Renjana

Renjana
Queena Sakit


__ADS_3

Seperti yang sudah Queena minta, kini Arsen mengantar gadis itu ke rumah nenek dari ibunya. Rumah besar berlantai tiga yang kini terlihat begitu mewah yang berada di kompleks perumahan elit.


“Masuk sana, langsung istirahat,” ucap Arsen tanpa mau repot untuk keluar dan membukakan pintu mobil untuk Queena.


“Makasih ya kak buat hari ini,” ucap Queena dengan senyumannya setelah ia segera keluar dari mobil Arsen dengan perasaan bahagianya.


Namun setelah mobil Arsen menjauh, senyuman itu kembali luntur. Perasannya kembali hancur. Arsen seolah menjadi obat tersendiri untuk Queena. Dan kepergian laki-laki itu hanya kembali membawa luka untuknya.


Pikirannya kini kembali pada masalah yang tengah dihadapinya. Dengan langkah pelannya kini Queena memasuki rumah neneknya itu. Tatapannya kini begitu sendu. Saat sampai di depan rumahnya, kini terlihat uncle nya yang terlihat begitu khawatir di depan rumah nya itu.


“Queena,” panggilan itu membuat Queena kini menatap pamannya dengan tatapan sendunya.


Laki-laki berumur tiga puluh tahun itu dengan segera berjalan ke arah Queena. Memastikan keadaan keponakannya itu baik-baik saja. Tadi Carol menelponnya dan memberitahu jika Queena pergi dari rumah setelah mendengar semua tentang masa lalu nya.


Roy yang mendengar nya begitu marah, ia begitu takut jika terjadi sesuatu pada keponakannya itu. Dan kini ia melihat Queena yang datang dengan tubuh basah nya namun dilapisi jaket yang masih kering. Menandakan jika ada yang melindungi gadis itu.


“Dari mana saja kamu, kita semua khawatir setelah Daddy kamu ngasih tau kita kalau kamu pergi,” ucap Roy sambil memeriksa keadaan keponakannya itu. Hingga setelahnya ia bernafas lega dan memeluk Queena saat melihat gadis itu baik-baik saja.


“Queena dari makan Mommy,” ucap Queena dengan tatapan sendunya sebelum akhirnya gadis itu malah jatuh pingsan. Hal tersebut membuat Roy kaget. Lena yang baru saja keluar dari rumah nya juga tak kalah kaget melihat cucu nya yang kini berada dalam gendongan Roy dalam keadaan tak sadarkan diri.

__ADS_1


“Ma, panggil dokter,” perintah Roy yang kini terburu-buru membawa keponakannya itu untuk segera masuk ke sebuah kamar dengan nuansa pink. Kamar yang dulunya adalah kamar ibu gadis itu, namun kini sudah di ganti menjadi kamar Queena.


Tak lama menunggu Dokter keluarga Hasyim datang bersama dengan Adam juga Carol yang langsung datang ke rumah mertuanya itu saat mendengar jika ada nya berada di sana dan kini tengah pingsan.


Tatapan Carol kini jelas menyatakan ketakutan juga kekhawatiran. Ia begitu takut jika terjadi sesuatu pada anaknya itu.


“Bagaimana keadaan anak saya dok?” tanya Carol setelah dokter wanita tersebut selesai memeriksa Queena.


“Nona muda hanya kelelahan Tuan, juga sedang banyak pikiran hingga membuat kondisi tubuhnya tidak stabil lalu malah terkena hujan. Saya sudah meresepkan obat untuk Nona Muda,” ucap dokter tersebut sambil memberikan resep obat pada Roy yang segera mengambilnya.


“Biar aku saja yang membeli obat nya,” ucap Roy yang setelah nya segera pergi dari sana meninggalkan keluarganya yang kini menatap gadis yang masih terbaring di ranjang nya itu dengan tatapan sendunya.


