
Queena kini sudah kembali ke rumah nya lagi. Namun selama itu belum ada yang memberitahu Queena tentang perceraian Dhisi juga Carol. Bahkan Dewi pun belum sempat untuk berbicara dengan adiknya itu. Ia terlalu takut dan juga malu untuk itu.
Arsen yang juga mengetahui hal tersebut memilih untuk tutup mulut karena ia merasa tak berharap untuk mengatakannya pada Queena.
Gadis tersebut kini tengah berada di kamar nya, duduk di balkon kamar nya sambil menikmati indah nya malam. Hingga suara ketukan pintu membuat Queena mengalihkan tatapannya ke arah pintu kamarnya
“Masuk aja,” ucap Queena pada orang diluar sana yang ternyata adalah ayahnya. Carol segera masuk ke kamar anaknya itu lalu berjalan ke arah ranjang Queena untuk mengambil selimut. Setelah nya ia segera berjalan ke arah Queena lalu memakaikan selimut tersebut pada anaknya.
Carol kini ikut duduk di samping Queena. Queena menoleh ke arah ayahnya itu sambil menampilkan senyumannya yang terlihat begitu indah.
“Kenapa Dad?” tanya Queena pada ayahnya itu. Meskipun Carol sering datang ke kamar nya namun tetap saja ia menanyakan apa yang membuat ayahnya itu datang ke kamar nya. Apalagi kini melihat wajah ayahnya itu yang terlihat berbeda dari biasanya membuat Queena semakin bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi pada ayahnya itu.
“Daddy sudah memutuskan untuk bercerai dengan Dhisi,” ucap Carol dengan mengalihkan tatapannya dari Queena. Rasanya ia tak sanggung untuk melihat Queena saat mengatakan hal tersebut.
Queena yang mendengar ucapan ayahnya itu sontak terdiam sebelum akhirnya ia meneteskan air matanya mendengar ucapan ayahnya. Meskipun ia juga marah pada Dhisi yang telah merenggut kebahagiaan ibu nya. Namun kini ia sudah memaafkannya dan bagaimanapun selama ini Dhisi lah yang sudah merawat nya selama ini.
“Kenapa dad? Kenapa harus bercerai?” tanya Queena dengan tatapan seriusnya pada ayahnya itu yang kini menghembuskan nafasnya lalu melihat ke arah Queena dengan tatapan seriusnya.
“Karena Daddy rasa ini lah yang terbaik. Daddy tidak bisa untuk terus melanjutkan semua ini Queen. Daddy masih begitu mencintai Mommy kamu, Daddy tidak bisa terus hidup bersama nya Daddy merasa tengah mengkhianati Mommy kamu,” jelas Carol pada anaknya yang kini terdiam mendengar nya.
Jika Queena berada di posisi Carol mungkin ia juga akan melakukan hal yang sama. Ia tidak bisa untuk terus hidup dengan membohongi perasaannya sendiri. Hidup dengan beban pikiran jika kini ia tengah mengkhianati orang yang dicintainya dengan hidup bersama dengan wanita lain.
“Dad, Queena tahu ini pasti sulit untuk Daddy. Tapi Daddy juga butuh teman di hari tua Daddy. Kalau Qweena sudah menikah siapa yang jagain Daddy? Queena bisa saja meminta Arsen untuk tinggal di rumah ini dan menjaga Daddy, tapi bagaimana jika Arsen menolak?” tanya Queena pada ayahnya itu dengan tatapan sendunya. Queena kini berusaha untuk menjadi dewasa dalam keadaan seperti ini. Ia harus memikirkan tentang kedepannya. Tentang bagaimana nanti hidup ayahnya jika harus tinggal sendiri.
__ADS_1
“Daddy baik-baik saja. Daddy lebih baik hidup sendiri daripada Daddy harus terus hidup dengan rasa bersalah pada orang yang Daddy cintai. Daddy seolah merasa telah mengkhianati Mommy kamu, padahal jelas saat itu Daddy mengatakan akan segera menceraikan Dhisi,” ucap Carol dengan senyuman sendunya kala mengingat tentang masa-masa nya bersama dengan Erlida dulu.
Queena yang mendengar ucapan tersebut menatap ayahnya dengan rasa sedihnya. Ia ingin egois dengan menentang perceraian itu, namun ia juga tak ingin jika terus mengurung ayahnya itu dalam luka dan ketakutan.
"Apa Daddy tidak bisa bertahan untuk Queena? Jika tidak ada Mama pasti Queena kesepian," ucap Queena dengan air matanya yang kini mulai mengalir membasahi wajah gadis tersebut. Carol menundukkan kepalanya. Ia tak pernah tega melihat anaknya itu menangis.
"Maaf sayang, tapi Daddy tidak bisa untuk bertahan lagi. Selama ini Daddy bertahan karena kamu, tapi untuk sekarang Daddy menyerah. Hubungan kita memang tidak bisa untuk diselamatkan lagi Queena. Daddy tak pernah bisa untuk memaafkan dan menerima Dhisi, begitu sulit untuk Daddy melakukannya," ucap Carol berusaha untuk membuat anaknya itu mengerti tentang keadaannya saat ini.
Queena memejamkan matanya. Kini ia merasa bingung. Ia tak ingin Ayah nya dan Dhisi bercerai. Namun ia juga tidak bisa membiarkan ayahnya hidup dalam ketakutan.
"Kalau memang itu yang Daddy inginkan, Queena hanya bisa mendukung Daddy meskipun sebenarnya Queena tak ingin Daddy dan Mama bercerai," ucap Queena pada ayahnya itu sambil menggenggam tangan ayah nya itu. Setelah nya ia segera memeluk ayahnya itu yang kini juga memeluk nya.
