Renjana

Renjana
Adnan


__ADS_3

Tatapan penuh kagum dan rasa hormat kini dapat Queena lihat dengan jelas. Saat ia melewati koridor kantor bersama dengan ayahnya. Sesuai yang telah mereka sepakati, hari ini Queena ikut ke kantor bersama dengan ayahnya.


Awalnya ia sudah menolak namun kini akhirnya mau ta mau Queena datang ke kantor ayahnya itu walau dengan imbalan uang harian tambahan sebagai gaji karena ia telah bekerja. Di sepanjang koridor kantor kini banyak yang menyapa nya dan ada yang menunduk hormat saat melihat Queena.


“Dad pagi ini ada meeting. Kau akan diawasi oleh Adnan, dia juga yang akan mengajarimu dan memberikan tugas untuk mu. Jadi jangan membuat Adnan kerepotan,” pesan Carol pada Queena saat mereka kini sudah berada di ruangan Carol.


Adnan adalah asisten Carol. Laki-laki berusia 26 tahun yang sudah dipercaya oleh Carol. Anak dari orang kepercayaan Carol sebelumnya yang kini bekerja menggantikan ayahnya. Queena yang mendengar ucapan ayahnya langsung tersenyum ke arah laki-laki tampan di depannya itu seolah ia memiliki rencananya sendiri.


“Daddy pergi dulu. Ingat untuk tidak membuat Adnan kerepotan,” ucap Carol lagi mengingatkan anaknya itu dengan ketegasannya. Queena yang mendengar ucapan ayahnya itu hanya memutar bola matanya malas.


“Aku tahu Dad. Pergi lah,” usir Queena sambil mendorong ayahnya itu untuk segera keluar dari ruangan tersebut. Adnan yang sudah terbiasa melihat tingkah Queena yang seperti ini hanya menggelengkan kepalanya saja.


Mereka memang cukup dekat karena Queena yang sering datang ke kantor ayah nya. Atau sebaliknya, Adnan yang sering datang ke rumah Queena. Hingga membuat mereka begitu dekat. Bahkan Adnan sudah menganggap Queena seperti adiknya sendiri.


“Jadi kenapa kamu bisa berada di sini?” tanya Adnan sambil menaikkan sebelah alisnya menatap Queena dengan tatapan penuh tanya nya.


Sedangkan Queena kini sudah berjalan ke arah kursi kebesaran milik ayahnya lalu segera duduk di sana. Adnan yang melihat hal itu langsung berjalan mendekat dan duduk di hadapan Queena yang kini menghela nafasnya kasar.


“Aku pengen libur sekolah. Lagian nanggung kemarin aku juga libur kan jadi mending sekarang libur juga eh tahunya malah di ajak ke sini,” ucap Queena menjelaskan dengan tatapan kesalnya yang kini malah membuat Adnan terkekeh mendengar jawaban polos dari Queena.


“Queena pengen beli es krim deh Kak,” ucap Queena dengan tatapan memohonnya pada Adnan yang kini menggelengkan kepalanya mendengar ucapan dari Queena.


“Tidak Queen. Daddy mu meminta ku untuk mengajarimu bisnis. Bukan untuk membeli es krim,” ucap Adnan yang membuat Queena kini berdecak dengan kesal mendengar jawaban dari Adnan yang memang begitu patuh pada ayahnya itu. Oleh sebab itu ayahnya begitu memp-ercayai Adnan.

__ADS_1


“Queena bakal ngerjain tapi janji sama Queena setelah selesai kak Adnan harus nemenin Queena makan es krim,” ucap Queena membuat persetujuan dengan Adnan yang kini tampak berpikir sebelum akhirnya menjawabnya dengan anggukan.


“Hanya jika kamu menyelesaikannya sebelum jam 10.30,” ucap Adnan menantang. Queena menipiskan bibirnya mendengar ucapan Adnan namun pada akhirnya ia hanya bisa menyetujuinya karena tak memiliki pilihan lain.


Setelahnya Queena mulai mengerjakan pekerjaan kantor milik ayahnya yang dibantu oleh Adnan yang selalu mengawasinya.


