Renjana

Renjana
Pawang?


__ADS_3

Setelah perjalanan yang cukup memakan waktu namun Queena begitu menikmati perjalanannya itu. Kini akhirnya mereka sampai di SMA Pedro. Motor juga mobil berjejer rapih memenuhi SMA Pedro yang tak kalah luas dari SMA Atlantik. Namun tetap saja SMA Atlantik masih menjadi pemenang nya jika sudah masalah luas dan mewah nya.


Queena segera turun dari atas motor Arsen lalu segera mendekat ke arah Arsen agar Arsen membantunya membuka helm miliknya.


“Lama banget lo Sen, udah kek siput aja motor lo jalan nya,” hardik Edsel saat melihat Arsen yang baru datang. Sedangkan teman-temannya itu sudah datang ke sedari tadi. Mendengar ucapan sahabatnya Arsen hanya melihatnya sekilas tanpa niat ingin menjawabnya.


“Lagi menikmati jalanan kota Sel,” ucap Panca yang kini malah menjawab ucapan Edsel tersebut yang sontak membuat teman-teman Arsen yang lain tertawa mendengar ucapan panca.


“Berisik banget,” ucap Arsen yang kini meletakkan helm milik Queena di atas motor nya. Arsen memang sengaja membeli helm lain untuk Queena sekarang dan sengaja membawanya karena ia tahu jika gadis itu pasti akan memaksa untuk ikut dengannya.


“Makasih ya kak. Queena pergi dulu. Dah semua,” teriak Queena bersemangat dan hendak pergi dari sana untuk menyusul teman-temannya. Namun baru saja satu langkah ia berjalan kini tas nya malah di tarik.


Hal itu membuat Queena segera menoleh ke arah orang yang dengan jahil menarik tas nya. Hingga kini ia dapat melihat wajah Arsen yang tengah menatap ya dengan wajah datar nya sedangkan Queena menaikkan sebelah alisnya bingung.


“Kenapa kak?” tanya Queena dengan tatapan polos dan bingung nya membalikkan tubuhnya namun dengan Arsen yang memegangi tasnya.


“Mau kemana lo?” tanya Arsen dengan begitu dinginnya.


“Cari teman Queena yang lain, buruan kak lepas. Nanti Queena gak kebagian tempat duduk paling depan,” ucap Queena dengan begitu heboh nya dan ingin segera pergi. Namun Arsen malah tak juga melepaskan tangannya. Bahkan kini laki-laki itu malah menarik nya untuk pergi.


“Gak, lo nebeng gue gak gratis. Hari ini lo jadi asisten pribadi gue,” ucap Arsen tegas. Queena yang awalnya sudah menjulurkan tangannya ke arah untuk menarik dirinya akhirnya mengurungkan niat nya itu saat mendengar Arsen meminta nya menjadi asisten laki-laki itu.

__ADS_1


“Lepas dulu kak, mau benerin jalannya. Aku udah kek bocah aja di tarik-tarik gini,” ucap Queena pada Arsen yang langsung melepaskannya. Teman-teman Arsen yang melihat tingkah dua orang itu hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Namun yang kedua sahabat Arsen tahu saat ini adalah, Arsen mulai menyukai Queena. Dan terbiasa dengan kehadiran gadis itu.


Queena kini berjalan di samping Arsen dengan senyuman nya yang mengembang begitu sempurna. Ia begitu senang karena Arsen yang kini mengajaknya untuk pergi bersama dengan laki-laki itu.


Tatapan kagum dari para kaum hawa kini terus tertuju pada Arsen. Dan Queena benar-benar kesal melihat itu. Queena yang awalnya berjalan selangkah di belakang Arsen langsung menyamakan langkah mereka meskipun Queena harus berjalan cepat karena langkah lebar Arsen jelas berbeda dengan langkah nya yang kecil.


Melihat Queena yang kini berjalan di samping Arsen banyak membuat kaum hawa dari SMA Pedro yang belum mengetahui tentang Queena yang suka mengikuti dan menggoda Arsen, berpikir jika Queena adalah kekasih Arsen.


Melihat kecantikan Queena mereka jadi mundur perlahan sebelum maju. Arsen yang melihat ting Queena bahkan tersenyum tipis. Sebenarnya tak hanya Queena yang merasa kesal dengan mata para gadis itu yang terus melihat ke arah Arsen. Namun Arsen kini juga merasa kesal melihat laki-laki yang melihat Queena.


