Renjana

Renjana
Rasa Bersalah


__ADS_3

Queena melihat ke sekitar rumah nya yang malam ini tampak begitu sepi. Ayah nya tentu berada di ruang kerja nya sedangkan ibu dan kakaknya kini tengah pergi ke rumah orang tua Dhisi. Dan Queena memang sengaja tidak ikut. Hubungannya dengan ayah Dhisi tak cukup baik, karena laki-laki tua itu selalu menganggap Queena sebagai musuh nya hingga selanjutnya Carol melarang anaknya itu untuk pergi ke sana.


Kini Queena ingin pergi keluar rumahnya untuk menuju supermarket karena ia ingin untuk membeli es krim. Jelas ia tak akan memberitahu Carol karena jelas ayahnya itu akan melarangnya mengingat siang ini Queena sudah memakan es krim. Carol memang selalu menjaga dan membatasi anaknya itu jika hal itu tak baik untuk Queena.


Namun yang namanya Queena yang memang begitu keras kepala, ia sering kali mencuri-curi waktu untuk memakan es krim lebih dari satu es krim perhari. Seperti saat ini. Queena sudah terlihat seperti pencuri di rumahnya sendiri.


“Seperti nya aman,” ucap Queena dengan senyumannya saat melihat rumahnya yang tampak sepi. Bahkan pelayannya juga tak dapat ia lihat.


Namun baru saja merasa lega, tiba-tiba saja saat ia ingin membuka pintu. Dari arah luar pintu juga terbuka dan kini menampilkan kedua orang tua Carol yang berada di hadapan Queena.


“Oma, Opa,” sapa Queena merasa terkejut dengan kedatangan kakek dan neneknya itu. Namun ia juga begitu senang melihat mereka. Kini bahkan ia langsung memeluk kakek dan neneknya itu bergantian.


“Bagaimana kabar mu sayang?” sama Neymi, nenek Queena yang merupakan ibu dari Carol.


“Baik Oma. Oma sama Opa apa kabar?” atany Queena balik yang kini sudah membawa pasangan suami istri lanjut usia untuk masuk ke dalam.


“Oma dan Opa baik,” ucap Neymi yang membuat Queena tersenyum senang.


“Biar Queena panggil Daddy dulu,” ucap Queena yang setelahnya langsung berjalan menuju dua untuk mencari keberadaan ayahnya itu.


“Queena jangan berlari nak,” teriak Maco, kakek Queena yang membuat Queena kini langsung menoleh ke arah laki-laki tersebut dan menjawabnya dengan cengiran.


Neymi dan Maco yang melihatnya hanya menghembuskan nafasnya sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Sifat ibu nya seolah mengalir begitu kental dalam diri nya,” ucap Neymi sambil menggelengkan kepalanya melihat cucunya yang satu itu.


“Aku jadi merasa bersalah setiap kali melihat Queena,” ucap Neymi yang matanya kini sudah berkaca-kaca. Mendengar ucapan istrinya itu Maco mengelus punggung istrinya itu menenangkan.


“Setidaknya kini tugas kita adalah menjaganya dengan baik untuk menebus kesalahan kita. Dan Carol juga sudah begitu berhasil menjadi ibu juga ayah bagi Queena. Ada Dhisi juga yang menjaganya,” ucap Maco menenangkan yang membuat Neymi menghela nafasnya kasar sambil menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Maco.


Tak beberapa lama kini terlihat Queena yang turun bersama dengan Carol yang merangkul puncak Queena. Queena terlihat begitu senang. Sedangkan Carol kini hanya menatap datar pada kedua orang tuanya.


“Tidak biasanya kalian datang saat hari sudah malam,” ucap Carol menyapa kedua orang tuanya itu.


“Ehm Mama ingin mengundangmu dalam acara tahunan keluarga,” ucap Neymi pada Carol yang kini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan ibunya itu.


“Mama tadi juga tidak sengaja melihat gaun yang begitu indah. Jadi mama membelikannya untuk Queena dan Dewi,” ucap Neymi yang kini sontak membuat Queena memelototkan matanya karena terlalu senang mendengar ucapan neneknya itu.


Queena membuka kotak nya satu persatu. Hingga matanya langsung jatuh pada pesona sebuah gaun berwarna merah yang begitu indah.


“Aku akan mengambil yang ini,” ucap Queena dengan senyumannya.


“Biar Daddy lihat,” ucap Carol sambil menengadahkan tanganya meminta gaun milik Queena. Queena dengan senyumannya langsung memberikannya pada ayahnya itu yang langsung memeriksa gaun milik Queena.


“Simpan lah,” ucap Carol yang membuat Queena menjawabnya dengan anggukan.


Setelahnya Carol juga memeriksa gaun milik Dewi memastikan jika gaun itu aman untuk anak-anaknya.

__ADS_1


“Dimana Dewi dan Dhisi?” tanya Neymi saat tak melihat keberadaan cucu dan menantunya.


“Ke rumah orang tua Dhisi,” jawab Carol pada kedua orang tuanya itu yang kini menjawabnya dengan anggukan.


“Kau tak pergi?” tanya Maco yang sebenarnya sudah mengetahui jawabannya namun pada akhirnya ia tetap menanyakannya.


“Tidak. Aku tak bisa meninggalkan Queena sendiri,” jawab Carol yang kini membuat Maco hanya mengangguk dengan senyuman getir nya.


“Tadi saat oma dan opa datang. Kau sudah berada di depan. Kemana kau akan pergi sayang?” tanya Neymi yang kini membuat Queena memelototkan matanya saat mendengar neneknya itu malah menanyakan hal tersebut di depan ayahnya.


Mendengar pertanyaan ibunya itu Carol langsung melihat Queena dengan tatapan tajamnya yang membuat Queena kini menggigit bibir bagian dalamnya karena merasa begitu gugup.


“Ehm aku hanya ingin mencari udara dingin di depan,” ucap Queena dengan gugup dan Carol dapat melihatnya dengan begitu jelas mengingat anaknya itu memang tak pandai berbohong.


“Kau ingin membohongi Daddy?” tanya Carol dengan begitu tajamnya yang membuat Queena langsung menunduk dalam.


“Benar Dad,” kesal Queena dengan takut.


“Hey sudah lah,” ucap Neymi yang kini melerai pertengkaran tersebut.


“Jangan keluar saat malam hari tanpa izin pada Daddy mu, Queen,” ucap Maco memberikan pengertian pada cucu nya yang satu itu. Queena akhirnya hanya bisa menjawabnya dengan anggukan.


Hingga tak lama seorang pelayan datang untuk membawakan minuman untuk majikannya itu. Hingga selanjutnya mereka melanjutkan pembicaraan mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2