
Senyuman Queena sedari tadi tak pernah luntur dari wajahnya memandangi sebuah cincin yang kini melingkah di jari manisnya itu. Ia masih tak percaya jika laki-laki yang selama ini ia cntai dan ia perjuangkan sendiri pada akhirnya akan menjadi tunangannya.
“Ah Queena masih gak nyangka kak Arsen akhirnya jadi tunangan Queena,” ucap Queena dengan senyumannya yang mengembang dengan begitu lebar nya.
Kini ia sudah siap dengan seragam sekolah nya. Namun bukannya segera turun untuk sarapan kini Queena masih saja fokus dengan cincin yang kini melingkar di jari manisnya dengan begitu sempurna itu.
Hingga suara ketukan pintu di luar kamar nya mengganggu lamunan Queena.
“Queena. Sudah selesai belum nak? Arsen sudah nunggu di bawah,” ucap suara di luar sana yang tak lain adalah Dhisi.
Mendengar suara Dhisi, Queena menghembuskan nafasnya kasar sepertinya kini ia memang harus mulai memaafkan Dhisi. Lagi pula seperti yang sudah Arsen katakan. Dhisi sudah menyesalinya. Ia juga tak ingin Mommy nya menganggapnya sebagai gadis jahat.
“Iya, Ma. Bentar,” ucap Queena dari dalam kamar nya yang cukup membuat Dhisi terkejut mendengar jawaban Queena yang di luar dugaan nya. Ia pikir Queena tak akan menjawabnya atau malah marah pada nya. Namun kini Queena malah menjawabnya dengan begitu lembut.
Belum selesai dengan keterkejutannya. Kini ia juga dibuat terkejut saat Queena yang keluar dari kamar nya langsung menggandeng tangan Dhisi.
“Ayo Ma, kenapa cuma bengong doang?” tanya Queena pada Dhisi dengan senyumannya yang membuat Dhisi kini membalas senyumannya sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah nya mereka segera turun bersama menuju ruang makan. Saat sampai di ruang makan, Queena yang kini dibuat terkejut dengan keberadaan Arsen di sana. Kini laki-laki tersebut bahkan sudah duduk di tempat nya yang berada di depan Dhisi.
“Kak Arsen?!” tanya Queena dengan tatapan bingung nya melihat keberadaan Arsen yang kini sudah ada sarapan di depannya dan memakannya dengan begitu tenang.
“Duduk Queen,” ucap Carol mengalihkan perhatian anaknya itu hingga akhirnya Queena segera duduk di tempat nya begitupun dengan Dhisi.
Pelayan segera menyiapkan sarapan Queena, namun Dhisi melarang nya agar ia yang menyiapkannya sendiri sarapan untuk anaknya itu. Carol yang melihat hal itu menaikkan sebelah alisnya hingga ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat anaknya yang sudah berbaikan dengan Dhisi. Sepertinya pengaruh Arsen memang besar untuk anaknya itu.
__ADS_1
Setelah nya mereka dengan tenang, namun berbeda dengan Dewi yang kini terus saja menatap Queena dengan tajam. Hingga yang lebih dulu selesai dengan makanannya segera berpamitan pada kedua orang tuanya itu.
“Udah?” tanya Arsen pada Queena yang sudah selesai menghabiskan sarapannya. Queena menjawabnya dengan anggukan.
Hingga setelah nya mereka segera berpamitan kepada kedua orang tua Queena. Dari sana Arsen dapat melihat perbedaan cara berpamitan antara Queena dan Dewi. Jika Dewi hanya menyalami tangan ayahnya maka Queena juga mencium pipi ayah nya itu.
Setelahnya mereka segera pergi dari rumah Queena. Tangan Queena kini merangkul lengan Arsen dengan begitu erat seolah tak ingin melepaskannya. Arsen yang melihat hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadis nya itu.
Di dalam mobil kini berganti Arsen yang terus saja menggenggam tangan Queena, membawa tangan gadis itu di pahanya. Queena sendiri kini terlalu fokus melihat cincin miliknya. Senyuman gadis itu tak pernah luntur dan Arsen dapat melihat nya dengan jelas.
