Renjana

Renjana
Harus Memilih


__ADS_3

“Jangan ikhlasin gue Queen. Jangan nyerah. Ayo berjuang bareng. Lo gak sendiri lagi Queena. Sekarang ada gue, gue yang akan nemenin lo. Ayo berjuang bareng gue Queena. Perjuangan lo selama ini gak sia-sia. Karena gue suka sama lo, gue cinta sama lo Queena,” ucap Arsen yang kini berhasil membuat Queena terkejut mendengarnya. Bahkan ia sampai membeku mendengar ucapan laki-laki itu.


Lalu jika sudah seperti ini siapa yang harus ia pilih? Cinta nya? Atau Kakaknya? Queena begitu dibuat bingung dengan keadaannya ini. Haruskan ia egois untuk saat ini? Ia ingin egois untuk dirinya sendiri, namun bagaimana dengan Dewi? Memikirkan hal itu benar-benar membuat Queena bingung. “Bagaimana dengan desa Luxi di perbatasan? Bencana di sana cukup parah. Apa ada solusi yang sudah kalian temukan?” pertanyaan yang terdengar begitu datar dan dingin itu membuat para bawahannya yang kini berdiri di depan sang raja saling berbisik satu sama lain memberikan desa yang baru saja terkena bencana akibat dari longsor yang melanda mengingat desa tersebut berada di daerah pegunungan.


“Kamu yakin akan melepaskan cinta yang selama ini kamu perjuangkan? Jangan bodoh untuk orang egois,” ucap Arsen berkata pada Queena berusaha untuk meyakinkan gadis itu jika ia tak boleh melepaskan cinta nya. “Lapor raja, kami sudah memberikan bantuan dan mengirimnya melalui desa terdekat,” ucap Miguel sambil menundukkan kepalanya berbicara pada sang ayah sekaligus sang raja.


“Aku bakalan mikirin ini,” ucap Queena yang setelah nya segera pergi dari sana. Meninggalkan Arsen. Namun baru saja ia berjalan Arsen menahan tangan Queena sebelum gadisnya itu berjalan lebih jauh.


“Sesekali harus egois Queena. Kalau perjodohan ini bersama Dewi, aku gak bakalan menerima perjodohan itu. Aku bakalan tetep mau nya sama kamu. Kalau kemarin kamu yang berjuang. Tapi mulai sekarang, aku yang bakalan berjuang,” ucap Arsen dengan begitu tegas nya pada Queena yang kini membuat Queena terdiam mendengar ucapan laki-laki di depannya itu dengan tatapan nya yang begitu tajam bagi Queena.


Queena menatap Arsen dengan tatapan penuh rasa bersalah nya. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa, karena jauh di dalam lubuk hati terdalam nya ia begitu senang mendengar ucapan Arsen. Namun memikirkan tentang Dewi, Queena jadi bingung harus bereaksi seperti apa. Entah harus senang atau sedih.


“Aku bakalan bicara sama orang tua kita kalau yang aku mau itu kamu bukan Dewi. Kamu mau kisah orang tua kamu terulang lagi?” tanya Arsen dengan begitu seriusnya pada Dewi yang kini menjawabnya dengan gelengan. Jelas ia tak ingin kisah kedua orang tuanya terulang kembali.


“Kamu lebih milih Dewi? Berarti kamu harus siap ngeliar Dewi aku perlakukan seperti Daddy kamu memperlakukan Mama kamu, atau mungkin lebih dari itu, itu yang kamu mau?” tanya Arsen lagi pada Queena yang kini menggelengkan kepala nya lagi. Jelas ia tak menginginkan hal itu. Ia tak ingin jika Dewi tersakiti.


“Dewi akan menemukan laki-laki yang bisa nerima dia Queen. Tapi kalau dia hanya bersamamu yang ada hanya siksaan dan luka. Percaya sama aku, dia akan menemukan laki-laki baik yang sama-sama saling mencintai,” ucap Arsen pada Queena, berusaha untuk membujuk gadisnya itu.


Queena masih saja terdiam. Pikirannya benar-benar kacau berperang dengan perasaan sendiri.


"Aku tetap akan bilang ke orang tau kita. Kalau kamu yang aku mau," tegas Arsen pada Queena seolah tak ingin di bantah.

__ADS_1


Queena yang tak tahu harus melakukan apa akhirnya memilih untuk pergi dari sana. Arsen yang melihat nya hanya bisa terdiam sambil menatap nanar ke arah gadis tersebut.


***


Setelah satu minggu lebih berada di kediaman Lena. Kini Queena sudah merasa tenang dan memutuskan untuk pulang ke rumah nya tadi siang.


