
Sudah setengah jam berlalu sejak Arsen mulai mengajari Queena matematika sepulang sekolah. Dan sudah sejak itu kini Queena hanya menatap soal di depannya dengan tatapan bingung. Bahkan ia belum menuliskan apapun di kertas nya itu.
“Gak bakalan kelar itu soal kalau cuma diliatin doang,” ucap Arsen dengan begitu datarnya pada Queena yang kini menghela nafasnya kasar. Hal tersebut membuat Arsen menaikkan sebelah alisnya bingung.
Queena kini menoleh ke arah Arsen sedangkan Arsen menatap datar pada Queena. Dengan malas Queena kini meletakkan kepalanya di atas meja sambil menatap ke arah Arsen yang kini juga tengah melihat ke arah Queena dengan tatapan bingungnya.
“Kenapa?” tanya Arsen yang akhirnya memilih bertanya karena tak ingin jika mereka akan terus seperti itu sampai beberapa jam kedepan jadi lebih baik ia menanyakannya saja.
“Bosen kak di perpus mulu, jadi tuh pikiran Queena gak jalan. Belajar di luar aja yuk,” ajak Queena dengan tatapan memohonnya pada Arsen.
Bukan hanya bosan sebenarnya namun Queena juga merasa sedikit takut berada di perpustakan hanya berdua dengan Arsen. Begitu sunyi dan menenangkan memang. Namun suasana seperti ini malah membuat Queena merasa aneh.
“Ayo,” ajak Arsen yang akhirnya memilih untuk menyetujui permintaan Queena. Mendengar ucapan Arsen, senyuman gadis itu langsung mengembang dengan begitu sempurna. Senang karena kini Arsen menyetujuinya begitu saja tanpa menolak atau berdebat lebih dulu.
Arsen kini membantu Queena untuk membereskan peralatan tulisnya. Setelah setelah mereka langsung pergi. Namun baru saja sampai di kursi depan perpus. Arsen malah meletakkan buku milik Queena yang dibawanya, ke atas kursi yang berada di sana.
“Loh kok di sini kak?” tanya Queena dengan tatapan polosnya pada Arsen yang kini hanya menatap Queena dengan tatapan datar nya seperti sebelum-sebelumnya.
“Katanya di luar, udah di luar kan.” Arsen mengatakan nya dengan begitu mudah, bahkan wajah nya kii masih menatap Queena dengan datar. Berbeda dengan Queena yang kini malah melongo mendengar ucapan Arsen.
Pantas saja sebelumnya Arsen menerimanya begitu saja. Ternyata apa yang Queena dan Arsen pikirkan tentang kata ‘Di Luar’ begitu berbeda.
“Bukan di luar di sini kak,” ucap Queena dengan mengerucutkan bibirnya kesal.
__ADS_1
“Udah duduk. Kerjain tugas lo,” ucap Arsen yang kini sudah duduk di kursi depan perpus dengan menyilangkan kakinya dengan tangannya yang kini bersedekap dada.
“Mau nya di café aja kak.” Queena kini menatap Arsen dengan tatapan memohonnya.
“Duduk,” perintah Arsen yang membuat Queena mau tak mau akhirnya duduk. Karena tak ingin membuat Arsen marah padanya.
Queena berkali-kali menghela nafasnya. Sama sekali tidak menyentuh soalnya. Arsen yang mendengarnya bahkan sampai memejamkan matanya tak habis pikir dengan gadis di samping nya itu yang begitu keras kepala.
“Ayo, kalau mau ke café. Izin dulu sama bokap lo,” ucap Arsen yang kini akhirnya memilih untuk menuruti kemauan Queena. Hanya sesekali mungkin tak masalah bukan?
Queena yang mendengar hal tersenyum langsung mengembangkan senyumannya dengan begitu sempurna. Ia tentu begitu senang karena Arsen yang mau untuk menuruti kemauannya.
“Ayo kak,” ucap Queena yang kini sudah selesai membereskan barang miliknya. Ia juga sudah menghubungi ayah nya agar tidak menjemputnya. Arsen kini bahkan di buat melongo karena Queena yang melakukannya dengan begitu cepat. Namun sebisa mungkin Arsen mengontrol nya dan tetap menatap Queena dengan wajah datarnya.