“Di liatin mulu tuh cincin,” ucap Arsen pada Queena yang kini langsung menoleh ke arah Arsen dengan cengirannya.
“Bagus soalnya,” ucap Queena dengan cengirannya yang membuat Arsen terkekeh mendengar ucapan Queena.
“Lagi pengen aja,” ucap Arsen yang setelahnya hanya Queena balas dengan anggukan.
Hingga tak lama mereka akhirnya sampai di parkiran sekolah. Queena masih saja terdiam di tempat nya tanpa berniat untuk keluar dari mobilnya. Arsen yang melihat itu menaikkan sebelah alisnya bingung.
“Kenapa belum turun?” tanya Arsen yang kini sudah berada di luar mobil namun belum menutup pintu mobilnya.
“Nunggu kak Arsen bukain pintu nya,” ucap Queena dengan cengirannya yang membuat Arsen menggelengkan kepalanya mendengar hal tersebut.
“Turun cepat, gak usah manja,” ucap Arsen yang kini sudah menutup pintunya dengan keras. Lalu meninggalkan Queena yang masih berada di dalam mobilnya. Queena yang melihat hal tersebut bahkan dibuat melongo melihat nya.
“Masa romantis nya exspayet kayaknya,” dengus Queena yang kini akhirnya langsung turun dari mobil Arsen. Arsen yang belum-belum pergi dari sana dan melihat Queena yang keluar dari mobilnya dengan kesal terlihat begitu menggemaskan bagi Arsen.
__ADS_1
Tatapan terkejut juga pensaran kini dapat Queena lihat dari banyak orang yang melihat nya saat Queena turun dari mobil Arsen. Bisa Queena tebak jika kini mereka bertanya-tanya tentang hubungan Arsen dan Queena atau mereka malah sedang menghina Queena. Namun gadis itu sama sekali tidak peduli dan memilih berjalan cepat mencari Arsen.
Saat baru keluar dari parkiran, ternyata Arsen berada di sana bersama dengan kedua sahabatnya. Queena segera menghampirinya dengan wajah cemberut nya.
“Kenapa btuh muka Queen? Masih pagi udah cemberut aja?” tanya Edsel pada Queena yang sama sekali tidak Queena pedulikan. Tatapannya kini hanya fokus menatap Arsen dengan tatapan kesalnya yang membuat Arsen terkekeh melihat nya.
Sebuah kejadian langkah yang kini membuat kedua sahabatnya terkejut sekali penasaran melihat apa yang terjadi di depannya. Karena jelas ia tahu Arsen tak akan bertingkah seperti itu pada seorang gadis. Namun setelah mengingat pernyataan Arsen jika ia menyukai Queena bagi sahabat Arsen kini semua begitu jelas.
Namun berbeda dengan para murid lainnya yang kini juga melihat nya tak kalah terkejut namun juga penasaran dengan hubungan mereka.
Arsen mengelus puncak kepala Queena yang kini malah semakin membuat para murid menyimpulkan sendiri tentang hubungan mereka.
“Udah gak usah ngambek, nanti aku bukain,” ucap Arsen pada Queena dengan senyumannya yang membuat Queena menghembuskan nafasnya kasar.
“Udah lah, aku mau ke kelas aja,” ucap Queena dengan kekesalannya.
“Aku anterin,” ucap Arsen lalu merangkul pundak Queena dengan begitu lembut nya lalu segera pergi dari sana dengan wajah kesal Queena.
Sebuah pemandangan langkah yang harus di abadikan. Bahkan kini Panca sudah mengeluarkan ponselnya untuk memotret pasangan tersebut.
“Serasi banget,” ucap Edsel dengan senyumannya melihat pemandangan di depannya itu.
Panca juga menjawabnya dengan anggukan. Sebentar lagi berita heboh pasti akan tersebar begitu cepat. Mengingat sekolah mereka tak hanya memiliki akun gosip namun juga grup sekolah yang bisa menyebarkan info dengan begitu cepat.
***
__ADS_1