“Kenapa kamu begitu teledor Carol. Kita sudah sepakat untuk menyembunyikannya dari Queena,” ucap Adam dengan tajamnya pada Carol yang kali ini menghembuskan nafasnya kasar.


Katakan ia egois dengan memanfaatkan Dhisi, namun ia melakukannya karena wanita itu sendiri. Karena wanita itu lah ia kehilangan anaknya yang membuat cucu nya harus kehilangan ibunya bahkan saat  ia baru saja terlahir di dunia.


“Maaf Pa, aku hanya marah karna mereka terus menyalahkan Elinda juga Queena,” ucap Carol menjelaskan pada mertuanya itu yang kini menghembuskan nafasnya kasar mendengar ucapan Carol.


“Sudah lah lebih baik sekarang kita fokus dengan Queena dulu. Kita jelas kan pelan-pelan pada nya,” ucap Lena menjadi penenang. Kini fokus nya adalah cucu nya yang masih tak sadarkan diri itu.

__ADS_1


“Mama ambil kompres dulu ke dapur, sekalian membuat kan jahe hangat untuk Queena,” ucap Lena yang setelahnya segera pergi dari sana yang diikuti oleh suaminya.


Kini di kamar tersebut hanya menyisakan Queena juga ayah nya yang kini menggenggam tangan anaknya itu dengan begitu lembut.


“Maafkan Daddy yang menyembunyikannya darimu Queena. Daddy hanya tak ingin kau membenci Mamamu, karena hanya dia yang bisa Daddy andal kan untuk menjagamu. Dia juga berjanji akan menjagamu dan menyayangimu seperti anaknya sendiri atas hukuman atas apa yang ia lakukan,” ucap Carol sambil menciumi tangan anaknya itu.


Ia berharap anaknya itu akan segera membuka matanya dan mau memaafkannya yang telah menyembunyikannya dari putri yang begitu ia sayangi itu.


“Daddy mohon bangunlah sayang, Daddy ingin melihat senyum mu,” ucap Carol yang kini tanpa sadar air matanya sudah mulai mengalir membasahi wajah tampan dan tegas laki-laki itu.


“Daddy,” panggilan yang begitu lemah itu membuat Carol langsung mendongakkan kepalanya dan kini ia dapat melihat anaknya yang tengah tersenyum dengan lemah ke arah nya.


Air mata gadis itu mengalir membasahi wajah cantik itu. Queena membenarkan tubuhnya lalu segera memeluk ayahnya itu hingga akhirnya mereka menangis bersama. Lena yang baru saja datang dengan air untuk kompres Queena dan juga jahe hangat langsung mengurungkan niat nya untuk masuk.


Ia merasa cucu dan menantunya itu butuh waktu untuk berbicara berdua. Melihat mereka yang menangis tanpa sadar Lena juga meneteskan air matanya.


“Harusnya kamu ada di sini nak, dan melihat bagaimana suamimu itu menjaga putrinya dengan begitu baik. Carol begitu mencintai putri mu nak, meskipun saat itu ia tak mau menjaganya kalau kau tak membuka mata mu, nyatanya kini ia menjaga nya dengan begitu baik,” ucap Lena dengan air matanya yang sudah turun begitu saja di wajahnya.


Tak sanggup terus belama-lama berada di sana akhirnya wanita itu memilih untuk pergi. Hatinya begitu sesak. Ada rasa tak rela yang kini masih ia rasakan atas kehilangan yang ia terima. Ia masih berharap bisa memeluk putrinya kembali. Melihat bagaimana Erlinda menjaga putrinya.

__ADS_1


“Jangan menangis sayang, jangan pernah merasa sedih. Mommy mu tak akan suka melihat Daddy membuatmu menangis,” ucap Carol pada anaknya itu. Padahal kini ia juga tengah menangis namun ia berkata seolah ia tak menangis saja. Bahkan dalam hati kini Queena tertawa melihat tingkah ayahnya itu.


***


__ADS_2