Renjana

Renjana
Haruskan Berpisah?


__ADS_3

Arsen menatap gadis di depannya itu dengan tatapan khawatirnya. Ia begitu takut terjadi sesuatu pada gadisnya yang masih tak sadarkan diri itu. Beberapa kali Arsen memberikan CPR pada Queena. Namun gadisnya itu tak kunjung membuka matanya.


“Aku mohon bangun sayang,” ucap Arsen yang kini masih melakukan CPR pada Queena. Tak lama Queena mengeluarkan air dari mulut nya membuat Arsen menghembuskan nafasnya lega meskipun kini Queena masih belum saja membuka matanya.


“Kita langsung bawa ke rumah sakit saja,” ucap Carol yang kini menatap putrinya itu dengan tatapan khawatirnya. Melihat putri kesayangannya yang kini tak sadarkan diri membuat Carol merasa begitu kacau. Ia begitu takut jika ia sampai kehilangan putrinya itu.


Semua tamu yang berada di sana melihat Queena dengan tatapan khawatirnya begitupun Dewi yang kini juga merasa ketakutan. Bagas yang melihat itu menggelengkan kepalanya menatap Dewi dengan tatapan tak percaya nya. Ia tak percaya jika Dewi akan melakukan hal yang begitu nekat seperti ini.


Di perjalanan kini Arsen terus saja memeluk Queena. Tatapan khawatir jelas terlihat di wajah laki-laki tersebut. Carol yang kini berada di bagian depan juga terus melihat ke arah anaknya itu dengan tatapan khawatir. Dhisi yang kini berada di samping Carol juga menatap Queena dengan tatapan khawatirnya. Ia takut terjadi sesuatu pada gadis tersebut.


“Ayo sama gue,” ucap Bagas sambil menarik tangan Dewi menuju mobilnya. Dewi akhirnya hanya bisa diam dan mengikuti saja. Kini ia benar-benar begitu takut. Taj hanya takut terkena amarah ayahnya, ia juga khawatir pada Queena. Bagaimanapun Queena adalah adiknya.


“Gue gak nyangka lo bisa ngelakuin ini sama adik lo sendiri De,” ucap Bagas sambil menatap Dewi dengan tatapan tak percaya nya. Dewi yang mendengar ucapan tersebut kini sudah menetes kan air matanya. Ia begitu takut Queena sampai celaka karna nya. Padahal niat awal nya bukan lah seperti ini.


“Bukan ini yang gue mau. Gue gak ada maksud buat ngelakuin ini ke Queena,” ucap Dewi dengan tangisnya. Bagas yang melihat itu menghembuskan nafasnya kasar. Entah mengapa saat melihat Dewi yang menangis seperti ini ia jadi tak tega. Namun ia juga merasa kesal pada Dewi yang malah berniat membuat Queena celaka.


“Lo gak seharusnya ngelakuin ini De. Lo cuma buat adik lo berada dalam masalah. Bagaimanapun Queena adalah adik lo,” ucap Bagas pada Dewi yang kini semakin menangis mendengar ucapan Bagas. Ia tahu ia salah. Tak seharusnya ia melakukan ini semua. Namun ini di luar perkiraan Dewi.

__ADS_1


“Ini diluar perkiraan gue Gas. Gue kira dia bakalan baik-baik saja dan cuma bajunya doang yang basah. Queena tuh perenang yang handal,” ucap Dewi dengan tangisnya yang membuat Bagas semakin tak tega melihat nya. Bagas menghembuskan nafasnya kasar sebelum akhirnya ia membawa Dewi ke dalam pelukannya, merasa tak tega karena telah membuat gadis tersebut menangis.  Membiarkan Dewi menangis dalam pelukannya. Setelah dirasa gadis itu tenang barulah Bagas membawanya menuju rumah sakit.


***


Di rumah sakit kini semua menunggu Queena diperiksa dengan perasaan khawatir juga takut. Tak ada yang membuka suara. Mereka saling diam dengan tatapan nya yang kini terlihat hancur.


“Jika sampai terjadi sesuatu pada anak ku, aku tak akan pernah memaafkan kelalaian mu dalam mendidik anak mu sendiri,” ucap Carol dengan tatapan tajamnya pada Dhisi yang kini hanya bisa menangis. Tak hanya Carol. Ia pun merasa takut terjadi sesuatu pada Queena. Namun ia kini juga begitu marah pada Dewi yang dengan tega menyakiti adiknya sendiri.


Tak lama Dewi datang bersama dengan Bagas yang membuat semua mata yang berada disana kini tertuju pada Dewi. Tak hanya ada keluarga Queena di sana, namun juga ada sahabat Queena juga sahabat Arsen yang kini berada di rumah sakit.


