagian penumpang bagian belakang.


***

__ADS_1


__ADS_2