“Tapi Dad, apa Daddy tidak bisa untuk memaafkan kak Dewi? Kak Dewi juga anak Daddy, Kak Dewi seperti itu hanya karena dia ingin perhatian dan kasih sayang dari Daddy. Kak Dewi juga ingin Daddy baik pada nya,” ucap Queena berusaha untuk meyakinkan ayahnya itu yang kini terlihat terdiam mendengar ucapan anaknya itu, tak ia sangka anak nya yang begitu manja kini berubah menjadi begitu dewasa.
***
"Dewi? Ngapain kamu di sini?" Tanya suara di belakang Dewi yang sontak membuat Dewi menoleh, hingga ia melihat ayahnya yang kini menaikkan sebelah alisnya melihat keberadaan Dewi di depan kamar nya.
"Boleh Dewi berbicara dengan Papa sebentar?" Tanya Dewi dengan tatapan penuh harap nya pada Carol yang kini langsung menganggukkan kepalanya mendengar ucapan anaknya itu.
“Masuk,” ajak Carol pada Dewi yang kini menganggukkan kepalanya lalu segera mengikuti ayah nya itu untuk masuk ke dalam kamar ayahnya. Selama Dewi tinggal di rumah ini, baru kali ini ia masuk ke dalam kamar ayah nya itu.
Saat masuk di dalam kamar tersebut, bisa Dewi lihat begitu banyak foto ayah nya saat masih muda bersama dengan wanita yang Dewi yakini sebagai ibu Queena, dan banyak juga foto Carol bersama dengan Queena. Bahkan di kamar tersebut terdapat sebuah foto pernikahan besar yang tampak begitu besar di tengah ruangan yang terlihat begitu bahagia.
__ADS_1
Bahkan ada foto pernikahan yang terlihat begitu bahagia dengan sahabat dari Carol juga Erlinda juga keluarga mereka yang tampak begitu bahagia dengan pernikahan tersebut. Berbeda dengan foto pernikahan Mama nya yang bahkan Ayah nya itu terlihat begitu marah.
Namun ada satu foto yang menarik perhatiannya. Itu adalah foto dirinya juga ayah nya saat ia baru lahir, bahkan di foto tersebut bukan mama nya yang menggendong nya melainkan Erlinda yang saat itu masih hamil.
“Apa yang ingin kamu bicarakan sama papa?” tanya Carol pada anaknya itu. Mendengar ucapan Dewi, gadis tersebut segera mengalihkan perhatian nya pada sang ayah.
“Pa, Dewi mau minta maaf atas kesalahan Dewi. Maaf karena Dewi selalu menuntun pada Papa. Dewi juga minta maaf untuk Mama, maaf karena Mama dan kehadiran Dewi, Papa malah kehilangan Tante Erlinda, maaf karena Mama dan kehadiran Dewi Papa kehilangan mimpi indah sebuah rumah tangga yang Papa mau,” ucap Dewi dengan tatapan sendunya pada ayahnya itu.
“Sebenar ya Dewi hanya ingin kasih sayang Papa. Maaf jika itu menyulitkan Papa. Dewi gak papa jika kita terus hidup seperti ini selamanya Pa, tapi Dewi mohon jangan tinggalin Mama, Pa. Jangan ceraikan mama, Pa. Mama seperti itu karena Mama sayang sama Papa,” ucap Dewi dengan air matanya yang kini mulai mengalir menghiasi wajah cantik gadis tersebut.
Carol yang melihat hal tersebut segera berdiri dan kini saling berhadapan dengan anaknya itu. Carol menggenggam tangan Dewi, sepertinya apa yang Queena katakan ada benarnya. Ia harus memberikan peluang untuk Dewi dekat dengannya. Tak seharusnya ia terus menyalahkan kehadiran Dewi, karena jelas yang salah adalah Dhisi, dan Dewi hanya lah titipan dari tuhan untuk nya.
“Maafin Papa ya nak, Papa selalu menyalahkan kamu selama ini. Papa memang salah dengan berperilaku seperti itu pada kamu, tapi Papa harap kamu mengerti keadaan Papa tidak baik-baik saja selama ini. Maafin Papa ya nak, mari kita mulai semua dari awal. Papa akan menyayangi kamu dan menjadi Papa yang baik untuk kamu,” ucap Carol dengan senyumannya pada anaknya itu yang kini membuat Dewi segera melihat ke arah ayah nya itu dengan tatapan tak percaya nya mendengar ucapan ayah nya itu.
“Papa serius?” tanya Dewi memastikan. Carol yang mendengar nya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Tapi maaf, papa tidak bisa untuk terus bersama dengan Mama kamu. Selama ini Papa bertahan hanya karena Queena. Sejujurnya selama ini Papa selalu merasa bersalah pada Mommy Queena karena Papa hidup dengan wanita lain, jadi untuk sekarang Papa ingin hidup bersama anak-anak Papa saja. Maafkan Papa nak, tapi papa benar-benar tidak bisa lagi untuk bertahan dengan mama kamu, Papa harap kamu bisa mengerti,” ucap Carol sambil memeluk anak nya itu membuat Dewi kini memejamkan matanya dengan air matanya yang terus mengalir.
“Sekarang kamu sudah melihat bukti nyata dari memiliki secara paksa, jadi papa mohon sama kamu untuk tidak lagi mengganggu hubungan Queena dan Arsen,” ucap Carol memperingati anaknya itu yang kini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan ayahnya itu.
Memang Dewi sudah tidak lagi ingin merusak hubungan adik nya itu. Ia ingin memiliki hubungan yang baik lagi dengan Queena. Ia rasa memulai semuanya dari awal lagi memang baik, meskipun kedua orang tuanya kini harus berpisah. Dewi tidak bisa lagi untuk memaksa keputusan ayahnya itu.
***
__ADS_1