
Sudah satu minggu berlalu semenjak perceraian Dhisi juga Carol. Kini rumah besar Carol terasa begitu sepi. Hanya ada Queena juga Carol di rumah tersebut. Meskipun terkadang Dewi akan datang dan menginap namun tetap saja semua terasa berbeda untuk Queena.
Tak ada lagi Dhisi yang akan menyambutnya saat sarapan ataupun saat pulang sekolah. Carol memang tidak melarang nya untuk menemui Dhisi, namun Carol melarang Queena untuk datang ke rumah Dhisi yang kini tinggal dirumah kedua orang tuanya lagi.
“Kenapa hanya diam saja sayang?” tanya Carol pada anaknya itu sambi menaikkan sebelah alisnya menatap anaknya yang tampak begitu tak bersemangat. Sudah beberapa hari ini Queena tampak tak bersemangat, Carol bisa menebak jika semua itu karena perpisahannya dengan Dhisi.
Carol kini begitu sering berada di rumah. Ia tak pernah lagi untuk bekerja lembur di kantor nya bahkan di rumah nya. Saat Queena sedang sendiri dan tidak melakukan apapun maka ia akan menemani anaknya itu. Carol kini benar-benar berusaha untuk berperan sebagai ayah sekaligus ibu yang baik untuk anaknya itu.
“Queena cuma belum terbiasa aja Dad,” ucap Queena dengan cengirannya yang membuat Carol menghembuskan nafasnya sambil menganggukkan kepalanya mendengar ucapan anaknya itu.
“Udah cepet dihabisi sarapannya, tuh lihat Arsen udah dateng,” ucap Carol sambil menunjuk Arsen dengan dagunya saat melihat laki-laki yang kini berjalan memasuki ruangan maka. Melihat keberadaan Arsen membuat senyuman gadis itu mengembang dengan begitu sempurna.
“Udah, ayo berangkat,” ajak Queena yang sudah menghabiskan sarapannya. Queena segera menyalami tangan Carol lalu mencium pipi ayahnya itu . Arsen kini ikut menyalami tangan Carol lalu mereka bertiga segera berjalan ke arah depan karena Carol juga harus berangkat untuk ke kantor nya.
Selama di perjalanan Queena tak ada hentinya menceritakan banyak hal. Arsen hanya mendengar kan dengan sesekali tertawa mendengar ucapan gadisnya itu yang begitu menggemaskan.
Hingga tak lama mereka sampai di sekolah mereka yang kini tampak heboh dengan berita murid baru. Queena dan Arsen jelas sama sekali tidak peduli dengan murid baru tersebut. Arsen jelas tak akan peduli pada gadis lain selesain Queena, begitupun dengan Queena. Mereka seolah sudah cukup dengan pasangan mereka masing-masing.
__ADS_1
“Nanti istirahat tunggu aku ke kelas kamu dulu ya, jangan ke kantin sama yang lain,” ucap Arsen memperingati gadisnya itu yang saat ini sudah berada di depan kelas nya,
“Iya sayang,” ucap Queena sambil mencubit pipi Arsen dengan gemas sambil tersenyum ke arah laki-laki tersebut.
“Aku ke kelas dulu,” ucap Arsen yang dibalas dengan anggukan oleh Queena. Setelah nya Queena segera masuk ke kelas nya sedangkan Arsen menuju kelas nya.
“Queena, lo udah dengar belum kalau di kelas Arsen ada murid baru? Cewek tau,” tanya Calya yang kini bertanya pada Queena dengan begitu heboh nya. Queena yang mendengar hal tersebut menggelengkan kepalanya seolah tak peduli dengan semua itu.
“Terus kenapa? Biarin aja sih, kayak gak tau kak Arsen aja,” ucap Queena dengan begitu santainya pada Calya. Calya tampak terdiam lalu menganggukkan kepalanya. Meskipun ia tahu Arsen pasti tak akan peduli pada gadis namun tetap saja untuk kali ini Calya merasa ada sesuatu yang besar ternyata. Ia memiliki firasat buruk tentang ini.
