
Seorang laki-laki kini tengah duduk di atas motornya sambil menyesap sebatang rokok miliknya, tatapan laki-laki itu kini begitu fokus menatap ke arah depan dengan wajah datarnya. Namun tak lama senyumannya mengembang saat melihat seorang gadis yang kini berjalan ke arahnya dengan wajah tak kalah datar nya.
“Mau apa lo ngajak gue ketemu?” tanya gadis itu dengan ucapannya yang terdengar begitu datar dan malas.
“Gue denger lo suka sama Arsen?” tanya laki-laki tersebut yang membuat gadis di depannya kini menegang mendengar pernyataan laki-laki yang sebelumnya tak pernah ia kenali itu.
“Apa urusan lo?” tanya gadis tersebut yang terdengar semakin tak menyukai laki-laki itu yang kini malah terkekeh mendengar ucapan gadis di depannya yang terdengar begitu kasar.
“Santai dong. Gue cuma ngajak lo kerja sama,” ucap laki-laki itu yang kini membuat gadis di depannya itu menaikkan sebelah alisnya bingung.
“Adik lo cantik, jadi gue mau dia. Lo bisa ambil Arsen dan gue deketin adek lo,” ucap laki-laki tersebut dengan seringainya yang membuat gadis yang tak lain adalah Dewi itu terkejut mendengar jika laki-laki di depannya itu mengetahui tentang adiknya.
Laki-laki yang kini berada di depan nya itu bahkan bukan dari sekolah nya. Namun ia malah mengenal Queena. Dewi jadi berpikir apa Queena memang semenarik itu hingga banyak yang mengenal nya?
“Mau gak lo?” tanya laki-laki itu lagi memastikan yang membuat Dewi sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya ia mengulurkan tangannya pada laki-laki di depannya itu. Laki-laki itu mengerutkan kening nya bingung sebelum akhirnya senyum nya mengembang dengan begitu lebar nya lalu ia segera menjawab uluran tangan tersebut.
“Dewi,” ucap Dewi memperkenalkan dirinya yang membuat laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
“Bagas,” ucap laki-laki yang tak lain bernama Bagas, yang merupakan sepupu Arsen.
“Kita sepakat?” tanya Bagas yang di jawab dengan anggukan oleh Dewi.
“Gue rasa ungkapan darah lebih kental dari air gak berlaku buat di cewek,” batin Bagas dengan seringainya melihat gadis di depannya itu yang kini menatapnya dengan tatapan seriusnya.
__ADS_1
***
Tatapan Queena kini terlihat serius pada soal di depannya. Namun sedikitpun gadis itu tak membuka mulut nya. Ia masih begitu marah pada Arsen. Karena laki-laki itu juga lah barang nya diambil dan ia mendapatkan poin padahal selama ini buku poin buruk nya begitu bersih.
“Udah ngerti belum?” tanya Arsen pada tunangannya itu yang kini hanya menganggukkan kepalanya sambil menarik buku nya sendiri untuk ia mulai mengerjakan soal di depannya.
Queena benar-benar berpuasa berbicara dengan laki-laki tersebut yang membuat Arsen menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadisnya itu yang sedang marah kepadanya.
“Udah berani marah sama aku sekarang hm?” tanya Arsen pada gadisnya itu sambil menarik wajah Queena untuk melihat ke arah nya. Namun gadis itu malah dengan segera menghempaskan tangan Arsen dan mengalihkan wajah nya lagi untuk membelakangi Arsen.
“Lagian kamu ngapain sih pakai bawa make up segala? Kamu kan mau sekolah,” ucap Arsen memperingati Queena. Queena yang mendengar hal tersebut segera menoleh ke arah Arsen dengan tatapan kesal nya.
“Bawa parfum itu wajar karena kini seharian di sekolah. Jadi pasti keringetan. Ya biar gak bau lah. Lagian namanya juga cewek, wajah kan bawa begituan. Kalau bedak luntur gimana? Kalau rambut aku berantakan gimana?” tanya Queena pada Arsen dengan tatapan tak terima nya atas argumen Arsen yang mempertanyakan tentang apa saja yang ia bawa saat ke sekolah.