***


Laki-laki dengan tubuh tinggi dan atletis nya kini berjalan dengan santai di koridor sekolah nya sambil menatap ke arah depan dengan tatapan tajamnya. Laki-laki yang tak lain adalah Arsen untuk berjalan ke arah kantin bersama dengan kedua sahabatnya.


“Tumben banget seharian ini gak keliatan Queena, gue,” ucap Edsel saat sampai di kantin dan tetap tak melihat keberadaan Queena. Padahal biasanya gadis itu selalu datang dan merecoki hari tenang Arsen.


“Meliburkan diri sih gue dengernya,” ucap Panca yang kemarin sempat mendengar pembicaraan antara Queena juga sahabat gadis itu yang berkata jika mereka akan meliburkan diri.


“Enak bener ya jadi anak pemilik sekolah,” ucap Edsel dengan kekehannya.


“Gue denger kayak nya dia juga deketin lo Ar,” tanya Edsel yang sempat mendengar jika saat di bus, Dewi. kakak Queena mengajak Arsen untuk duduk bersama namun Arsen malah lebih memilih untuk duduk dengan Queena.


“Gak tau,” jawab Arsen singkat seolah tak memperdulikannya sama sekali dan lebih memilih untuk memesan makanannya.


“Terus lo pilih kakak atau adiknya?” tanya Panca menaik turunkan alisnya berusaha menggoda sahabatnya itu yang kini hanya menatap datar pada sahabatnya itu.


“Gak ada,” ketus Arsen yang kini mulai berjalan sambil membawa makanannya menuju tempat nya kursi yang masih kosong.

__ADS_1


“Lo mah di deketin cewek cantik kabur mulu,” ucap Edsel sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan sahabatnya yang satu itu.


“Bukan cantik doang tapi tajir dan anak pemilik sekolah,” ucap Panca membanggakan yang dijawab dengan anggukan oleh Edsel.


“Lo pikir gue ga mampu buat sekolah sendiri?” ketus Arsen yang membuat kedua sahabatnya itu menelan saliva nya sudah payah mendengar jawaban Arsen yang begitu menohok. Jelas Arsen bisa melakukannya mengingat keluarga Arsen bukanlah keluarga sembarangan.


“Gue bantu milih deh Ar. Lagian yang suka sama lo buka  juga dua anak pemilik sekolah itu, tapi banyak cewek cantik lainnya. Lo tinggal milih, itung-itung biar lo gak jomblo,” ucap Edsel dengan engirannya sambil menenggak minumannya yang hanya dibalas dengan tatapan datar oleh Arsen.


“Tapi kalau di antara dua anak pemilik sekolah menurut lo gimana?” tanya Edsel pada panca yang kini terlihat berpikir.


“Queena cantik udah kek bidadari. Baik, ramah, murah senyum, ceria, pinter. Paket komplit lah Cuma minus nya pekilan dan manja,” ucap Panca yang dijawab dengan anggukan setuju oleh Edsel.


Arsen yang mendengar pembicaraan sahabatnya itu tentang Queena dan kakak kembar gadis itu yang tak Arsen ketahui  namanya itu hanya diam saja mendengar kan sambil sibuk dengan makananya.


“Satu lagi, bapak nya dia posesif,” ucap Edsel menambahkan yang kini malah membuat Panca menaikan sebelah alisnya.


“Bukannya satu bapak?” tanya Panca yang Edsel balas dengan anggukan.


“Tapi yang gue dengar lebih posesif ke Queena sih. Lo liat aja sekolah aja di anter jemput. terus pas kelar camping kemarin. Queena doang yang di manjain,” ucap Edsel yang memang sempat melihat interaksi kelyar tersebut.


Arsen yang mendengarnya jadi memikirkan tentang pembicaraan Dewi dengan kedua sahabatnya saat di bus waktu itu.


“Pantes aja ya si Dewi lebih dewasa,” ucap Panca yang di jawab dengan anggukan oleh Edsel.

__ADS_1


Mereka lalu melanjutkan pembicaraan mereka tentang Queena juga Dewi meskipun hanya Edsel dan Panca yang berbincang sedangkan Arsen memilih untuk diam dan melanjutkan makannya. Walau telinganya ia pasang untuk mendengar an penbicaraan sahabatnya itu.


***


__ADS_2