
“Queen, kamu gak papa?” tanya Dewi dengan tatapan sendu pada adiknya itu yang kini hanya menatap datar ke arah depan. Menatap laki-laki yang kini tengah berbincang dengan seorang perempuan yang tak begitu mereka kenali.
Setelah melihat Queena yang hanya melamun dan memikirkan tentang Arsen. Akhirnya Dewi meminta Bagas untuk menjemput mereka dan mengajak Queena untuk jalan-jalan dan menghibur Queena. Namun kini mereka malah tak sengaja melihat laki-laki yang menjadi alasan dari kesedihan Queena yang kini tengah bersama dengan gadis lain.
“Meylen?” tanya Bagas yang kini juga ikut menoleh ke arah Arsen juga gadis yang ia kenali sebagai Meylen.
“Meylen? Bukannya dia anak baru di sekolah kita Queen? Anak kelas nya kak Arsen. Kamu kenal Yang?” tanya Dewi pada Bagas sambil menatap laki-laki yang kini menjadi kekasih nya itu dengan tatapan penuh tanya.
Dewi dan Bagas kini memang sudah menjalin hubungan. Dan tentu saja hal itu membuat Queena terkejut mendengar nya. Ia tak pernah tahu jika kedua itu dekat dan kini ia malah mendengar mereka sudah jadian. Namun apa yang di lihat nya saat ini jauh lebih mengejutkan untuk Queena.
Arsen yang ia pikir akan setia an memang anti dengan perempuan kini malah tengah bersama dengan perempuan lain. Queena sama sekali tidak menangis, kini ia hanya menatap datar pada Arsen yang tengah bersama dengan gadis yang ternyata bernama Meylen itu yang entah memiliki hubungan apa dengan Arsen.
“Meylen itu mantannya Arsen. Kita juga sempet berebut dia. Tapi gak lama Meylen malah ninggalin Arsen dan tunangan sama cowok lain,” ucap Bagas menjelaskan pada kedua gadis tersebut yang kini mengalihkan fokus mereka pada penjelasan Bagas.
“Kayak lo, emang demen banget ya dari dulu ngambil punya Arsen. Mana kalah mulu lagi,” ucap Queena yang kini malah mengejek Bagas. Dewi yang mendengar hal tersebut hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya berbeda dengan Bagas yang kini memelototkan matanya mendengar ucapan Queena yang memang benar adanya. Itu lah yang akhirnya membuat ia begitu iri dan membenci Arsen.
“Balik, gue capek mau tidur,” ucap Queena pada Bagas yang kini menjadi supir mereka. Queen kini berada di kursi penumpang bagian belakang. Sedangkan Dewi berada di depan bersama dengan Bagas. Selama perjalanan Queena lebih banyak diam sambil melihat pemandangan dari luar jendela mobil.
***
Pagi ini suasana mobil Arsen benar-benar hening. Arsen yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri tentang ucapan Meylen padanya dan Queena yang sibuk dengan pikirannya tentang Arsen dan Meylen. Kini Arsen sama sekali tidak memberikan penjelasan apapun pada Queena. Padahal Queena ingin Arsen memberikannya penjelasan.
__ADS_1
"Kemarin malam kamu kemana? Tumben banget malam minggu gak ngajak aku jalan," ucap Queena pada Arsen sambil menaikkan sebelah alisnya. Ia sengaja untuk memancing Arsen mengatakan yang sejujurnya pada nya.
"Aku main sama temen aku kemarin, Sorry ya," ucap Arsen dengan tatapan bersalah nya pada Queena yang kini tersenyum dengan begitu sinis mendengar kebohongan dari mulut Arsen. Ia tak percaya jika Arsen akan berbohong padanya.
"Ya gak papa. Lagian dunia kamu bukan hanya tentang aku, kamu masih punya teman-temen yang sebelumnya selalu ada buat kamu. Kan gak lucu kalau setelah ada aku, kamu malah ngelupain temen kamu," ucap Queena pada Arsen dengan senyumannya yang dibalas dengan anggukan oleh Arsen.
"Kamu bener," ucap Arsen singkat. Entah mengapa ucapan laki-laki tersebut kini malah membuat Queena begitu sakit. Ia tak percaya jika pada akhirnya hubungannya akan berada dalam masa seperti ini.