Melihat kedatangan Dewi, Carol segera berjalan ke arah Dewi dengan amarahnya. Dhisi yang melihat hal tersebut langsung bangun dari posisinya dan berjalan ke arah mereka. Takut jika suaminya itu akan melampiaskan amarahnya pada Dewi.


“Papa gak pernah nyangka akan tindakan kamu ini. Kamu berniat mengambil Arsen, laki-laki yang adik kamu cintai. Papa masih diam, melihat tingkah kamu yang sebenarnya papa sudah tahu. Namun sekarang kamu malah ingin mengambil nyawa yang satu-satu nya di miliki oleh adik kamu? Di mana hati nurani kam Dewi?” marah Carol pada Arsen yang kini membuat Dewi semakin menangis dan menundukkan kepalanya mendengar ucapan Carol yang terdengar begitu menyakitkan.


“Bukan ini yang Dewi mau Pa. Dewi memang salah, Dewi salah karena dorong Queena tapi Dewi kira Queena bakalan selamat karena perenang yang handal,” ucap Dewi menjelaskan pada ayahnya itu dengan tangisnya yang kini masih terdengar begitu menyesakkan.


“Nyatanya? Lihat sekarang apa yang kamu lakukan pada Queena? Jika terjadi sesuatu pada Queena, Papa gak akan pernah memaafkan kamu,” marah Carol dengan tatapan tajamnya pada Dewi yang kini menatap ayahnya itu dengan tatapan tak percaya nya.

__ADS_1


“Pa, aku ini juga anak Papa. Tapi kenapa Papa bisa berbicara seperti itu pada ku? Aku juga ingin Pa seperti Queena yang selalu papa sayang,” marah Dewi yang kini juga meledakkan amarahnya yang sedari dulu sudah ia tahan.


“Aku selalu jadi bayang-bayang Queena. Aku capek pa, aku juga butuh Papa. Atau memang seharusnya, ini yang aku lakukan sedari dulu? Harusnya Queena memang tidak ada. Aku juga ingin diakui sebagai anak papa,” teriak Dewi yang membuat amarah Carol kini semakin memuncak. Namun baru saja ia mengangkat tangannya dan hendak menampar Dewi. Tangannya lebih dulu ditahan oleh Dhisi yang kiuni malah ia lah yang menampar Dewi.


Tatapannya kini begitu tajam dan menusuk. Ia segera menampar Dewi atas ucapan anaknya itu. Ia tak ingin jika Carol yang melakukannya. Ia tak ingin anak dan ayah itu semakin jauh atas kesalahan ini.


“Ma,” panggil Dewi dengan tatapan tak percaya nya pada sang Mama.


“Hentikan Mas. Dewi memang salah karena telah melukai Queena. Dan Dewi, Mama membenci tindakan dan ucapan kamu. Mama merasa gagal mendidik kamu menjadi anak yang baik. Ucapan mu itu salah nak. Queena ada karena sebuah cinta dan ia ada dalam sebuah pernikahan,” ucap Dewi pada anaknya itu dengan begitu lembut. Berbicara dengan begitu pelan agar tak ada yang mendengar nya. Ia tak ingin orang lain mengetahui tentang aib mereka.


“Tapi Mas, harusnya kamu sadar. Dan kamu tahu. Dewi melakukan ini karena selama ini ia hanya hidup dengan kasih sayang seorang Mama. Tanpa kasih sayang seorang Papa. Queena memang sudah tidak memiliki ibu, namun aku berusaha untuk memberikannya kasih sayang seorang ibu. Lalu bagaimana dengan Dewi?” tanya Dhisi pada suaminya itu dengan tatapan sedih nya. Rasanya sudah cukup ia melihat anaknya yang selama ini diperlakukan tidak adil oleh ayahnya sendiri.


“Ingatan ku tentang nya hanya saat aku kehilangan wanita yang begitu aku cintai. Kau pikir aku bisa untuk melihat nya? Bahkan hanya dengan melihatnya mengingatkan ku saat aku kehilangan Erlinda. Saat aku menyadari jika Queena, harus hidup tanpa ibunya,” ucap Carl dengan air matanya yang kini tanpa sadar mengalir saat ia mengingat kembali di saat a kehilangan istri yang begitu dicintainya. Sahabat Arsen juga Bagas yang tak mengetahui apapun tampak terkejut mendengar pertengkaran tersebut.


“Aku sudah menebusnya dengan menjaga anakmu. Menyayanginya seperti anakku sendiri. Aku memang salah karena merusak hubungan kalian. Harusnya kau hanya membenci ku, tidak dengan anak kita,” ucap Dhisi pada Carol dengan air matanya yang mulai mengalir.


“Ya. Aku memang begitu membencimu. Aku sudah tak tahan lagi dengan semua ini. Jadi mari kita bercerai.”

__ADS_1


***


__ADS_2