“Queena, lo beneran bakal sesantai itu? Tunangan lo ganteng loh, Queen,” ucap Calya yang entah mengapa kini malah ia yang merasa tak enak. Queena yang mendengar ucapan sahabat nya itu kini bahkan terkekeh mendengar nya.
***
Arsen berjalan memasuki kelas nya dengan wajah datar seperti biasa. Namun saat akan sampai di kelas nya. Ia mengerutkan kening nya saat melihat kedua sahabat nya yang kini terlihat tengah sibuk membicarakan sesuatu.
“Ngapain kalian pada di luar?” tanya Arsen pada kedua sahabat nya itu yang kini sontak menoleh ke arah Arsen sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Hal tersebut membuat Arsen mengerutkan kening nya bingung.
__ADS_1
“Ada apa sih?” tanya Arsen penasaran. Ia memutuskan untuk masuk ke kelas nya. Hingga tubuh nya kini berhasil dibuat menegang melihat seorang gadis yang kini duduk di samping tempat nya yang kosong sambil tersenyum dengan begitu lebar.
Tangan laki-laki tersebut kini bahkan mengepal melihat gadis tersebut. Gadis yang sudah membuat nya hancur bahkan di usia nya yang saat itu baru berusia enam belas tahun. Dan kini gadis tersebut malah kembali hadir dengan senyumannya yang seolah tak terjadi apapun di antara mereka.
“Arsen,” panggil gadis tersebut pada Arsen. Gadis tersebut kini terlihat berjalan ke arah Arsen. Namun bukannya juga mendekat ke arah gadis tersebut kini Arsen malah segera pergi dari sana. Kedua sahabat Arsen yang melihat hal tersebut tak kalah terkejut nya.
“Emang harus nya lo tuh gak pernah muncul lagi, Mey. Lo lihat, Arsen gak suka dengan kehadiran lo,” ucap Edsel dengan begitu tegas nya pada gadis yang tak lain bernama Meylan tersebut.
Meylan kini terdiam melihat kepergian laki-laki yang begitu dicintainya itu. Laki-laki yang dulu juga begitu mencintainya. Bahkan Meylan yakin jika sampai saat ini Arsen masih begitu mencintainya. Tatapannya kini begitu lurus menatap Arsen yang sudah pergi menjauh darinya.
Arsen kini berjalan dengan cepat menuju kearah kelas tunangannya. Entah mengapa ia merasa jika kini ia begitu membutuhkan gadisnya itu. Perasaannya saat ini begitu tak menentu. Kehadiran gadis tersebut membuat nya kembali mengingat luka lama nya saat gadis tersebut pergi darinya dan membuat nya terluka.
Saat sampai di kelas tunangannya, Arsen segera mencari Queena yang kini tengah berbincang dengan kedua sahabat nya. Tanpa mengatakan apapun kini Arsen malah langsung memeluk Queena yang membuat Queena kini mengerutkan kening nya bingung melihat tingkah tunangannya itu.
“Sayang, kenapa?” tanya Queena sambil mengelus pundak tunangannya itu dengan begitu lembut nya membiarkan Arsen yang kini masih memeluknya, Kini mereka sudah menjadi pusat perhatian apalagi dengan tingkah Arsen yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Queena yang juga tak terbiasa dengan sikap Arsen saat ini bahkan juga bertanya-tanya ada apa dengan tunangannya itu. Namun untuk saat ini ia masih membiarkan Arsen untuk menenangkan dirinya dulu dalam pelukannya. Kedua sahabat Queena kini hanya bisa berbicara lewat tatapan begitupun dengan Queena.
__ADS_1
“Temenin aku di rooftop,” ucap Arsen setelah melepaskan pelukannya. Mendengar hal tersebut Queena menganggukkan kepalanya dan mengikuti tunangannya itu untuk menuju rooftop sesuai yang Arsen inginkan.
***