Queena memang begitu cantik. Apa lagi dengan leher jenjang nya yang kini terlihat begitu sempurna. Siapa yang tak akan gagal fokus melihat leher jenjang dan putih mulus itu? Arsen melihat ke arah Queena dengan tatapan tak suka.


“Gerah tahu kak,” ucap Queena dengan mengerucutkan bibirnya menatap Arsen dengan tatapan memohonnya agar laki-laki itu mau untuk mengembalikan ikat rambutnya.


“Nanti gue benerin di sana,” ucap Arsen yang membuat Queena kini hanya menghembuskan nafasnya berusaha untuk menyetujuinya padahal sekarang pun ia sudah merasa begitu gerah.


Hingga saat sampai di lapangan. Queena di ajak ke arah tempat duduk para pemain. Di sana juga sudah ada pelatih mereka yang tak lain adalah Pak Adi juga Pak Lion. Arsen meletakkan tas nya di samping tempat Queena duduk lalu mengeluarkan banyak makanan disana juga minuman berbagai rasa.


“Diem di sini, duduk yang anteng. Jangan kemana-mana,” ucap Arsen sambil memberikan satu kantong plastik putih yang berisi makanan. Queena bahkan kini di buat menganga melihat nya. Arsen seolah sudah menyiapkan sebelumnya. Queena hanya menganggukkan kepalanya dengan senyumannya yang mengembang begitu sempurna.


“Kak, ini rambut aku gimana?” tanya Queena yang kini sudah mengumpulkan rambutnya menjadi satu lalu mengangkat nya dan mencepolnya asal. Hal itu membuat Arsen membelalak da  menatap tajam pada Queena.

__ADS_1


Merasa ia salah, Queena segera menurunkan tangannya. Arsen segera mengambil rambut Queena menyisirnya dengan jari-jari nya lalu mulai mengepang rambut Queena menjadi satu bagian lalu mengikat di bagian bawahnya saja. Ia sengaja membuat kepang satu agar leher jenjang itu tak terlalu jelas terlihat.


“Udah kan?” tanya Arsen yang membuat Queena tersenyum sambil menjawabnya dengan anggukan.


“Gue gak tahu kalau Arsen bisa jadi tata rias rambut,” ucap Edsel sambil melihat ke arah Arsen yang tengah mengurus Queena.


“Kayaknya video youtube yang sering ditonton belakang ini tuh tutorial mengikat rambut cewek deh,” ucap Panca yang kini juga fokus melihat ke arah Arsen dan Queena.


“Arsen udah kayak lagi bawa anak,” ucap teman mereka yang lain yang sontak membuat mereka tertawa mendengarnya. Arsen yang sempat mendengarnya langsung menoleh ke arah mereka dengan tatapan tajamnya.


“Bahkan setan kek Arsen bisa jadi malaikat kalo udah sama cewek yang dia suka,” ucap teman Arsen yang lain yang membuat mereka mengangguk mendengarnya.


Tak lama suara peluit dari wasit di depan membuat mereka segera bangun dan berjalan ke arah lapangan. Arsen sebelum pergi memakaikan topi nya yang berwarna hitam pada Queena.


“Ingat jangan ke mana-mana. Kalau mau ke kamar mandi, bilang dulu sama pak Adi atau Pak Lion. Atau minta anter aja sama Bu Lina,” pesan Arsen sebelum pergi. Memang ada guru perempuan yang kini ikut untuk mengawasi anak didiknya itu.


Para guru yang melihat sikap posesif Arsen bahkan di buat menggelengkan kepalanya. Jika bisa Bu Lina mungkin akan menolaknya namun mengingat gadis tersebut adalah putri kesayangan dari pemilik sekolah jelas ia akhirnya tak bisa menolak dan hanya bisa tersenyum menyetujui.


Segala perlakuan Arsen sedari tadi pada Queena tak luput dari tatapan semua yang ada di sana. Karena fokus mereka sedari tadi hanya lah Arsen dan laki-laki itu malah bersikap begitu manis pada wanita lain. Rasanya kini mereka begitu patah hati.


***

__ADS_1


__ADS_2