Setelahnya mereka segera berjalan ke arah parkiran untuk mengambil motor milik Arsen. Namun sebelum berjalan ke arah motornya Arsen lebih dulu berjalan ke arah brankar yang berada di depan parkiran untuk mengambil helm milik Panca yang biasanya memang memiliki helm cadangan berjaga-jaga jika ia ingin pulang bersama seorang gadis.
“Ck gak romantis,” ucap Queena sambil mengerucutkan bibirnya. Arsen yang masih bisa mendengarnya memilih untuk mengabaikannya.
“Buru, naik,” perintah Arsen dengan begitu tegasnya.
Senyuman Queena kini sudah mengembang kembali. Dengan cepat ia segera naik ke atas motor Arsen lalu membelit pinggang laki-laki itu. Arsen sama sekali tidak protes. Ia hanya menggelengkan kepalanya, membiarkan gadis di belakangnya itu untuk memeluknya.
Hingga tak lama Arsen mulai melajukan mobilnya untuk segera pergi dari parkiran sekolah dan menuju café. Waktu belajar mereka benar-benar terbuang sia-sia hanya untuk menuruti kemauan Queena.
__ADS_1
Selama di perjalanan mereka saling terdiam. Queena yang sibuk menikmati waktu perjalanan nya dengan memeluk Arsen. Sedangkan Arsen yang fokus pada jalan di depannya.
Hingga tak lama mereka akhirnya sampai di sebuah café yang begitu populer. Queena dengan segera turun dari mobilnya lalu membuka helm nya namun ia cukup kesusahan membuka pengait helmnya. Arsen yang melihatnya akhirnya membantu Queena membuat senyuman gadis itu mengembang melihatnya.
“Makasih Kak,” ucap Queena yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Arsen.
Setelahnya mereka langsung masuk ke café. Arsen mulai memesan makanan juga minuman untuk mereka. Sedangkan Queena sudah duduk di tempat yang dipilihnya lalu ia mulai membuka tas nya dan mengeluarkan buku-buku miliknya.
Queena kini mulai mengerjakan soal yang Arsen berikan yang sebelumnya sudah laki-laki itu jelaskan lebih dulu. Saat datang, Arsen sudah melihat Queena yang begitu fokus mengerjakan soal-soal milik gadis itu. Sedangkan Arsen kini memilih untuk mencoret-coret buku milik Queena untuk memberikan penjelasan pada buku tersebut dan Queena lebih mudah untuk mempelajarinya.
“Kak, ini bener kan rumah nya begini?” tanya Queena sambil memperlihatkan kertas coretan miliknya. Arsen melihatnya sekilas lalu menganggukkan kepalanya.
Selanjutnya Queena mulai mengerjakannya lagi dengan serius. Hingga pesanan mereka akhirnya datang juga.
“Makan dulu,” ucap Arsen pada Queena yang hanya melihat makanan di depannya.
“Queen,” panggil Arsen lagi pda Queena yang malah terlihat acuh dan sibuk dengan tugas yang diberikan oleh Arsen.
“Bentar kak, nanggung,” ucap Queena yang membuat Arsen menghela nafasnya kasar lalu segera mengambil buku yang kini Queena tuliskan jawabannya. Queena yang melihat hal itu memelototkan matanya.
“Kak Arsen apa sih? Lagi serius juga,” ucap Queena sambil mengerucutkan bibirnya karen Arsen yang dengan seenaknya saja mengambil buku miliknya itu.
“Makan dulu, lanjut nanti,” ucap Arsen sambil menutup semua buku dan menyorokkan makanan milik gadis itu pada sang pemilik. Queena menghembuskan nafasnya kasar lalu mulai memakan makanannya dengan cepat. Arsen yang melihat tingkah gadis itu yang berbeda dengan sebelumnya saat mereka belajar di perpustakaan jadi membuat Arsen merasa bersalah karena hanya mengurung Queena di perpustakaan.
__ADS_1
Terlihat jelas jika berada di keramaian seperti ini, gadis itu bisa lebih semangat dan lebih serius dari biasanya.
***