“Kamu meskipun gak pakek beda udah putih, bibir kamu udah merah meskipun pakek lipstik,” ucap Arse menyampaikan pendapatnya yang membuat Queena kini menata Arsen dengan kekesalannya.
“Lihat, ini gak berwarna. Ini tuh biar bibir gak kering,” ucap Queena sambil menunjukkan lip ice yang Arsen pikir lipstick tadi. Queena mengoleskannya pada tangannya dan benar tak berwarna. Kini Arsen menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
“Sok tau aja sih lagian,” kesal Queena pada Arsen yang kini menghembuskan nafasnya sambil menggenggam tangan Queena untuk membujuk gadisnya itu.
“Iya maaf ya aku salah, nanti aku lebih selektif lagi deh,” ucp Arsen meminta maaf pada Queena yang membuat Queena kini berdecak mendengar nya.
“Permen aku mana?” tanya Queena saat tak melihat koleksi permen nya yang lucu-lucu dengan berbagai karakter berada di dalam tas itu.
__ADS_1
“Untuk yang satu itu, larangan khusu buat kamu. Jadi udah aku buang,” ucap Arsen dengan begitu tegas nya yang membuat Queena kini membelalakkan matanya mendengar ucapan Arsen.
“Arsen, kok kamu jahat sih?” tanya Queena dengan wajah cemberut nya.
“Kalau aku laporin Daddy juga pasti gak bakalan di bolehin,” ucap Arsen pada Queena yang kini membuat Queena semakin kesal pada Arsen.
“Gak mau belajar lagi,” kesal Queena sambil menutup semua buku nya dan membelakangi Arsen. Arsen yang melihat nya menghembuskan nafasnya kasar. Menghadapi Queena yang memang terkadang sedikit manja itu memang harus membutuhkan kesabaran yang ekstra.
“Mau jalan aja?” tanya Arsen pada Queena yang kini berusaha membujuk gadis nya itu untuk memaafkannya.
Queena kini masih saja terdiam sambil memunggungi Arsen. Carol yang baru saja pulang dari kantor bahkan kini mengerutkan keningnya melihat anaknya yang memunggungi Arsen.
“Queena maaf ya. Aku cuma gak mau kamu nanti malah sakit gigi kalau makan permen terlalu banyak. Lihat tadi, tas kamu penuh sama permen loh. Dan masalah make up, lain kali kamu gak perlu bawa lagi karena kamu udah cantik bahkan tanpa memakai make up. Pengecualin untuk parfum dan sisir, kamu boleh bawa itu. Kalau kaca nanti tempel aja di lakor kelas,” ucap Arsen panjang lebar berusaha untuk membujuk tunangannya itu.
Carol yang melihat itu hanya bisa tersenyum, melihat bagaimana Arsen yang berusaha untuk bersabar menghadapi anak nya yang tengah merajuk itu. Carol memilih untuk segera pergi dari sana. Setidak nya ia cukup lega melihat anaknya berada di tangan yang tepat. Yang bisa bersikap dewasa menghadapi anaknya yang satu itu.
“Jalan yuk? Aku beliin apa yang kamu mau,” ajak Arsen sambil memegang pundak Queena berusaha untuk menenangkan gadis nya itu.
Akhirnya ia memilih untuk mengalah dan mulai menoleh ke arah Arsen. Masih dengan wajah nya yang cemberut.
“Udah dong senyum, jangan cemberut lagi. Nanti cantiknya ilang,” ucap Arsen dengan senyumannya yang membuat Queena menghembuskan nafasnya kasar sebelum akhirnya mengembangkan senyumnya yang menular pada Arsen.
“Nah, gini kan cantik,” ucap Arsen sambil mengelus puncak kepala Queena sayang.
__ADS_1
Tanpa mereka tahu jika kini ada yang terus mereka dengan tatapan kesal dan penuh kecemburuan.
***