Dan malam ini ia harus menghadapi kenyataan di depannya. Karena malam ini adalah pertemuan keluarga nya dengan Arsen.


Queena bahkan sampai saat ini masih harus memikirkan tentang keputusan yang diambilnya. Menerima atau menolak. Semua keputusan kini juga berada di tangannya.


Suara ketukan pintu di luar sana mengalihkan lamunan Queena. Hingga Suara ayahnya juga muncul di balik pintu.


"Queena, boleh Daddy masuk?" Tanya ayah nya itu. Queena menghembuskan nafasnya kasar sebelum menjawabnya.


"Anak Daddy udah cantik aja. Udah siap sayang?" Tanya Carol sambil berlutut di hadapan anak nya itu dan menggenggam tangan Queena dengan begitu lembut nya.


Melihat Queena yang hanya diam saja sambil menatap ke arah Carol membuat ayah dua anak itu menghela nafasnya.


"Lakukan apa yang kamu mau. Ikuti kata hati kamu. Jangan menyakiti diri sendiri, sesekali egois itu perlu. Sesuatu yang kamu pikir sekarang baik, belum tentu baik untuk kedepannya. Jangan mengulangi kesalahan Mommy mu nak," ucap Carol menasihati Queena. Tatapan gadis itu kini begitu serius menatap ayah nya. Ucapan Arsen kembali terdengar mengatakan kalimat berbeda dengan makna yang sama.


"Kalau kamu menolak perjodohan ini. Daddy tidak akan memaksa. Tapi Daddy juga tidak akan menjodohkan mereka. Jalan tengah yang akan Daddy ambil adalah membatalkan perjodohan ini, Daddy tidak ingin ada kisah kedua dari kisah Daddy dan Mommy, atau pun Mama," ucap Carol tegas yang membuat Queena kini menatap ayah nya itu dengan terkejut. Namun ia mengerti, ayahnya pasti tak menginginkan ada luka dan penyesalan lagi untuk anak-anak nya.

__ADS_1


"Sudah? Lebih baik kita segera berangkat," ucap Carol dengan senyumnya mengalihkan suasana yang tadi begitu gelap.


Queena menghembuskan nafasnya kasar sebelum akhirnya menjawabnya dengan anggukan. Kini Queena seolah sudah mendapatkan jawabannya. Ia hanya berharap jika keputusan yang diambil nya kali ini tidaklah salah.


***


Keadaan canggung juga dingin kini terasa begitu nyata di sebuah privat room di restoran berbintang. Tak ada yang membuka suara, hanya suara dentingan alat makan yang saling berada yang terdengar. Mereka saling diam dalam ketegangan.


Hingga setelah selesai dengan makanannya. Carol yang notabene nya menjadi orang tua dari dua gadis yang akan dipilih untuk perjodohan ini angkat suara.


"Atas insiden yang terjadi satu minggu yang lalu, saya benar-benar minta maaf. Saya tidak mengetahui jika Arsen dan Queena ternyata saling menyukai," ucap Carol dengan rasa bersalah nya pada orang di dalam ruangan tersebut. Queena kini menggenggam tangan ayah nya itu erat memberikan kekuatan juga mencari kekuatan di sana.


"Tidak Pak Carol, ini salah kami juga. Terutama Arsen yang malah tidak mengatakannya dengan jelas siapa nama gadis itu padahal ia sudah mengetahui dengan keluarga siapa dia di jodohkan," ucap Abraham yang kini menatap anaknya itu dengan tajam. Arsen yang melihat tatapan ayah nya itu hanya bisa menunduk karena memang ini adalah salah nya dan ia menyadari itu.


"Untuk selanjutnya saya kembalikan ini kepala anak-anak kita. Entah siapa yang akan Arsen pilih," ucap Carol sambil melihat ke arah Arsen yang kini terus saja melihat ke arah Queena.


"Gimana Arsen?" Tanya Sarah pada anaknya dengan begitu lembut. Sarah memegang tangan Arsen seolah memberitahu keputusan apapun yang Arsen ambil. Mereka akan mendukung nya.


"Arsen pilih Queena om. Karena Arsen mencintai Queena. Arsen ingin membahagiakan Queena dan menjaga Queena," ucap Arsen dengan begitu tegas nya seolah tak ada rasa takut dalam diri laki-laki tersebut.


Kini semua mata tertuju pada Queena menanti jawaban gadis tersebut. Begitupun dengan Dewi yang kini bahkan menatap Queena dengan tatapan tajam nya.

__ADS_1


Queena menghembuskan nafasnya sebelum akhirnya menjawabnya.


"Queena…."


__ADS_2