Dewi gagal menghancurkan hubungan mereka. Namun takdir kini malah memberikan ujian lain untuk hubungannya.
"Kamu tau, Bagas sekarang jadian sama kak Dewi. Kemarin mereka yang ngajakin aku jalan. Tapi aku malah kayak obat nyamuk," gerutu Queena yang kini mengadu pada Arsen. Arsen yang mendengar hal tersebut menaikkan sebelah alisnya, menatap Queena dengan tatapan tak percayanya.
"Oh iya aku dengar di kelas kamu ada murid baru ya?" Tanya Queena yang kini kembali memancing pembicaraan tentang Meylen. Terlihat kini Arsen menegang saat Queena membahas tentang Meylen dan Queena bisa menangkap nya dengan jelas membuat senyuman sinis terlihat di wajah gadis tersebut.
"Udah sampek, aku anter ke kelas yuk," ajak Arsen pada Queena yang membuat Queena kini menahan tangan Arsen. Arsen menghentikan langkah nya untuk keluar dari mobil dan menatap Queena dengan tatapan bingung nya.
"Kenapa Queen?" Tanya Arsen dengan menaikkan sebelah alisnya. Menatap Queena dengan tatapan penuh tanya. Melihat Queena yang kini menatapnya dengan tatapan yang begitu serius membuat Arsen semakin bingung juga takut?
"Jangan berkutat dengan hal yang membingungkan. Pertegas, dan pilih salah satu. Berhenti atau lanjut. Jangan membingungkan dan malah membuat luka," ucap Queena dengan tatapan seriusnya pada Arsen yang kini terdiam mendengar ucapan Queena.
"Aku gak mau kalau akhirnya aku hanya beban untuk kamu," ucap Queena dengan tatapan lembutnya yang membuat Arsen kini terdiam sambil menatap Queena dengan tatapan bersalah.
__ADS_1
"Aku ke kelas sendiri aja. Kamu hati-hati,” ucap Queena yang kini lebih dulu keluar dari mobilnya. Meninggalkan Arsen yang kini masih terdiam di dalam mobilnya sambil merenungi ucapan Queena.
Arsen mengusap wajah nya gusar, ia begitu membenci dengan keadaannya saat ini yang begitu lemah dan tidak bisa tegas atas apa yang ia pilih.
***
Queena baru saja selesai dari perpustakaan setelah mengembalikan buku yang dipinjamnya. Namun saat akan kembali ke kelasnya ia malah tak sengaja melihat Arsen yang berjalan seorang diri menuju ke arah taman belakang, namun tak lama Queena melihat di belakang Arsen ada Meylen yang mengikutinya.
“Mereka mau ngapain ke taman belakang?” tanya Queena dengan tatapan penuh tanya nya melihat kedua remaja berbeda jenis kelamijn itu kini sama-sama berjalan ke arah taman belakang.
“Queena, ngapain masih di sini? Balik kelas yuk,” ajak Dewi sambil menepuk pundak adiknya itu. Namun Queena kini menggelengkan kepalanya.
“Kak Dewi duluan aja, ada yang harus aku pastiin,” ucap Queena yang setelah nya ia segera pergi dari sana meninggalkan Dewi dengan tatapan penuh tanya nya.
Queena kini memilih untuk menuju taman belakang untuk melihat apa yang sebenarnya dilakukan oleh Arsen juga Meylen di taman belakang? Kini koridor begitu sepi karena masih jam pembelajaran. Queena menunggu lift di depannya terbuka dengan begitu tak sabaran. Lama menunggu lift. Queena memutuskan untuk menaiki tangga karena ia mulai tak tahan.
Dengan langkah sedikit berlari Queena menuruni tangga dari lantai tiga menuju lantai satu. Nafasnya kini terasa begitu tak terus namun ia masih berusaha untuk menahannya. Dengan langkah cepat kini ia menuju taman belakang. Namun saat sampai di taman belakang kini ia malah mendapati sebuah pemandangan yang begitu mengejutkan untuknya.
Tunangannya kini tengah berpelukan dengan gadis lain. Terluka? Jelas, bahkan kini rasanya ia sudah tak bisa untuk menangis melihat semua itu karena terlalu terkejut melihat apa yang kini tersaji di depannya.
***
__ADS_1